Ramadhan ke-4

…di Kobe. Udah hari terakhir aja. Dan udah melebihi bang Toyib yang nggak pulang tiga kali lebaran. Saya pulang ding, bukan saat Ramadhan tapi. Hehe. Terus, terus, gimana Ramadhannya? Kalau Ramadhan pertama saya “bergulat” dengan ujian masuk, Ramadhan kedua masih “bergulat” dengan ujian masuk. Saking “jungkir-balik”nya *lebay* sampai nggak dibikin postingan-nya *bilang aja males, cha! ~_~”*. Ramadhan ketiga alhamdulillah nggak pusing sama ujian masuk lagi. Tapi kalau nggak salah Ramadhan yang ini saya turun BBnya malah paling ekstrim. 6kg, bo! Setelah lebaran naik lagi sih 3kg. Hehe. Dan saat ini pas Ramadhan ke empat, saya “bergulat” lagi deh.. Kali ini dengan tesis. Dan seperti halnya kebanyakan orang Jepang lainnya, pak guru saya tipikal perfeksionis yang bakal nge-geber hingga detik-detik terakhir. Yah, kita ikutin aja lah ya… InsyaAllah akan bermanfaat bagi saya sendiri juga. Hihi.

Jadi apa bedanya Ramadhan di Jepang sama di Indonesia? Jawabannya, tentu aja beda lah ya… mau di pandang dari sudut mana pun itu. Sebagai minoritas ya tahu diri saja kalau pas puasa yang lain pada makan, minum, dll. Lah mereka-nya juga nggak ngeh-ngeh amat kalau ada yang lagi puasa. Dan udah umur segini juga kok kayaknya cetek banget kalau sampai batal gara-gara yang lain nggak pada puasa. Hehe.

Shaum tahun ini di negara ber-garis lintang utara, tentu saja siang lebih panjang dari pada malam. Nggak sampai yang ekstrim-ekstrim banget sih. Bedanya masih 3-4 jam lebih lama daripada di Indonesia. Tapi, beneran kok, Allah menciptakan manusia dengan kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Kalau hanya beda 3-4 jam, insyaAllah bukan masalah besar. Nggak tau sih ya gimana yang puasanya nyampe 20an jam. Belum pernah ngerasain. Hehe.

Ramadhan ke-4 ini juga sepertinya badan saya sudah mulai terbiasa. Terbiasa dengan bangun siang maksudnya. Hahaha. Seenggaknya lebih teratur lah… Teratur tidur satu jam sebelum sahur, plus tidur lagi dua jam setelah sahur sampai jam 9 pagi😛

Beruntungnya, lab saya nggak terlalu ketat soal waktu kehadiran, asal kewajiban beres aja, nggak datang juga paling ntar ditanyain sama Pak guru, nggak akan yang dimarah-marahin gitu (atau dimarahin, tapi saya-nya aja yang nggak ngeh, kali ya? Hahaha).

Ramadhan kali ini dimulai saat musim panas juga baru mulai. Dan seperti setiap tahunnya, musim panas di Jepang ditandai dengan musim penghujan, jadi alhamdulillah masih belum panas bagaikan sauna. Baru belakangan ini aja kelembabannya mencapai 90an % dan bikin saya males pulang karena di lab ada ACnya. Di apato (kosan) sendiri juga ada sih, tapi lumayan kan buat penghematan biaya listrik. Muhaha.

Ramadhan kali ini, saya juga tidak taraweh di Mesjid. Taraweh ding kemarin, pas hari terakhir. Hehe. Kalau ditanya kenapa, banyak sih alasannya, dan memang hanya akan jadi sekadar alasan yang nggak perlu dijelaskan karena memang hanya alasan *halah bahasanya*.

Ramadhan kali ini, insyaAllah akan berakhir hari ini. Dan seperti biasa KJRI Osaka alhamdulillah masih berbaik hati menyewakan hall untuk masyarakat Indonesia di sekitar Kansai, plus biasanya juga ada penganan khas Indonesia saat lebaran. Alhamdulillah ya buat pengobat rindu berlebaran di tanah air.

Yah, akhir kata hanya bisa mengucapkan selamat tinggal Ramadhan 1436H. Semoga masih diberi kesempatan bertemu kembali dan semoga ibadah kita diterima Allah SWT. Aamiin Yaa Rabb..

One response to this post.

  1. Met lebaran icha.. si ehem ehem ngasih apa nih buat lebaran? dia ga ikutan puasa? hahaha

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: