9th. Sebagai Minoritas

Udah hampir dua bulan berlalu di tahun 2015 ya boo… Dan ini blog makin nggak keurus aja. Pengennya sih nyelesein 30 (nonconsecutive) days blog writing challenge-nya, tapi nonconsecutive-nya udah keterlaluan, malu euy buat ngelanjutin. Hiks. Jadi ya sudahlah, tag “30 days blog writing challenge”-nya nggak usah dipakai lagi aja. Tapi tetap diberi nomor deh. Anggap saja jadi “30 stories about Japan of Hicha”. Huehehe.

Nah, dari judulnya mungkin sudah bisa ditebak kali ya, tulisan ini tentang apa. Tapi kali ini saya belum ingin menuliskan tentang bagaimana tinggal di Jepang sebagai muslim yang masih minoritas. Untuk itu kali lain mungkin akan saya ceritakan. 

Beberapa saat yang lalu mungkin yang melihat berita, pada tahu ya tentang warga Jepang yang disandera kelompok yang tidak akan saya tuliskan di sini tapi membawa nama agama yang saya anut sebagai nama kelompoknya. Dan sejujurnya, hal itu yang bikin saya kesal setengah hidup (ogah mati karena mereka). Iya, kenapa harus bawa-bawa nama agama? Coba beri saya satu dalil saja yang memerintahkan untuk menyandera, meminta tebusan, dan kemudian membunuh orang yang tidak bersalah. Memangnya ada gitu?

Meski Perdana Menteri Jepang sudah menegaskan bahwa kelompok tersebut bukan agama tersebut (bingung ya? Yah, pokoknya dalam bahasa sini, nama kelompok tersebut disebut sebagai “Negara Islam” dan PM Abe menjelaskan bahwa “Negara Islam” tidak sama dengan “Agama Islam”), tapi tetap saja itu membuat saya dan muslim lain yang tinggal di sini gerah. Bagaimana tidak, sebagai negara yang sangat sekuler dengan banyaknya penduduk yang tidak beragama, Pemerintah dan masyarakat sini sudah sangat baik dan open terhadap masyarakat muslim. Sudah cukup banyak fasilitas seperti ruang shalat di tempat umum seperti bandara atau pusat perbelanjaan. Dan sudah cukup banyak restoran dan makanan halal mulai diperkenalkan. Salah satu contohnya adalah website ini.

Dan setelah kejadian tersebut apakah perlakuan mereka terhadap muslim berubah? Hmm… Saya tidak tahu bagaimana dengan yang lain, tapi saya pribadi alhamdulillah masih sehat sentosa tidak kekurangan apapun. Perlakuan pak guru dan anggota lab yang lain juga masih sama seperti biasa. Bahkan beberapa hari yang lalu, saat seekor anjing poodle mendekati saya, nenek pemilik poodle tersebut berulang kali minta maaf atas kelakuan anjingnya.

Alhamdulillah masih seperti biasa dan semoga tidak ada lagi kelompok manapun yang mengatasnamakan agama tetapi melakukan tindakan yang bertentangan dengan ajaran agama tersebut dan ikut menjatuhkan nama baik penganutnya yang sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan kelompok tersebut.

Tak bisakah kita hidup berdampingan, damai, sejahtera, sentosa?

7 responses to this post.

  1. susah ya gara2 “sisi” semua jadi runyam dan nama islam makin jelek pdhl gak ada hubungannya kelakuan mereka sama apa yang udah tertera di AL-Qur’an

    Reply

  2. iya kemarin pas di eropa jg rame gara2 kelompok itu … rada horor ama kerudung jd krng nyaman pas menjelajah jauh2 eropa timur😦
    salam kenal yaaa mbak, akhir taon msh di jepang gk yaaa🙂

    Reply

  3. sedih ya, cha… mana rahmatan lil allamin-nya coba…
    tapi mari kita memperkenalkan, bahwa islam itu bukan mereka😉

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: