Kartu Kredit

Sejak lahir sampai lulus kuliah dan kerja di Bandung, saya nggak pernah kenal sama yang namanya kartu kredit. Selain karena orang tua dua-duanya nggak pakai, saya sendiri juga nggak pernah tertarik buat punya kartu kredit. Alasannya, yah… karena emang bukan tipikal yang doyan belanja nor wisata kuliner, jadi belanja ya seperlunya aja dan masih bisa pakai cash atau debit ini sih ya…

Selain itu, yang bikin saya nggak rela menggunakan CC even setelah bekerja adalah BIAYA TAHUNAN. Saya kurang tau berapa, tapi denger-denger bisa sampai 600 ribu IDR/tahun ya? Ya ampuun… itu kan sama dengan kiriman bulanan dari ortu pas awal masuk kuliah dulu. Dan meski jaman sekarang uang segitu nilainya mungkin cuma jadi setengah dari saat itu, tetap saja masih bisa dipakai buat jajan bubur ayam 20 kali, kali ya? Tambah ogah lah saya punya CC. Belanja nggak seberapa, tapi kok harus ngeluarin duit segitu tiap tahun *medit mode ON*.

Terus kalau pulang mudik, beli tiketnya gimana, cha? Alhamdulillah ya, masih ada jasa tours and travel yang menjual tiket. Saya kurang tau sih bedanya berapa antara beli online langsung dari maskapainya dibandingkan dengan menggunakan jasa tours and travel. Tapi saat itu dipikir-pikir ya udah deh… saya mudik juga cuma setahun sekali ini. Dan berlanjutlah saya hidup tanpa CC sampai dua tahun bekerja.

Sampai di Jepang, awalnya masih nggak kepikiran punya CC. Kalau belanja OL bisa bayar di kombini alias convenience store. Begitu juga untuk beli tiket bus atau pesawat. Pokoknya namanya aja convenience store, tentu saja membuat hidup menjadi sangat convenience. Lagi pula saat itu saya belum tau nasib saya akan bagaimana jadinya terkait dengan ujian masuk. Ntar baru bikin CC, terus saya nggak lulus ujian masuk, jadi harus repot mengurus tutup CC-nya dong. Jadi, sampai satu setengah tahun hidup di Jepang pun saya nggak punya CC.

Segalanya berubah saat suatu hari selesai main ke Seoul dan sekitarnya (cuma nambah Daejeon doing sih sebenarnya… haha…), ternyata di Incheon, bawaan saya berlebih 1kg dan harus bayar biaya tambahan sebesar 3000 JPY. Yang nggak asik, petugas bandara sana nggak terima uang cash. Jadi cuma mau CC. Mau ditinggal, saya juga bingung apa yang bisa ditinggal. Wong isinya sebenarnya cuma baju dan Pepero. Hahaha. Pas berangkat dulu nggak dicek sih, jadi bisa lolos. Untung saja akhirnya ada teman yang bisa dipinjami CCnya dan selamat lah saya kembali sampai Kansai.

Dan terpikirlah saya untuk buka rekening bank yang sekaligus menyediakan jasa pembayaran CC. Yang membuat saya tambah tertarik lagi, kalau dalam setahun saya belanja dengan CC tersebut sekali saja walaupun hanya seharga permen, maka saya bebas dari kewajiban membayar biaya tahunan. Nah, kalau gini kan enak tuh, CC jadi beneran berfungsi sebagai pembayaran saat lupa membawa uang tunai, which is saya sering banget begini, tanpa sadar ternyata isi dompet tinggal 1000 yen yang bahkan untuk sekali diner di resto halal pun nggak cukup. Haha.

Bukan CC saya. Haha.

Bukan CC saya. Haha. Fig’s taken from here.

Salah satu yang menarik dari perbankan di Jepang adalah tidak adanya biaya administrasi baik untuk ATM maupun kartu kreditnya. Jadi uang yang kita simpan tidak akan berkurang. Meskipun penambahan bunganya sendiri sepertinya kurang dari 0.01% yang mana butuh duit berjuta-juta yen buat ngerasain manfaat bunganya. Ya keleus saya punya duit segitu. Haha. Lagian menghindari riba juga sih ya… So, who needs it, anyway!

Setelah melalui pertimbangan yang lebih banyak untungnya (simple, nggak perlu bawa cash, kalau belanja pas mudik juga nggak usah repot-repot tukar dulu, plus nggak ada biaya administrasi) dari pada ruginya, plus alhamdulillah saat itu sudah lulus ujian masuk juga, akhirnya saya pun punya kartu kredit. Hoho.

Terus setelah dua tahun memegang CC, gimana perkembangan keuangan, cha? Hmm… mungkin karena dari kecil sudah dididik untuk think twice before decide, jadi ya nggak terlalu ngaruh juga sih. Toh kalau mau belanja sesuatu pertimbangannya bisa berhari-hari *lebay*. Kira-kira ini butuh atau cuma pengen? Terus kalau dibeli bakal bikin ribet nggak di masa depan. Dan seringnya berujung, nggak jadi beli deh… Hahaha…

Kalau pun sejak pindah dari dormitory saya sulit menabung itu lebih karena uang sewa apato-nya yang 8 kali harga kamar dorm sih ya… dan nggak bisa perpanjang tinggal di dorm kalau sudah satu tahun. Eh tapi, saya juga nggak pengen terus di dorm sih, benernya… hehehe…

Kalau balik ke Indonesia, saya masih belum memutuskan sih mau kembali tak ber-CC atau gimana. Tergantung sikon pas kembali ke tanah air tentunya. Tapi, InsyaAllah akan diputuskan setelah analisis “SWOT dari memiliki atau tidak memiliki CC di tanah air”, dong ya… Hahaha..

Ya sudahlah, untuk saat ini nikmati dan syukuri saja apa yang ada, dan semoga tetap bisa think many times before decide to belanja. Takutnya malah jinx terus jadi kalap! Hahaha.

4 responses to this post.

  1. Penting juga sih CC ini emang apalagi kalo traveling. Aku sempet hampir nutup semua CC setelah nikah ehhhhh ternyata pas mau beli tiket ol kan harus pake CC. Bingung hahah

    Reply

  2. aku belum pernah punya CC. Pas mau beli buku di amazon, dll agak susah juga ya kalo ga punya itu

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: