Ada Apa dengan Pemira?

Bicara tentang politik, sejujurnya, saya agak kurang tertarik. Bagaimana bisa tertarik kalau isinya hampir tidak ada bedanya dengan sinetron Indonesia yang judulnya bejibun tapi isi ceritanya begitu-begitu saja. Kebobrokan di tubuh partai ini lah, anggota partai ini yang membelot ke partai itu lah, ketua umum partai ini yang merangkap beberapa jabatan sekaligus lah, dan lain-lain, dan sebagainya, dan sampai besok (?). Bahkan saya akan lebih memilih membaca majalah bobo jadul saya ketimbang nonton TV yang isinya saling berebut kepentingan seperti itu.

Tapi tidak demikian dengan perpolitikan skala kecil, sejenis kampus atau sekolah. Walaupun, sorry to say, hitungannya kurang menarik bagi saya dibandingkan main pump it up, tapi terkadang ada hal-hal yang menarik perhatian saya. Mungkin disebabkan faktor ketulusan yang (sedikit) lebih besar ketimbang politik skala besar karena disini mereka tidak digaji. Meskipun tetap saja tak jarang ada isu-isu ditungganggi oleh pelaku-pelaku politik skala besar.

Sebagai contoh, belakangan ramai di TL Facebook maupun Twitter, kemelut (?) yang melanda dunia kampus almamater saya. Apalagi kalau bukan kontroversi Pemira (Pemilu Raya) 2013 kali ini. Dimulai dari salah seorang calon yang bergender perempuan, hingga beredarnya foto masa SMA kedua calon yang dulunya satu sekolah, bahkan yang bikin saya mengernyitkan dahi, saat keduanya didiskualifikasi karena banyaknya pelanggaran, yang kalau saya lihat sebagai orang luar lebih erat kaitannya dengan orang ketiga.

Ramainya Pemira kali ini dimulai saat Nyoman Anjani, calon dengan nomor urut 1, berniat maju. Nyoman ini bukan perempuan pertama yang menjadi calon Presiden KM. Sudah ada Shana Fatina yang terpilih menjadi Presiden perempuan pertama KM ITB untuk tahun kepengurusan 2008-2009. Pada saat itu, suasananya juga cukup panas, mengingat masih besarnya persentase laki-laki dibanding perempuan di kampus almamater saya tersebut. Secara gengsi, mungkin banyak yang merasa harga dirinya jatuh jika harus dipimpin oleh perempuan. Sayangnya, kebanyakan gengsi tersebut hanya berwujud gengsi tanpa arti, karena menurut saya, kalau memang tidak ingin dipimpin oleh perempuan, lalu kenapa tidak kalian saja yang maju? Okay, mungkin pendapat saya kurang tepat untuk kasus tersebut, mengingat untuk pemilu saat itu, akhirnya ada tiga pasangan calon presiden dan perwakilan mahasiswa untuk MWA yang maju, dan Mbak Shana adalah perempuan satu-satunya saat itu. Tapi pendapat saya itu benar adanya, untuk kasus lima setengah tahun yang lalu saat saya maju menjadi cakahim himpunan jurusan saya.

“Kenapa sih cha, lo maju?”, “Lo feminis ya?”, “Lo pengen jadi pemimpin biar keren ya, bisa mimpin di jurusan yang 90%nya laki-laki?” dan entah apalagi yang ada dipikiran mereka saat itu. Seriously, tidak ada satu pun hal-hal tentang gender atau emansipasi atau apapun lah itu namanya yang membuat saya akhirnya memutuskan maju.

Pembuktian kata-kata. Mungkin lebih tepatnya itu alasan saya. Dimulai dari keinginan untuk berbuat sesuatu yang lebih nyata, saya memutuskan mendukung teman saya yang akan menjadi calon. Sudah beberapa orang yang dulunya di-ekspektasi-kan untuk menjadi calon akhirnya malah tidak mendaftar. Entah apapun itu alasannya. Saat itu saya berpikir, “ini apa-apaan, masa sampai saat ini, baru satu orang yang memutuskan maju”, sampai-sampai saya katakan pada teman saya yang ingin saya dukung  “Kalau lo nggak maju, gw yang maju!”. Mungkin terdengar mengancam, tapi sebenarnya saat itu saya hanya ingin menekankan, jangan sampai akhirnya hanya ada calon tunggal yang menurut pendapat saya saat itu tidak begitu mengerti kondisi himpunan karena sebenarnya lebih aktif di luar. Dan kenyataannya ‘ancam’-an saya nggak ngaruh, entah dengan alasan apa, pada akhirnya teman tersebut pun tidak jadi mendaftar. Saat itu teman saya tersebut hanya berkata “Gw nggak sanggup, cha! Kalau lo mau maju silakan. Gw dukung lo sama kayak gw dukung yang lain”. Sejujurnya, saat itu saya kecewa. Tapi, yah.. Everybody has their own reason.  Dan siapa saya sampai berhak tidak menghormati keputusan mereka. Akhirnya saya maju, yang mendukung ya mendukung, yang meremehkan? Saat itu hanya saya anggap pemberi warna dalam cerita (?). Entah memang default-nya perpolitikan seluruh dunia atau cuma di Indonesia saja, politik dalam skala kecil tersebut pun penuh drama dan intrik yang membuat saya mengambil kesimpulan bahwa Polytics has too much tactics to hit the goal. Ada terlalu banyak hal yang pada akhirnya kembali lagi kepada KE-PEN-TING-AN. Mungkin benar yang dikatakan ibu saya poly itu artinya ‘banyak’ dan  tics itu berarti taktik, entah dari mana beliau mendapatkan kesimpulan begitu. Pada akhirnya memang yang terpilih bukan saya, dan itu bukan masalah besar bagi saya, karena tujuan awal saya memang bukan untuk memimpin teman-teman saya. Sungguh, tidak ada yang lebih berat di dunia ini selain menjalankan amanah. Apalagi amanah sebagai pimpinan. Agak heran dengan kondisi saat ini, saat orang-orang berlomba-lomba untuk menjadi pemimpin bahkan tak segan menjatuhkan orang lain yang bisa jadi saudara seiman atau temannya sendiri.

Kembali ke Pemira KM ITB, tantangan saat pemilu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan tantangan saat menjabat. Saya masih ingat, gosip-gosip yang beredar diawal-awal kepengurusan Kabinet KM ITB 2008-2009, mulai dari Ibu Presiden yang kesulitan mencari orang yang bersedia masuk ke kabinetnya, hingga bahkan saat kabinet berjalan, di salah satu forum internal kampus, saya baca dengan mata kepala saya sendiri di forum tersebut, bagaimana seorang anonim membawa-bawa kutukan Tuhan dan menghubungkannya dengan kepemimpinan perempuan. Wallahualam.

Satu hal yang saya salut dari Mbak Shana, beliau tetap berusaha melaksanakan tugas-tugasnya. Cita-citanya tidak sekadar kata-kata. Terbukti dari hingga saat ini pun beliau lebih memilih berkarir di lembaga non profit.

Untuk Pemira kali ini, saya tidak tahu apalagi kenal dengan kedua calon. Karena saat keduanya menjadi mahasiswa baru, saya sudah harus secepatnya hengkang dari kampus. Untuk Nyoman, karena sesuatu dan lain hal yang tidak akan saya tulis di sini, saya sempat mendengar cerita tentangnya bahkan sebelum dia menjadi calon. Dia adalah putri seorang dosen Teknik Mesin dan sekarang dia juga menuntut ilmu di jurusan Teknik Mesin; Cenderung polos dan naif untuk perpolitikan kemahasiswaan terpusat; Dari penampilan rambut panjang dan senyumnya membuat dia terlihat sangat perempuan, ditambah lagi dengan hobi melukisnya, tapi seperti perempuan-perempuan lain yang kuliah di jurusan di mana perempuan adalah minoritas dan kami sering dipaksa untuk menjadi tangguh (seriously, kalau ada yang bilang “enak ya, kuliah di jurusan yang banyak cowoknya, pasti banyak yang melindungi.” I betcha! Rasain sendiri baru komentar!), dia bisa dikategorikan perempuan tangguh, terlihat dari hobi lainnya, yaitu naik gunung. Sedangkan untuk calon kedua, Yorga Permana, saya baru tahu saat dia menjadi calon di Pemira kali ini.

Membaca gagasan mereka di pemira, #yukbergerak dan #melukisindonesia, tidak ada yang salah dengan keduanya. Bahkan menurut saya, aura kemahasiswaan sangat kental dari kedua gagasan tersebut. Jauh lebih jelas dan mengena dari pada perpolitikan tingkat nasional. Pada saat mereka menjabarkan gagasannya, sebagai alumni saya hanya berhak menjadi silent reader, dan berdoa untuk yang terbaik bagi Kemahasiswaan ITB. Tapi kemudian, mulai lah beredar isu-isu ini-itu yang akhirnya kedua calon didiskualifikasi karena poin pelanggaran yang sudah melewati ambang batas.

Mulai dari SMS fitnah yang beredar, isu salah satu calon ditunggangi partai politik tertentu, hingga adanya oknum-oknum kontroversial dengan selebaran-selebaran gelapnya yang tak kalah kontroversial. Dan saya jadi berkeinginan untuk ikut berkomentar “Memang harus jadi begini ya?” Akan jadi bagaimana KM ITB, kalau kedua calonnya didiskualifikasi? Bukankah  pemungutan suara sudah dilakukan dan (kabarnya) persentase pemilih tahun ini memiliki kemajuan yang signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bahkan saya cukup terpukau saat di salah satu hearing, peserta yang datang mencapai 1600 orang! Bahkan closing ceremony sebuah event yang mendatangkan Sherina pun tidak sebanyak itu yang datang.

Suka tidak suka, jika kabinet tetap harus dijalankan, maka masalah ini harus segera diselesaikan. Bisa dengan mengulang pemilu, yang mana menguras lebih banyak waktu dan tenaga, juga akan terasa antiklimaks dan sangat mungkin antusiasme pemilih menurun; bisa juga dengan “memutihkan”  kesalahan kedua calon dan membuka kotak suara.

Terlepas dari bagaimana KM ITB itu sendiri di mata kita masing-masing, tapi menurut saya, lebih baik Kemahasiswaan terpusat di pegang oleh teman-teman sesama mahasiswa daripada diambil alih pihak luar, terutama pelaku-pelaku  politik skala besar dan segala kepentingannya.

Yah, tapi biar bagaimana pun, opini saya hanya akan tetap menjadi opini. Yang menjalankan tentunya mereka yang masih berstatus mahasiswa di sana. Saya hanya bisa berdoa, semoga kemelut (?)  tersebut dapat segera diselesaikan, tak perlu lah ada drama-drama yang tak perlu.

2 responses to this post.

  1. Hicha.. Berapi2 sekali nulisnya😀 sebaga alumni, kita doain aja yg terbaik. Kesian bgt KM ITBnya kalo jd cacat cuma gara2 krisis kepemimpinan ya.
    Cha.. Nge-plurk lagi doonk :p

    Reply

    • Posted by Hicha Aquino on April 4, 2013 at 9:16 am

      wiw.. dikomenin sama yang pernah berjibaku langsung.. *blush*
      Aamiin.. Di mana lagi adik-adik *halah* kita belajar berpolitik kalau bukan di kampusnya sendiri.🙂

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: