Nongkrong? Di sana Begini, Di sini Begitu

Entah karena (merasa) masih muda atau karena belum berkeluarga atau  mungkin karena keduanya, hampir setiap pulang kerja , bareng teman seangkatan yang juga satu tempat kerja main ke mana dulu sebelum pulang ke rumah. Istilahnya sih nongkrong, padahal biasanya kita cuma nge-attaack (paket ayam+nasi+cola nya KFC yang waktu itu lebih murah dari nasi padang) atau sekedar cari makan malam, daripada makan sendirian di rumah. Biasanya juga, kalau memungkinkan dilanjut dengan menyelaraskan mata dan kaki di mesin pump-it-up.

Setiba-nya di Jepang, ada tradisi minum-minum atau disebut juga nomikai. Kenapa saya sebut tradisi? Karena hampir semua orang Jepang yang sudah berumur 20 tahun ke atas melakukannya. Biasanya acara ini dilakukan untuk menyambut kedatangan anggota baru di suatu kelompok, untuk merayakan sesuatu, atau untuk melepas kepergian anggota di kelompok tersebut. Katanya, jika ada orang yang tidak mau ikut, orang Jepang akan merasa orang tersebut tidak mau bergaul dengan mereka.

Kalau di lab saya sendiri, tampaknya orang-orangnya lebih terbuka. Itu untuk teman-teman lab-nya sih. Kalau untuk sensei-nya kayaknya masih punya pola pikir tersebut di atas. Kenapa saya bilang begitu, karena di lab saya ada satu orang yang tidak pernah ikut nomikai, dan entah karena memang tipikal orangnya yang sebenarnya cukup pintar bergaul atau karena memang anggota lab yang lain yang punya pola pikir lebih terbuka dibanding orang jepang umumnya, dia ini tidak dikucilkan di lab. Setidaknya, tidak tampak begitu. Tapi tidak demikian dengan sensei, karena saya sempat mendengar seorang sensei yang agak kurang menerima. Kalau saya sendiri, pernah ikut karena penasaran. Seperti apa sih nomikai itu. Yah, IMO sih, terkadang ada hal-hal yang baru bisa diambil hikmahnya saat mengalaminya sendiri.

Nomikai pertama saat penutupan spring semester tahun lalu. Acaranya dilakukan setelah presentasi riset anggota lab. Impresi saya saat itu, masih wajar-wajar saja. Acaranya hanya diisi dengan makan, minum, dan ngobrol-ngobrol. Tiga orang sensei yang ada di lab juga ikut semua dan sudah menjadi tradisi di sini, semakin tua usia seseorang, biasanya dia akan membayar dengan porsi paling banyak.

Berhubung sudah pusing dengan mendengarkan 14 presentasi dalam bahasa planet *udah lah tentang engineering, dalam bahasa Jepang pula ~,~* dan sudah merasa puas dengan rasa penasaran, setelah acara bubar, saya memilih pulang. Berbeda dengan anak-anak lab yang lain, ternyata ada nomikai lanjutan, yang disebut nijikai. Kalau yang tadi bareng para pak guru, yang sekarang hanya mereka saja. Diajak juga sih, tapi saya memilih pulang.

Kali kedua, beberapa hari yang lalu, sebagai acara pelepasan anggota lab yang lulus tahun ini. Kali ini tidak ada sensei yang bisa ikut, jadi hanya anggota lab saja. Tempatnya di booking untuk dua jam dari jam 7 hingga jam 9. Saat itu ekspektasi saya sama dengan saat pertama, dan memang tidak ada yang aneh-aneh, kecuali pembicaraan yang saya agak tidak menyangka akan dibicarakan oleh orang Jepang yang punya kecenderungan tertutup. Mungkin karena pengaruh alkohol kali ya. Tapi dari situ saya jadi tahu, kalau  labmates saya (yang ngobrol-ngobrol bareng saya saat itu) ternyata memang seperti yang saya pikir. Mereka punya pola pikir yang cenderung lebih terbuka jika dibandingkan dengan orang Jepang umumnya.

Tapi, entah bagaimana, saya jadi terseret ikut nijikai. Dan di nijikai ini makin kelihatan aslinya. Impresi saya saat itu adalah kasihan. Kasihan karena boleh jadi pada siang hari mereka bersemangat, kerja di lab sampai kurang lebih 12 jam setiap hari, senin sampai sabtu, bahkan tak jarang hari minggu pun masuk; tapi kenyataannya, terlihat kalau di dalamnya mereka ‘kosong’. Kosong seperti tidak punya tujuan hidup. Mungkin karena itu jadi lari ke minum-minum. Dan saat itu, saya jadi tidak enak sendiri, karena dalam keadaan setengah sadar mereka berusaha untuk tetap menjaga kelakuan di hadapan saya. Sedikit-sedikit jadi bilang “maaf ya, jadi ngeliat yang kayak begini”, “maaf ya, jadi bikin kamu mikir yang aneh2 tentang kami,” pokoknya saya langsung berpikir, “ ini beneran mending gw nggak usah ada di sini dah, sama-sama nggak enak ini jadinya”. Dan saya yakin kalau tidak ada saya yang terjadi akan lebih parah, karena tanda-tandanya sudah terlihat tapi dicegah oleh teman yang lain dengan alasan ada saya di situ.

Salah seorang yang paling tua di sana menjelaskan kalau mereka hanya bercanda, karena sehari-harinya bekerja keras, jadi minum-minum adalah ajang mereka melepas lelah dan stress. Tapi entah kenapa, menurut saya lawakan mereka sama sekali tidak lucu. Bahkan ‘becandaan’ saya dan teman-teman jaman dulu saat ngumpul-ngumpul lebih refreshing daripada lawakan saat itu yang justru menunjukkan ‘kekosongan’ mereka.

Tapi bagi mereka, justru mereka lho yang kasihan sama saya. “Susah ya cha, hidup di sini, banyak yang kamu nggak bisa makan”, “Susah ya cha, harus bangun pagi buta demi shalat”,  atau saat musim panas “Susah ya cha, mesti kerudungan panas-panas gini”, atau tahun lalu saat puasa dan persiapan ujian “Wah, pasti berat ya puasa, musim panas, mesti jalan mendaki tiap hari, plus belajar buat ujian pula”.

Hmm.. Perbedaan sudut pandang memang bisa menyetir kita kepada perbedaan kesimpulan. Tak masalah kalau berbeda yang penting tetap saling menghormati, dan saling tolong-menolong dalam kebaikan. Sejujurnya, kadang saya lebih merasa aman jika makan di tempat baru bersama teman-teman lab saya tersebut. Mereka dengan tanpa diminta akan memastikan makanan saya tidak mengandung daging atau mirin (sejenis sake yang sering digunakan orang sini untuk memasak), dengan mempersiapkan tempat yang menyediakan makanan selain daging-dagingan (ada lho restoran yang khusus ngejual makanan variasi olahan babi), atau menanyakan langsung ke pelayan tentang bahan-bahan yang digunakan pada suaatu masakan. Bahkan saat saya tanpa sadar sudah mengambil suatu makanan mengandung mirin, mereka juga tidak segan-segan mengatakan “Eh, itu kamu nggak boleh makan. Sini buat saya aja.” Dan mengambilnya dari piring saya. Mungkin karena emang pengen dapat porsi lebih banyak juga kali, ya? Kkkk.. Kadang jadi tidak enak juga. Kesannya kalau saya ikut itu jadi banyak nyusahin-nya. Tapi kalau sama sekali tidak ikut, kurang bagus dari sisi ber-sosialisasi-nya. Yah, disesuaikan dengan kebutuhan aja kali, ya.. Huehehe..

4 responses to this post.

  1. Nomikai = waste of money… Mending attack, murah, meriah, muntah…
    Anjislah, jadi kangen nge-attack bareng geng Walet… Natsukashiinaaa…

    Reply

  2. Wah iya Cha, kejadian yang sama juga terasa sama orang-orang jepang di kantor. mereka bisa di kantor sampe jam 11 malem tiap hari dan sabtu minggu masuk tapi entah apa yang mereka kejar. menurutku sih cuman memperbesar porsi jepang di kancah kapitalisme. ah tapi entahlah juga sih ya..😀

    Reply

  3. Attack sekarang udah ngga ada T.T

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: