Moved On?

Saya termasuk tipikal orang yang gampang membuang barang. Kalau memang sudah masanya dibuang, ya buat apa disimpan? Menuhin-menuhin tempat aja. Meski begitu, apakaha saya termasuk tipe orang yang tidak setia? Hmm.. untuk masalah itu, mari kita lihat cerita lain yang *sayangnya* masih tentang saya (gapapa lah ya sesekali narsis.. hihihi.). mulai dari tas, sepatu, hingga baju, saya termasuk orang yang “nggak ribet”. Yang penting enak dipakai.

Untuk tas dan baju sih nggak ribet-ribet amat. Tapi untuk celana dan sepatu susahnyaaaa nyari yang enakeun. Bagaimana tidak, bahkan mulai dari mencari ukuran bagai perjuangan mencari jodoh *lebay*. Ukuran yang pas buat saya ya ukuran sepatu cewek, tapi saya nggak suka sepatu cewek. Menurut saya sepatu cewek itu nggak comfy buat naik gunung *yaiyalahh..* tapi sepatu cowok jarang yang bernomor di bawah 38. Dan kalau pun ada kadang masih kebesaran buat saya. Jadi seringnya, saya beli sepatu pas di coba di tokonya cocok, tapi setelah dibeli, dipakai jalan, dan nggak nyaman, yaudah berarti nggak dipake lagi itu sepatu. Harga sih biasanya nggak jadi soal, yang penting kenyamanan. Buktinya, setelah beberapa kali terpaksa move on dari sepasang sepatu baru gegara ke-tidak nyaman-an, akhirnya justru  “jatuh nyaman” (bukan jatuh cinta, karena saya ogah jatuh cinta sama sepatu :p), sama sepatu paling murah dari semua sepatu yang pernah saya beli (atau emang dasar saya-nya aja cocoknya sama yang murah-murah kali ya?? Kkkk…)

Dan biasanya saya cuma bakal make satu tas dan satu pasang sepatu sampai mereka blusukan dan nggak bisa dipake lagi. Hanya berlaku untuk sepatu dan tas doang sih, karena akan mengganggu kehidupan sosial kalau saya juga cuma make satu pasang baju yang sama setiap harinya😛. Dan saat udah busuk sampai diomelin ibu, berarti sudah tiba saatnya mencari yang baru. Yang lama, yah se-sayang-sayangnya juga tetap bakal dibuang. Masa mau dikoleksi. Kkkk…

Tapi kan tapi, bukan berarti saya nggak setia kan ya? kan saat masih bisa dipakai, saya dengan setianya memakai setiap hari.. ;))

Lalu, adakah hubungannya kemampuan membuang barang dengan kemampuan move on. Kalau move on soal cinta-cintaan, anggap saja saya belum berpengalaman  *whether it’s right or wrong, let it be my little secret #apadeh*, tapi kalau move on terhadap masalah sehari-hari, misalnya nggak stuck sama hal-hal yang menyakiti hati, atau sejenisnya, yeah I prefer not to sweat the small stuff dan berhubung saya ini pelupa, jadi ya udah sekali nggak diingat-ingat biasanya bisa lupa selamanya.

Terbukti kalau sebel, sedih, or sejenisnya, trus tak tulis di diary tapi tanpa menuliskan penyebabnya, di lain waktu dibaca lagi, pasti bingung, lah ini sedih kenapa, ya? *gubrakk*

Intinya mah, kalau barang sudah sewajarnya dibuang, mbok ya sudah diikhlaskan. Dan kalau dari benda kesayangannya aja nggak susah move on, masa dari hal-hal tidak menyenangkan malah susah move on.

Eh tapi, saya ngerti kok kalau hidup itu tidak sesimpel Hicha’s Golden Ways. ;)) *berasa saingan Mario Teguh =))*

*Tulisan ini, dari sisi tanda baca, pemilihan kata, dan alur tidak bisa dikategorikan baik, tapi biarlah, biarkanlah saya berkarya #geje*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: