Something Called… Life!

Yeah, it is something. Something that could be either so-so, useful, or even useless. Something that you planned, but God decided. Something that you should pull yourself to the highest one, push to the deepest one, struggle to the hardest one. But, in the end, let’s hope the latest one will be the best one. Yeah, it is something so-called L-I-F-E.

Huah… udah lama juga saya nggak nge-update blog ya. Hmm.. (sok) sibuk euy. Hahaha. Baiklah, setelah beberapa waktu disamarkan, kali ini saya pengen cerita ah. Buat orang lain mungkin biasa aja kali ya. Tapi buat saya cukup bikin hidup tambah “seru” kok. Hihihi.

Jadi mau cerita tentang apa, cha? 

Cerita tentang… yah gitu lah, langsung baca wee..😛

Saya percaya, Tuhan tidak akan memberi cobaan di luar kemampuan hambaNya. Jika cobaan itu terasa berat, itu artinya kemampuan kita terlalu di atas rata-rata untuk diberikan cobaan yang rata-rata. Entahlah, kedengarannya ‘songong’ pisan. Tapi sebenarnya mungkin itu hanyalah a pathetic reason untuk sekadar menghibur diri sendiri. Yah, orang pertama yang bisa menolong dari keterpurukan ya hanya diri sendiri. Mungkin sudah banyak yang bercerita baik lisan maupun tulisan tentang cobaan. Dan maafkan, kali ini pun mungkin saya akan menambahkannya. Though, I’d rather say it ‘tantangan’ than ‘cobaan’. Hehehe.

Back to two years ago, ketika saya ditelepon pihak kedubes yang memberitahu bahwa saya lulus primary screening beasiswa MEXT G-to-G, saya baru kelimpungan mencari supervisor. Waktu itu pertimbangannya, karena belum tau bakal lulus atau tidak.  Kan nggak enak kalau ternyata nggak lulus. Padahal mah nggak masalah juga sih ya. Lumayan juga kan buat memperluas jaringan. Yah, pelajaran kesekian dari berburu beasiswa. Hehe.

Setelah menerima telepon dari pihak kedubes, segeralah perburuan mencari pembimbing dimulai. Kebetulan bidang riset yang saya inginkan itu agak jarang. Jadi saya bingung juga bagaimana cara mencarinya. Sensei yang pertama yang membalas adalah sensei dari Todai, yang isi balasannya mengatakan bahwa beliau sudah tidak di Todai lagi *gubrakk*, berikutnya sensei dari Tokodai, kali ini malah menawarkan paket empat tahun Master-Doctor, kendalanya saat itu, bidang riset beliau lebih ke internal flow. Jadi untuk beberapa saat saya cuekin balasannya. Pas saya akhirnya memutuskan menerima saja tawaran Pak Prof Tokodai, eh gantian saya yang dicuekin. T.T

Akhirnya karena waktu yang semakin mepet, saya kirim saja e-mail ke beberapa sensei yang kira-kira risetnya mirip. Kalau pas awal-awal saya kirim e-mail lengkap dengan resume dkk, kali ini saya putuskan untuk hanya berisikan e-mail biasa tanpa attachment apa-apa. Dan pas sehari sebelum deadline pengembalian berkas-berkas ke kedubes, saya mendapat balasan dari Hosokawa-sensei. dari Dept. of Mech. Engineering Kobe Univ. Beliau mengatakan, beliau bingung saya ini mau-nya apa, kirim e-mail kok nggak jelas. Hauuu.

Setelah minta maaf, saya pun mengirimkan kelengkapan, sejenis resume, research plan, keterangan lulus primary screening, dan syukurnya beliau akhirnya mau menjadi academic supervisor saya, tapi tidak bisa menjamin saya bisa langsung jadi mahasiswa di tempatnya karena saya harus ikut ujian masuk terlebih dahulu.

Waktu itu mikirnya sih, somehow it could be managed later. Yang penting ada kesempatan, jangan disia-siakan. Akhirnya saya setujui saja kalau saya harus ikut ujian untuk jadi mahasiswa master di Kobe Univ.

Setelah tiba, saya cukup menikmati kehidupan di sini. Not to mention, mungkin terlalu menikmati. Mungkin ada yang mengatakan, terkadang belajar di luar itu cukup berat di bulan-bulan awal, Alhamdulillah saya asik-asik saja. Terkendala beberapa hal sih mungkin, but I took it for granted. Dari pada stress mending dibawa enjoy. Dan entah karena terlalu menikmati atau karena Allah pengen bikin hidup saya lebih ‘seru’, akhirnya beberapa bulan berikutnya baru deh ‘jungkir balik’. Heuheu.

Enam bulan pertama diisi dengan belajar bahasa. Yah, bersihnya sih tiga bulan setengah lah.. Pertengahan Juli kelas bahasa Jepang sudah selesai, jadi bisa diisi dengan belajar untuk ujian masuk. Seperti sudah diceritakan sebelumnya, saya belajar bareng anak-anak undergrad yang juga akan ikut entrance exam buat tahun spring 2013.

Sebelumnya udah mulai nyoba ngulang-ngulang kalkulus sih. Tapi, ternyata jauuuuh banget saya ketinggalannya. Untungnya “adek-adek” ini pada sabar mau ngajarin “mbak-mbak” yang rada oon ini. Heu.

Meskipun begitu, ternyata dari tujuh orang member Lab MH4, yang lulus enam orang. Yeap, I was the one who failed. Saya pun patah hati. Sensei saya menyemangati saya dengan mengatakan bahwa saya bisa ikut yang bulan Januari. Saya juga resmi jadi research student di Dept of Mech. Engineering. Iya, sebelumnya status saya Japanese Trainee di International Student Center. Kali ini saya juga dikasih tutor. Tutor-nya anggota lab juga sih, jadi udah kenal dan udah sering ngobrol-ngobrol juga.

Kalau untuk ujian petama, kami belajarnya di gedung lain, karena kali ini yang akan ikut ujian hanya saya sendiri, berarti mau tidak mau saya belajar sendiri. Dan berhubung lab saya itu anggotanya lebih dari dua puluh orang, setenang-tenangnya orang Jepang, tetap saja saya nggak konsen belajar karena melihat orang yang mondar-mandir. Akhirnya saya putuskan untuk belajar di perpustakaan saja. Saya ke lab paling seminggu sekali buat tutorial sama tutor. Itu juga bukan di student room, tempat meja saya berada. Tapi di relaxation room yang biasanya dipakai sebagai ruang makan atau tiduran buat yang lagi kelelahan. Makanya meskipun banyak sofa-nya, di luar jam makan, ruangan itu sepi.

Belajar bareng aja saya susah tekunnya, apalagi ini belajar sendiri ya. Di tambah lagi dengan musim dingin, yang bikin rawan winter blue. Ya ampun, rasanya saat itu nggak pengen keluar dari bawah selimut. Beneran dah, musuh yang paling berat itu adalah diri sendiri! Mau orang jungkir-balik nolong kita, tetap saja kalau dari kita-nya nggak mau menolong diri sendiri ya nggak akan bergerak maju. Yang menjalankan hidup kita ya kita sendiri, kan ya?

Akhirnya setelah struggling empat bulanan melawan diri sendiri, belajar saya kayaknya lumayan ada kemajuan. Kalau diingat pas awal-awal saya baca soal tahun-tahun sebelumnya, yang pas ngelihat versi English-nya bikin mengernyitkan dahi, sekarang saya sudah bisa menikmatinya. Bukan karena sudah bisa, tapi ya cengengesan dan dinikmati sajalah!😛 Masa mau nangis meraung-raung. Ya kali, abis itu pikiran terbuka dan jadi bisa jawab, yang ada malah stress duluan. Kkkkk…

Dan lama-lama emang jadi menikmati sih. Kalau ngeliat soal yang sulit (biasanya yang ngegabung-gabungin materi PDE dalam bentuk complex dan harus diselesaikan dengan menggunakan matriks *naon sih cha*), saya jadi merasa tertantang. Walaupun nggak bisa dibilang bisa juga sih. But, somehow feel excited.

Pas hari-H ujian kedua saya, saya kena flu berat. Etapi, hamper 50% orang Jepang waktu itu kayaknya kena flu deh. Namanya aja lagi musim dingin. Huehehe… Saya aja sampai lupa kalau waktu itu lagi flu, seandainya tutor saya nggak ngingetin, pas latihan interview habis ujian hari pertama itu.

Nggak tau emang tipikalnya perfeksionis (kayaknya nggak juga sih…) atau gimana, yang jelas waktu itu pun saya ngerasa belajarnya belum cukup dan kayaknya nggak akan pernah cukup. Jadi kalau ditanya gimana ujiannya, saya seringnya jawab, nggak tau deh.

Dan kenyataannya, saya nggak lulus lagi.  Kalau yang pertama saya patah hati, yang ini lebih ke kecewa aja sih. Waktu itu mikirnya “yah, nggak bisa belajar bareng anak-anak deh…” Ngga bisa ngambil kelas bareng, diskusi tentang pelajaran bareng, kenkyuukai (lab meeting) bareng. Yeap, saya kecewa.

Tapi life must go on. Supervisor saya menawarkan untuk pindah ke Maritime Science Faculty yang juga punya lab dengan bidang riset mirip. Fakultas tersebut menerima mahasiswa baru di Fall Semester juga. Jadi saya disuruh mencoba ujian masuk di sana.

Sayangnya, ujiannya dalam bahasa Jepang! Wew, dalam bahasa Inggris aja udah dua kali gagal, ini dalam nihongo pula. Waktu itu sih mikirnya, ya sudah lah dicoba saja, nggak ada pilihan lain ini. Going back without graduation was not a choice! 最後までやるわ!

Jadi mulai April tahun ini, saya diperkenalkan dengan Prof. Sou. Beliau ini dulunya juga anggota lab MH4 saat awal-awal berdiri. Mahasiswa Tomiyama-sensei (The big Guru of MH4) kayak Hosokawa-sensei juga. Tapi beberapa tahun terakhir pindah ke Maritime Science Faculty dan punya lab sendiri di sana.

Pas saya datang, Sou-sensei sendiri sepertinya tidak mengira kalau saya juga akan “numpang” belajar di lab beliau. Maklum, biar bagaimana pun, selama saya belum lulus ujian, maka sampai Maret 2014, status saya masih research student di Engineering. Jadi, beliau sepertinya agak kaget juga, ketika kedatangan tiga orang (saya, Hosokawa-sensei, dan seorang senior yang sudah bekerja dan kebetulan datang bareng) dan harus menyediakan tempat untuk saya. Untungnya, ada beberapa meja yang nganggur, jadi saya bisa mendapatkan tempat untuk sementara.

Sejujurnya, instead of terpukul dengan ke-tidak lulusan seperti sebelumnya, kali ini lebih berat dengan kepindahan saya. Entahlah, mungkin karena merasa akan masuk ke jurusan yang beda jauh dari background saya, atau mungkin juga energi saya sudah habis untuk ber”senang-senang” di awal kedatangan. Jadi kali ini saya tidak terlalu bersemangat untuk lebih mengenal suasana lab yang baru. Nggak tau diri bener ya, padahal si saya ini kan cuma orang yang numpang belajar. Harusnya bisa lebih ber-inisiatif. Tapi… yah, pokoknya gitu lah, susah dijelaskan dengan kata-kata *halah*

Mungkin karena itu juga atau mungkin karena orang-orangnya tidak sering mondar-mandir (Ruang eksperimennya terpisah gedung, jadi jarang bolak-balik), saya jadi cukup bisa konsentrasi meski belajar di tempat yang orangnya cukup ramai. Meskipun begitu, still, it’s hard to accept something which is not exactly you want. Memang, yang namanya ikhlas itu bukan cuma untuk memberi, tapi menerima pun kadang harus pakai keikhlasan. Mungkin itu yang namanya bersyukur. Well, in my case it’s called as ‘gave a try’, mencoba ikhlas dan bersyukur. Menn, nggak gampang ternyata, meeennBut, somehow it had to be accomplished!

Kalau dua ujian sebelumnya terdiri atas dua hari; Hari pertama lima subjek: Kalkulus dan Bahasa Inggris, plus tiga subjek pilihan (saya pilih Fluid Mechanic, Thermodynamic, dan Strength of Material), dari jam setengah sepuluh sampai hampir jam lima sore (serius, keluar dari ruangan rasanya pengen muntah2! *lebay*); Hari kedua tersisa Nihongo dan interview. Sedangkan ujian kali ini juga dua hari, tapi hari pertama terdiri dari tiga subjek (yang ketiganya dalam satu paket yang harus diselesaikan dalam waktu dua jam) dan keesokannya interview.

Untuk jenis soal, ujian yang terakhir ini lebih basic dari dua ujian sebelumnya. Tapi, tetap saja saya butuh waktu untuk membaca dan mengerti soal-soal ber-bahasa Jepang tersebut. Hiks. Akhirnya, saya hanya bisa menyelesaikan kurang dari 80% dari yang harus saya selesaikan. Itu juga nggak tau deh bener atau nggak.

Dan entah lagi beruntung atau gimana (yang pasti sih karena kehendak Allah SWT ya… ;)) ), akhirnya kali ini lulus juga *narik napas lega*. Anehnya, pas lihat nomor ujian saya terpampang di papan pengumuman, instead of kegirangan, kok saya malah pengen nangis?? Hauuu…

one and half year to get this

one and half year to get this card

Orang pertama yang saya hubungi, tentu saja ortu. Sayangnya keduanya tidak bisa dihubungi saat itu. Hikss. Akhirnya saya balik ke lab. Meskipun tau bakalan sepi (lagi summer holiday soalnya), tapi entah kenapa kaki ini melangkah ke sana. Dan ternyata memang hanya ada satu orang mahasiswa asing asal Turki yang lagi nungguin hasil iterasi di lab. Saya sampaikan kalau saya lulus, dan dia memberi selamat. Ada cerita menarik sebenarnya tentang mahasiswa ini, tapi ntar aja deh diceritain, kalau inget, lagi ada mood, dan lagi sempat. hmm… kayaknya nggak bakal saya ceritain aja deh.. :p

Berhubung ortu nggak bisa dihubungi via telepon, akhirnya saya nge-LINE ayah aja. Plus tutor juga, yah biar gimana pun dia sudah banyak membantu saya kan ya. Jadi rasanya kok kurang ajar bener kalau ada kabar gembira nggak dikasih tau. Dan nggak lama kemudian “adek” tutor ini menelepon dan memberi selamat. Malamnya, dia juga datang ke rumah bawain jus. “harus dirayakan nih!” katanya. Hadeuu… untung orangnya udah punya pacar, kalau nggak bisa geer juga saya. Hihihi.

Sebulan waktu kosong sambil menunggu, saya pikir beneran senggang, etapi ternyata jatuh-jatuhnya malah sibuk juga, walaupun saya sendiri bingung, sibuk apaan ya waktu itu? Hahaha…

Yah, pokoknya begitu lah, akhirnya saya resmi jadi mahasiswa Kobe University. Mungkin jalannya dibuat agak muter dulu. But I believe that God knows better. Selalu ada hikmah di setiap kejadian. Kalau dilihat-lihat mungkin memang berjodohnya dibimbing sama advisor yang sekarang. Dan mungkin itu lebih baik. Soalnya kalau ngedengerin anak-anak bimbingannya, pak guru sebelumnya perfeksionis dengan demand yang tinggi. Sama saya sih masih baik-baik aja. Plus kata-kata beliau sangat menyemangati sekali. Entah karena saya belum dibimbing riset secara langsung, entah karena saya orang asing, atau mungkin karena saya perempuan? Hahaha… karena apa pun itu, mungkin memang begini yang terbaik. Nggak kebayang kalau suatu saat saya jadi benci setengah mati padahal awalnya saya terkesan sekali oleh beliau. Yah, biarlah beliau tetap baik di mata saya. Hohoho.

Former Laboratory. though, I did nothing but exam's preparation there

Former Laboratory. though, I did nothing but exam’s preparation there

The Latest Laboratory. Ganbarimashou!!

The Latest Laboratory. Ganbarimashou!!

 

7 responses to this post.

  1. Alhamdulillah, selamat ya Kak🙂

    Reply

  2. Aihhh, fotomu cantik, deh..
    Lebih cantik mana ya kira2, sama aslinya…?😉
    Trus kalo lancar, kira2 kapan nih beres kuliahnya, Cha?
    Ganbatte, yaaa…🙂

    Reply

    • Posted by Hicha Aquino on November 3, 2013 at 9:15 am

      foto menipu.. kkkk…

      makasi mbak, InsyaAllah dua sampai lima tahun kalau lancar. tergantung permintaan.. hihihihi.. *halah*😉

      Reply

  3. Posted by resep senyum on November 4, 2013 at 12:22 pm

    kaakk…suka sekali dengan kata-kata pembukanya… =)
    ….called L.I.F.E ^_^

    Reply

  4. Posted by resep senyum on November 4, 2013 at 12:35 pm

    keren kak… selamat yo kak hichaaa (^0^)

    Reply

  5. Posted by arditafanisa on November 5, 2013 at 12:07 am

    huaa, hichaaann,, perjuanganmu luar biasoo..
    omedetoo~ semoga makin lancar. Ganbarimashoo ^^

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: