Masaki Okada

(1)

Berawal dari bertemu dengan seorang perempuan cantik berkacamata hitam misterius. Dia tersenyum menatap saya yang kebingungan. “Perempuan ini siapa?” pikir saya. Tanpa basa-basi dia langsung menarik lengan saya dengan keras. 

“Ayo ikut. Jangan melawan!” Ucapnya tegas dengan senyum ala perempuan-perempuan dalam film-film action. Badan tinggi ramping dibalut celana panjang dan kemeja hitam, rambut kecoklatan tergerai, kacamata hitam dan senyum misterius.

Saya berontak. Ini apa-apaan? Dia ini siapa? Kenapa saya diseret dan mau dibawa kemana saya? pikir saya sambil berusaha melepaskan cengkeramannya di tangan saya. Tapi lidah saya kaku oleh pikiran-pikiran itu. Meskipun berusaha melawan, tak ada kata-kata yang keluar dari mulut saya.

(2)

Saya masih bersama perempuan itu. Saya tidak diikat apalagi dibekap. Saya hanya dibiarkan dalam penjagaannya. Dan masih tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut saya.

Kemudian datang seorang laki-laki. Wajahnya familiar, tapi saya tidak mengenalnya. Dia hanya tersenyum. Senyum yang serupa dengan perempuan itu.

Lalu keduanya pergi meninggalkan saya di ruangan itu. Singkat cerita saya pun dengan mudah melarikan diri.

(3)

Saya sedang berjalan melewati rerumputan menuju gedung engineering di kampus saya. Saat itu hari cerah. Bayangan saya berada tepat menaungi hanya kaki saya. Ya, matahari tepat berada di atas kepala.

Tangan saya memegang sebuah kotak yang dengan tidak sabaran saya buka sambil berjalan. Saat kotak tersebut terbuka, saya bingung melihat isinya, seperti telepon selular layar sentuh dengan beberapa kabel dan piranti tambahan.

Saat masih dalam keadaan bingung, bayangan saya ditutupi bayangan lain berukuran lebih besar. Awalnya saya mengira itu bayangan awan yang menutupi sinar matahari. Tapi karena bulatannya sempurna, saya pun penasaran dan melihat ke atas. Ternyata sebuah benda terbang.

Otak saya berpikir cepat, dan menyadari benda apa yang berada di tangan saya tersebut. Segera saya berlari, mencari tong sampah dan membuang benda yang berada di tangan saya yang saya tebak sebagai tracker. Saya berlari berpindah-pindah dari gedung ke gedung, atau bawah pohon yang satu ke bawah pohon, yang lain. Sampai akhirnya benda terbang berdiameter lebih kurang enam meter itu tak terlihat pandangan mata.

Setelah merasa aman, saya masih tetap berjalan, entah ke mana, hanya mengikuti kaki melangkah. Otak saya masih berpikir keras. Ini kenapa? Kenapa saya dicari? apa salah saya?

Akhirnya saya tiba di rumah salah satu kenalan. Sayangnya, disana sepertinya ada pengajian, sehingga saya tidak bisa meminta perlindungan. Saya berjalan kembali, entah kemana. Sambil masih terus berpikir, saya teringat, jangan-jangan mereka masih bisa melacak saya dari benda-benda elektronik yang saya pegang. Memikirkan hal itu, saya pun berusaha mencari tempat sampah dan membuang handphone,  jam tangan, hingga earphone saya. Pokoknya semua benda-benda yang saya anggap dapat mentransmisikan sinyal.

Tapi apa daya, laki-laki yang kemarin saya temui sepertinya mencari saya. Tanpa sengaja mata saya menangkap bayangannya. Saya berusaha lari, sayangnya dia sepertinya juga sudah menyadari kehadiran saya. Dia mengejar dan tentu saja saya terkejar. Lagi-lagi saya tidak melawan, apalagi meronta. Dan lagi-lagi seperti perempuan kemarin, dia tidak menyakiti saya bahkan tidak mengeluarkan sepatah suara.

Dia menarik lengan saya menuju sebuah taman. Saat akan menyeberang, di belokan jalan terdengar teriakan suara kenalan saya.

“Mbak Hicha, lari!” teriaknya. Saya bingung.

Lewatlah sebuah sedan merah yang berbelok di sana. Kenalan saya tersebut, mengambil batu kemudian melemparnya ke kaca belakang sedan tersebut. Kaca itu pecah. Mobil itu berhenti. Dia mengambil batu lagi dan melemparnya, kali ini ke kaca samping. Tak ada satu orang pun yang keluar dari mobil itu. Tapi kemudian dia masuk ke mobil tersebut. Dan saya berkesimpulan itu adalah salah satu cara untuk melarikan diri.

Belum sempat saya melakukan hal yang sama, laki-laki tadi kembali menarik lengan saya menuju taman di seberang belokan itu. Dengan takut-takut akhirnya saya berusaha membuka mulut.

“Bolehkah saya bertanya?” tanya saya, dan itu sudah suatu pertanyaan tentunya. Dia menatap saya. Diam tak bersuara. Dan saya menganggapnya sebagai sebuah kata ‘boleh’

“Apakah saya akan dibunuh?” tanya saya lagi. Kali ini raut wajahnya berubah, kemudian dia tertawa terbahak-bahak.

“Mana mungkin!” katanya pelan. Ada perasaan lega yang diikuti rasa penasaran. Ini sebenarnya ada apa?

“Mana mungkin aku membiarkan orang yang kuanggap penting terbunuh. Lebih tidak mungkin lagi jika aku yang membunuhnya,” Gantian sekarang raut wajahku yang berubah menjadi semakin tidak mengerti.

Kemudian dia tersenyum. Kali ini bukan senyum misterius, tapi senyum menenangkan.

“Kamu itu orang yang penting bagiku. Aku ingin menjagamu seumur hidupku.” Kemudian dia menepuk-nepuk kepala saya. Dia tidak bertanya apakah saya mau dalam penjagaannya seumur hidupnya. Dan anehnya saya juga tidak menolak ketika dia menggandeng tangan saya, lebih aneh lagi justru ada perasaan tenang menyelusup di hati saya.

“Lalu apa maksudnya semua ini, ya?” tanya saya lagi, masih dengan setengah takut-takut karena tak mengerti.

“Karena aku tak ingin yang biasa, dan aku tahu kamu tak suka yang biasa.” Mungkin jawabannya masih membingungkan. Tapi anehnya saya sama sekali tidak merasa bingung lagi. Saya tersenyum dan membalas gandengannya.

“Jadi, kamu siapa?” saya masih bertanya. Kali ini tanpa rasa takut.

“Aku Aoki Nakao” jawabnya sambil tersenyum.

Kemudian saya terbangun..

Epilog

Iya, ini mimpi, bukan cerpen. Jadi itu mimpi bersambung. Saat terbangun saya bingung. Aoki dan Nakao itu kan biasanya nama keluarga. Bagaimana ceritanya ada orang yang hanya punya nama keluarga. Dua pula nama keluarganya.

Berhubung penasaran dan wajah orang dalam mimpi saya tadi cukup familiar, akhirnya saya tanya google sensei, siapa sebenarnya orang itu. Yeap, Dia adalah orang yang namanya jadi judul posting-an ini.

Beberapa kali ngeliat dia, tapi karena nggak gitu tertarik, jadi ya nggak sampai ingat siapa namanya. Tapi kenapa dia malah masuk ke mimpi, saya ya? Sampai bersambung pula mimpinya.

Seru sih, kayak di fim action tapi berasa dunia nyata. Anggap aja hiburan gratis. Hahaha.

PS:

Saya sengaja tidak memasukkan fotonya di posting-an ini. Kalau penasaran silakan tanya mbah google😛

( yee.. ngapain juga penasaran sama mimpi lu, cha!😛)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: