5 Jam pertama di Tokyo

Jadi beberapa hari yang lalu saya harus mengurus sesuatu di Tokyo. Kenapa harus di Tokyo? Ya, karena memang hanya bisa diurus di sana *nggak menjawab*. Awalnya mau saya bablasin sampai sabtu dengan bikin planning jalan-jalan di prefektur sekitar Tokyo, seperti Tochigi, Chiba, Ibaraki, dan Saitama *kemaruk*. Tapi beberapa minggu sebelum berangkat, saya galau buat jalan-jalan karena bertepatan dengan Ramadhan. Ditambah lagi beberapa hari sebelum berangkat, ternyata ada report dadakan yang waktu pengumpulannya mepet banget. Akhirnya diputuskan lah kalau cukup ke Tokyo buat doing my business terus langsung pulang lagi.

Berhubung dengan bertambahnya jarak maka bertambah pula angka ke-tidak pasti-an, akhirnya demi menghindari rush hour (you know, rush hour in Tokyo is… *tak terungkapkan dengan kata-kata*) akhirnya saya memilih menginap sehari sebelum saja. Dan demi bisa sahur dan shalat subuh dengan tenang, instead of bus malam saya pilih penerbangan sore saja. Lagi pula, dengan adanya LCC sejenis Skymark atau Peach, harga tiket bus malam dan pesawat tidak beda jauh dong. Jadi ya sudahlah, PP dengan pesawat saja.

Masalah baru pun muncul saat harus memutuskan menginap di mana. Berhubung urusan saya di daerah Roppongi, jadi saya mencari yang di sekitaran Roppongi dong, ya. Ealah… tampaknya Roppongi ini daerah bisnis nan elit which harga capsule hotel-nya aja serupa dengan hotel bintang tiga di Bali. Hiks… Dan akhirnya saya pun beralih ke internet café yang juga disekitaran Roppongi. And guess what, bahkan night pack di internet café pun sama dengan business hotel di Toyama. Oh Tokyo, why you so tega lah?

Saya pun menurunkan standard. Ya udah deh, tidak di Roppongi juga tidak apa-apa.  Yang penting aksesnya gampang dan dengan perjalanan tidak lebih dari 1 jam. Akhirnya setelah searching sana-sini dapat lah di daerah Asakusa. Lumayan, capsule hotel dua-ribuan yen saja. Hahaha.

Transportasi beres, akomodasi beres, tinggal go show pas hari H.

Saya berangkat dengan Skymark dari Kobe ke Haneda. Setibanya di Haneda, pelajaran pertama saya adalah, search juga tentang moda transportasi yang akan digunakan selama di sana. Kalau kemana-mana naik Metro, mending beli paket 24 jam 600yen norihodai! (bebas naik turun subway selama masih Tokyo Metro). Sebenarnya saya sudah tahu ada karcis model begini. Tapi waktu itu saya pikir bentuknya one day pass dan berhubung saya tibanya sore, rasanya kok bakal rugi. Ya salah sendiri juga sih, kenapa pas di vending machine malah langsung beli Pasmo (pre-paid card) bukannya mengecek dulu. Heuheu. Pelajaran ini juga baru saya peroleh keesokan harinya sih saat sudah 18 jam di Tokyo, akan mengisi ulang Pasmo, dan iseng-iseng mengutak-atik ticket vending machine. Yasudahlah ya… rejekinya Metro emang. Hahahaha.

IMG_9727[1]

Rainy day in Kobe

Dari Haneda, saya menggunakan Keisei Line ke Shinagawa dan dilanjutkan dengan transfer ke JR Yamanote Line ke Uguisudani (satu stasiun setelah Ueno *bukan tempat tinggalnya Ueno Juri* *maaf garing*). Dan bersyukurnya saya pilih di sini, karena ternyata letaknya di daerah pemukiman penduduk gitu, jadi bisa melihat sisi lain dari Tokyo. Yah, awalnya saya sempat berpikir, Tokyo itu kan dihuni oleh 34juta penduduk (based on Wikipedia) dan dua kali saya ke sana sebelumnya, dua-duanya hanya beredar di tempat-tempat keramaian seperti stasiun, pusat perbelanjaan, atau taman yang besar (seperti Yoyogi Park atau taman di dekat stasiun Ikebukuro yang pas saya lewati sedang ada panggung penampilan idol Jepang yang unyu-unyu bergembira, gitu deh). Jadi saya berkesimpulan sepertinya warga Tokyo sehari-harinya kalau sedang tidak beredar di tempat umum, banyakan berada di dalam ruangan, entah itu di dalam rumah atau perkantoran.

IMG_9729[1]

Capsule hotel of Female Dormitory in 1 Night 1980 Hostel

Eh, ternyata melewati pemukiman, terlihat bahwa, warga Tokyo ya sama saja seperti warga di kampung saya yang kalau sore-sore saat matahari sudah tidak terik pada bersosialisai di luar. Bedanya mungkin mereka sosialisasinya dengan mengikut sertakan anjing-anjing mereka (literally anjing, ya… bukan swearing. Hehehe). Anjing-anjing itu sudah default-nya harus diajak jalan-jalan sehari sekali agar tidak rewel di rumah. Hahaha.

Warga yang sudah mengajak anjingnya jalan-jalan, saat itu berkumpul di taman kecil sambil ngobrol-ngobrol tentang anjing mereka (dari hasil nguping sekilas😛 ). Anak-anak juga bermain di taman tersebut dan ada pula yang bersepeda sambil yang lain berlari-larian. Bahkan ada paman-paman (usianya sekitar 50 tahunan lah) yang masih dengan apron (mungkin koki kedai ramen) yang bermain catch ball di jalan di depan kedai ramen-nya. Iya, DI JALAN. Jalannya kecil sih, paling lebarnya hanya 2 meter. Tapi itu sesuatu yang tidak pernah saya lihat dilakukan oleh orang Jepang. Yah, stereotype-nya orang sini kan, akan melakukan sesuatu sesuai aturan dan di tempat yang sesuai. Hahaha.

Dan contradict dengan tulisan saya yang ini, diperjalanan menuju penginapan ini juga saya melihat ada anak-anak yang jatuh saat berlari dan kemudian ada mbak-mbak kantoran yang lewat bertanya dengan nada khawatir sambil merogoh-rogoh tas-nya. Saya yakin sih sedang mencari band aid, masa iya nyari duit? *maap, garing lagi*. Wah, melihatnya hati saya menjadi hangat.

Setibanya di penginapan, dan sejujurnya baru pertama kali menginap di capsule hotel (yang sepertinya lebih baik dibuat tulisan terpisah saja :P), saya pun langsung bersiap-siap berangkat untuk mencari masjid terdekat. Dari googling sih ada mesjid dengan jarak 1.7km, jalan kaki kecepatan normal tidak sampai 20 menit lah… Jadi saya pun memutuskan untuk menuju masjid tersebut.

Dan setelah tadinya melewati pemukiman penduduk, kali ini saya melewati daerah lokalisasi. Hauuu. Tapi ya sudah lah ya. Masih sore ini. Yang terlihat juga hanya satu-dua orang pria berpenampilan rapi yang berjaga di depan pintu. Kenapa saya tahu itu tempat lokalisasi? Ya, kan ada tulisannya. Hehehe. Tempat-tempatnya tertutup sih, jadi di dalamnya bagaimana saya juga tidak tahu. Tapi di depan masing-masing “toko” tertulis tarif masuk dan tarif per-waktu *mulai dari 45-120 menit, yang berkisar antara 12000 sampai 50000 yen. Wow, hiburang orang dewasa itu mahal ya… :p

Berbekalkan google map, akhirnya saya menemukan masjid Asakusa. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.36 atau 16 menit lagi azan magrib akan berkumandang (pada saat itu). Tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan di depan masjid yang berupa ruko dengan tiga lantai tersebut. Semuanya tampak gelap. Saya jadi keder sendiri. Untungnya, kemudian ada mas-mas berwajah timur tengah yang akhirnya datang. Beliau menunjuki saya tempat shalat untuk perempuan. Sayangnya, saat masuk ke sana lagi-lagi tidak ada siapa-siapa dan lampu pun belum dinyalakan. Saya pun keder lagi. Duh, gimana ya? Mana nggak punya apa-apa buat berbuka lagi, pikir saya saat itu.

IMG_9731[1]

Trying to find Halal Food in Nakamise, Asakusa

Akhirnya saya tanya-tanya ke warga Indonesia di Tokyo, kira-kira di masjid dekat stasiun Shin-Okubo, yang saya pernah shalat di sana sebelumnya, mengadakan shalat tarawih berjamaah atau tidak. Atau di SRIT (Sekolah Republik Indonesia Tokyo) ada tarawih tiap malam (Iya, saya baru ingat tentang SRIT saat itu -_-“). Dan ternyata selain Shin-Okubo atau di SRIT, ada masjid di Okachimachi yang jaraknya lebih dekat dengan tempat saya berada saat itu. Dan setelah mencari makanan halal untuk berbuka (Alhamdulillah-nya, Asakusa memang cukup terkenal sebagai daerah wisata jadi terdapat beberapa restoran yang menyediakan menu halal atau muslim friendly), saya pun menuju masjid Okachimachi.

IMG_9733[1]

Halal spicy chicken ramen at Ippin Asakusa *fotonya nggak fokus* *jarang foto makanan* *biasanya lupa karena keburu lapar* *ini tumben inget* *tapi blur* *lol*

Setibanya di sana dengan waktu magrib yang sudah mepet, akhirnya saya baru shalat. Saat itu entah kenapa rasanya ingin menangis. Saya jadi merasa kejadian saya berputar-putar mencari tempat ibadah itu sebagai akibat karena saya tidak menyambung silaturahim dengan warga Indonesia yang di Tokyo. Pertimbangannya waktu itu karena tidak ingin menyusahkan dengan menumpang menginap (seriously, inap-menginap ini harus dibuat postingan tersendiri, lah… hehehhe…). Padahal ada banyak cara menyambung silaturahim, kan ya. Bahkan dengan mengabari kalau akan mampir ke kota mereka pun merupakan bentuk menyambung silaturahim, yang insyaAllah akan Allah lapangkan jalan dan urusan kita, meski hanya dengan sebentuk informasi. Setidaknya, saya jadi bisa mencari penginapan di sekitar atau yang memungkinkan ke SRIT (karena SRIT letaknya di Meguro which is masuk sebagai wilayah perumahan termahal se-Jepang. Bahkan Kimutaku pun tinggalnya di Meguro *informasi sangat penting :p). Mungkin itulah salah satu hikmah dari perjalanan. Faktor ke-tidak pasti-an yang tinggi menjadikan kita lebih dekat pada ilahi. *sengaja biar berima😉

Tulisan ini sebenarnya awalnya berjudul 29 jam di Tokyo, karena memang saya berada di sana selama kurang lebih 29 jam. Tapi belum seperempat hari saja tulisan ini sudah sepanjang ini. Jadi, cukuplah dijadikan cerita lima jam pertama-nya saja😛. Dan kalau dipikir-pikir, saya belum seperempat hari di Tokyo, tapi sudah mendapat banyak sekali pelajaran. Hmmm… Di negara mana pun itu, ibukota memang luar biasa, ya!🙂

8 responses to this post.

  1. Kangen asakusa.. Tia nginep di dkt station tsukuba ekspress per malam 350rb. Cakep kok kamarnya. Tia jg naek Keisei dulu. Ahhh kangen kesana lagi. Doain ya jadi kesana thn depan..
    Tia jg sempat merasakan tuh rush hour di tokyo tp alhamdulillah kmren ga masalah.

    Reply

  2. Ibukota itu kayak magnet y! Bikin semua org pengen datang

    Reply

  3. selalu suka Tokyo sbnrnya Jejepangan sih makanya namaku Aiko hahahah

    Reply

  4. […] « 5 Jam pertama di Tokyo […]

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: