6th. Cerita Minggu Kemarin

Saya sudah berniat dalam tiga puluh tulisan yang akan saya tulis, satu-dua tulisan akan menceritakan cerita sehari-hari. Dan kali ini saya ingin bercerita tentang minggu lalu. Minggu dimana perpisahan dan pesta perpisahan di mana-mana.

Image

Minggu dimana kuncup sakura mulai bermunculan juga🙂 (foto koleksi pribadi)

Wisuda

Minggu lalu adalah jadwal wisuda Kobe University. Hari senin tanggal 24 Maret 2014, sesi wisuda pertama untuk program doktoral. Saya tidak tahu bagaimana jalannya prosesi acara tersebut, karena memang tidak ikut menghadirinya. Keesokannya, acara untuk program master (atau mungkin program bachelor juga barengan apa ya?) dan acaranya pun dilaksanakan dua kali. Yang pertama di hall di daerah Port Island, dan dilanjutkan di masing-masing fakultas.

Berbeda dengan acara wisuda di Indonesia, wisudawan di Jepang tidak menggunakan toga sebagai “seragam” wisuda. Laki-laki menggunakan setelan jas lengkap sedangkan yang perempuan menggunakan hakama. Untuk wisudawati asing, diperbolehkan menggunakan pakaian kedaerahan masing-masing negara. Orang Indonesia biasanya ikut menggunakan hakama atau kebaya sebagai pakaian yang menunjukkan ciri khas Indonesia tetapi tidak terlalu ribet menggunakannya.

Wisudawan di Lab yang lama. Kurang dua orang karena belum datang dan tidak ada yang memakai toga.

Wisudawan di Lab MH4. Kurang dua orang karena belum datang dan tidak ada yang memakai toga.

Wisudawan di Lab yang baru. Lab-nya lebih kecil jadi senpai-nya juga cuma tiga orang.

Wisudawan di Lab EFS. Lab-nya lebih kecil jadi senpai-nya juga cuma tiga orang.

Saatnya wisuda berarti saatnya perpisahan. Di Jepang, umumnya setahun sebelum lulus, mahasiswa sudah mulai mencari pekerjaan sehingga saat lulus sudah tahu akan bekerja di mana. Dan saat kelulusan, untuk para senpai (senior) tersebut akan disiapkan farewell party oleh para kouhai (junior). Dan tentu saja party means drink ‘till you get drunk.Sampai sekarang saya masih bingung, kenapa bersosialisasi di sini harus identik dengan minum-minum? Emangnya kalau nggak ada minuman nggak bisa senang-senang kah?

Lanjut masih minggu lalu, dihari yang sama dengan wisuda master degree. Sore harinya, saya meninggalkan farewell party lebih awal karena ikut membantu panitia persiapan pemilu. Tugasnya nggak berat sih. Hanya melipat dan memasukkan kertas suara dan tata cara memilih ke dalam amplop. Kebetulan, untuk di Jepang, bagi WNI yang tidak dapat menjangkau TPS yang hanya ada di beberapa tempat terutama tempat yang dekat dengan KBRI atau KJRI, surat suara dikirimkan via surat tercatat. Hasil pilihan juga dikirimkan kembali melalui pos. Bagaimana kalau ada yang ingin curang dan memanipulasi suara? Kemungkinan tersebut akan selalu ada, tapi setidaknya panita telah berusaha dengan susah payah untuk mendesain satu orang hanya akan memiliki satu suara, kok.

Pekerjaan menyiapkan 4200 surat suara tersebut tidak cukup dikerjakan satu hari. Sehingga keesokan siangnya, saat lab sepi (kayaknya masih pada teler gara-gara party sampai pagi), saatnya kabur ke KJRI lagi. Hihihi.

大掃除 a.k.a Gotong Royong

Hari Kamisnya, beda 180 derajat dari kemarinnya. Semua anggota lab sudah datang dari pagi. Bahkan anggota baru (mahasiswa tingkat empat) dan dua orang senpai yang sudah lulus pun ikut hadir demi acara 大掃除 /oosouji alias gotong royong.

Acara oosouji ini biasanya dilakukan dua kali setahun setiap akhir semester. Tapi kadang-kadang saat sebelum libur musim panas atau musim dingin juga dilakukan.

Lunch Bersama Mori Sensei

Dan hari kerja minggu lalu pun ditutup dengan lunch bersama Mori sensei. Sensei ini adalah sensei kelas kebudayaan Jepang untuk mahasiswa pasca sarjana di fakultas Engineering. Setiap akhir tahun, selalu ada jadwal makan siang di luar. Begitu juga tahun ini.

Sebenarnya saya sudah bukan mahasiswa fakultas Engineering lagi. Tapi Mori sensei dengan baik hati menghubungi dan mengajak saya via sms. Sayangnya, saat itu saya sedang pulang ke Indonesia. Berapa kali saya mencoba membalas sms beliau, gagal terus. Huhu. Untung beliau nggak “mutung” saat saya baru membalas setibanya saya di Kobe kembali.

Sensei tersebut mengetahui kalau sebagai seorang muslim, saya tidak bisa memakan daging yang tidak dipotong dengan cara islam dan tidak minum alkohol. Jadi beliau mencarikan restoran yang menu utamanya seafood, menggunakan minyak tumbuhan dan tidak menggunakan alcohol dalam masakannya.

Kami janjian di depan stasiun Hankyu Sannomiya exit timur jam 12:00. Saya sampai di tempat lima menit sebelum janjian. Sensei sudah menunggu pas di depan gate. Tinggal menunggu satu orang lagi mahasiswa doctoral engineering yang berasal dari China.

Sepuluh menit sudah lewat dari waktunya, orang tersebut belum menampakkan batang hidungnya. Sensei akhirnya berinisiatif menelepon dan si orang tersebut mengatakan kalau dia masih di kampus yang waktu tempuh ke tempat janjian ini memakan waktu minimal setengah jam termasuk jalan kaki. Zzzz banget dah…

Akhirnya disepakati kami akan menunggu setengah jam. Empat puluh lima menitberlalu orang tersebut belum juga muncul. Sensei menelepon kembali dan dia mengatakan kalau dia sudah tiba. Entahlah itu tiba di mana karena sepuluh menit kemudian dia belum keluar juga dari pintu keluar stasiun. Saya bilang ke sensei, jangan-jangan tadi itu bukan sampai di Sannomiya tapi di stasiun Rokko (stasiun terdekat dari kampus). Akhirnya beliau pun menelepon kembali. Si orang tersebut mengatakan dia berada dalam kereta yang baru tiba di Sannomiya, sensei pun mengingatkan kalau kami menunggu di exit timur. Entah itu benar atau bohongan, karena setelah lewat beberapa kereta pun orang itu tidak muncul-muncul. Dan itu sudah satu jam lewat dari waktu janjian. Sensei sudah mulai kesal. Dan beberapa kali menelepon restoran yang sudah di-reserve untuk memundurkan waktu kedatangan.

Karena orang yang ditunggu tidak muncul juga, akhirnya sensei menelepon kembali dan orang itu mengatakan kalau dia sudah di gate barat. Mendengar hal itu, sensei pun mencak-mencak “Kamu ini bagaimana, sudah tahu kan kalau kami menunggu di gate timur? Ya sudah, kalau begitu kamu tidak usah ikut saja” dan beliau pun langsung menutup hape flip-nya. Kalau itu telepon rumah, mungkin sudah dibanting seperti adegan sinetron. Meskipun begitu, dalam kondisi marah pun kata-kata yang dipilih tetap menggunakan tatanan bahasa Jepang yang baik dan benar. Marahnya elegan bener deh pokoknya.

Di satu sisi saya kesal juga sih, harus menunggu satu jam padahal perut sudah meraung-raung minta di isi. Lagi pula kok nggak sopan banget bikin orang yang lebih tua (sensei lho itu… udah lebih enam puluh tahun deh kayaknya…). Tapi di sisi lain saya bersyukur karena kemudian sensei mengatakan kalau isu orang China itu terkenal susah menepati janji itu benar adanya. Iya, saya bersyukur karena bukan orang kita yang dianggap demikian. Padahal orang Indonesia kan terkenal suka ngaret juga, kan? Tapi memang sih, menurut saya salah satu kelebihan orang Indonesia adalah cukup pandai beradaptasi. Kalau di Negara orang malah kebanyakan taat aturan dan on time. Hmm…

Tapi memang sih, saya juga sering mendengar kalau orang Jepang kurang suka dengan orang China karena suka seenaknya. Berapa kali saya ke lab atau ketemu teman-teman lab yang lama yang ada mahasiswa China-nya dan dianya nggak keliatan, pasti komen anak-anak yang lain “Biasa… orang China… Suka seenaknya…” Hmm, rasis juga ya. Hehe.

Semoga kita tidak sampai di cap begitu juga ya. Sejujurnya, sampai saat ini kalau janjian sama orang sebangsa sendiri, saya masih suka telat. Terutama kalau janjiannya sama yang suka ngaret juga. Ya iya lah, emang enak gitu, udah cape-cape on time eh orangnya baru muncul satu-dua jam kemudian. Grrr…

Yah, sebenarnya mau janjian sama siapa, tetap harus sesuai janji sih ya. Bahkan sebenarnya dari kecil orang tua saya mengajarkan lebih baik kita yang menunggu daripada membuat orang lain menunggu.

Dan satu hal lagi yang terkadang membuat saya ngaret, selain faktor X yang tidak bisa diprediksi. Hal tersebut adalah kurang niat. Pernah kan ya, ngerasa malas ke suatu tempat dan akhirnya berujung dengan tetap pergi tapi terlambat? Ya ampun, ini hal yang sangat tidak baik. Tapi bingung juga, karena nggak niat yang berujung pada kemalasan itu bukan alasan. Kalau memang tidak mau, kenapa tidak langsung bilang tidak mau saja? Hmm, kalau mau berdalih, mungkin karena di antara ‘mau’ dan ‘tidak mau’ masih terdapat satu hal bernama enggan. Dan bagi kebanyakan orang, dia bisa menoleransi keterlambatan orang yang menyangkut kepentingannya tersebut karena orang itu setengah hati, asalkan kepentingan atau keinginannya tercapai. Bahkan mungkin kita sendiri orang yang seperti itu. Hiks.

Ckckck… Siapa yang bilang ilmu sosial itu gampang?

Sepanjang perjalanan, meski masih kesal sensei berkali-kali minta maaf karena membuat saya menunggu. Padahal yang bikin saya nunggu mah bukan sensei-nya ya. Tapi sudah budayanya sih ya, menjaga perasaan orang lain itu masuk ke dalam prioritas hidup.

Setiba di restoran, setelah memesan makanan, sensei memberi saya banyak hadiah yang sebagian besar berwarna pink dan bermotifkan sakura. Kata beliau karena musim semi identik dengan sakura. Wih, saya jadi nggak enak karena hanya memberi kenang-kenangan yang tidak seberapa harganya. Tapi tahun ini masih mending sih, tahun sebelumnya saya malah tidak membawa apa-apa karena tidak mengerti budayanya. Hihihi.

Kenang-kenangan dari sensei

Kenang-kenangan dari sensei

Setelah makan dan berfoto, saya harus buru-buru kabur karena belum shalat dzuhur. Nggak enak juga sih, udah ditraktir kok malah kabur duluan. Habis mau bagaimana lagi. Lagipula salah satu budaya juga, biasanya orang yang lebih tua yang membayari yang lebih muda. Kalau dilakukan yang sebaliknya, orang tersebut akan tersinggung. Hmm, kalau begitu saya muda terus aja deh. Hihihi.

Sudah makan, sudah kenyang, kesal pun hilang. Foto dulu lah kita ;)

Sudah makan, sudah kenyang, kesal pun hilang. Foto dulu lah kita😉

 

PS: Buat yang Chinese yang bisa bahasa Indonesia (bisa baca tulisan ini maksudnya), atau yang keturunan, jangan tersungging ya… Karena semua mah balik lagi ke pribadinya sih ya, nggak bisa di-generalisasi berdasarkan ras v^^

One response to this post.

  1. Bagus juga ya kalau setahun sebelum lulus sudah bisa mencari dan melamar pekerjaan jadi ketika lulus bisa lebih tenang.

    Serunya sekolah di Jepang, semoga sukses ya…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: