Ikhlas

Burung-burung pun ikhlas menerima kalau mereka harus migrasi setiap enam bulan sekali

Burung-burung aja ikhlas menerima kalau mereka harus migrasi setiap enam bulan sekali credit


 

Mungkin di pelajaran budi pekerti jaman sekolah dulu sudah sering diajarkan, bahwa kalau memberi, maka kita harus memberi dengan ikhlas. Dan sepertinya, tidak hanya memberi, menerima pun membutuhkan keikhlasan.

Ya, dibutuhkan keikhlasan untuk menerima apa yang tidak kita inginkan. Bahkan mungkin sebenarnya, menerima dengan ikhlas itu jauh lebih sulit dari pada memberi dengan ikhlas. Bagaimana tidak, jika tahapan pada ikhlas memberi itu bisa dengan hanya berikan, kemudian lupakan. Maka itu sudah dapat dikatakan ikhlas.

Tapi ada lebih banyak prosesi yang harus dilewati untuk kasus menerima dengan ikhlas. Kita tidak bisa hanya menerima kemudian melupakan. Dibutuhkan effort ekstra untuk dapat tetap menjaga apa yang diamanahkan disaat hal tersebut bukan sesuatu yang kita inginkan.

Contohnya, manusia itu sulit menerima jika dirinya divonis sakit, bukan? jangankan untuk penyakit, untuk kenikmatan pun, disaat hal tersebut bukan hal yang diinginkan, ada banyak orang yang menampik dan menjadi kufur nikmat.

Misalnya, pasangan suami-istri yang kecewa saat mendapatkan anak perempuan, sementara mereka menginginkan anak laki-laki; Atau calon mahasiswa baru yang mengikuti SNMPTN tetapi lulus di pilihan ketiganya; Atau seorang anak yang mendapatkan sepeda, alih-alih motor yang menjadi keinginannya; dan masih banyak contoh lainnya.

Bersyukur. Mungkin itulah langkah awal dari ikhlas menerima. Ya, bersyukur dengan apa yang telah diterima. Belum tentu yang menjadi keinginan kita itu yang terbaik buat kita. Toh, ada yang lebih tau apa yang terbaik buat kita. Yaitu Dia Yang Memberikannya.

Dia memang tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tapi Dia selalu memberikan apa yang kita butuhkan, kan ya? Toh, Dia Maha Mengetahui yang kini dan nanti.

Siapa sih kita, sampai berani sok tahu tentang masa depan?

Iya, cha. Siapa sih kamu sampai berani kufur nikmat atas segala yang sudah diberikan? 

2 responses to this post.

  1. ichaaaa… terharu banget sama tulisan ichaa.. kena banget di hati🙂 makasih ya cha udah diingatkan🙂

    Reply

  2. wah…aku suka tulisan2x hicha nih. sedih..jd inget nasehat bapaku “yg namax ikhlas itu ada 2 poin yg hrs di penuhi: wajar dan sabar”

    aku tunggu tulisan selanjutnya

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: