Saya, Aku, Gue? Hmm.. Hicha aja deh! :)

Untuk panggilan ke diri sendiri, sejak kecil sudah diajarkan ortu agar menggunakan nama sendiri saja. Begitu juga saat berbicara dengan orang lain. ‘kak, pak, bu, dkk’ untuk orang yang lebih tua, dan nama untuk yang sebaya atau yang lebih muda.

Ibu pernah bilang “Ibu kurang suka deh kalau ada yang pakai aku-aku an, kesannya jadi kayak sombong”. Waktu itu saya masih kecil, jadi di-iya-in aja kata-kata beliau. Sayangnya, pas masuk sekolah, pergaulan menuntut hal lain. Awal-awal sih masih menggunakan nama. Yah, namanya aja anak baru masuk SD. Belum tau apa-apa. Pas TK sih sama ibu guru masih diajarin untuk menggunakan nama, baik itu untuk pangilan pada diri sendiri maupun orang lain. Sejak SD berubah jadi aku-ke (‘ke’ itu bahasa sehari-hari di aceh yang artinya ‘kamu’). Masuk SMP  kadang pakai nama, kadang pakai aku-ke (I really didn’t know how to use ‘kamu’ at that time since nobody used it). Masuk SMA saya sekeluarga pindah ke SumBar dan saya sekolah di Padang, tiga jam dari rumah ortu di Lubuk Basung. Di sekolah saya, anak-anak ‘gaul’-nya menggunakan ‘lu-gua’, tapi cuma buat kata ganti panggilannya aja, yang lainnya ya masih bahasa minang thokthok! Saya sih balik jadi pakai nama lagi. Tapi kadang-kadang pakai aku-kamu sih. Mulai belajar pakai ‘kamu’ di Padang. Hihihi..

Masuk kuliah, kadang pakai nama, kadang aku-kamu, dan mulai kenal dengan lo-gue. Tapi make lo-gue cuma sama cowok atau cewek yang asalnya dari Jakarta aja. Selain itu saya milih pakai nama aja. Lebih pewe euy. Dan nggak asiknya pewe-nggak pewe-nya jadi kebawa-bawa. Saya suka ngerasa nggak nyaman kalau ngedenger sesama cewek lagi ngobrol pakai lo-gue, padahal pihak yang sedang ngobrol itu nggak ada satu pun yang orang Jakarta. Hmm.. perasaan aja kali ya.. huehehe..

Saat kuliah juga mulai kenal dengan ‘saya’. Mungkin karena ngerasa udah dewasa *yakali*, jadi saat acara-acara formal (sejenis rapat dkk) merasa wajib menggunakan  saya-anda. Hohoho.. Jadi karyawan dan paling kecil pula ya bertambah-tambahlah menggunakan satu kata tersebut.

Setibanya di Jepang, tentu saja orang sini manggi siapapun pakai –san. Dan saat ngobrol sehari-hari instead of using ‘anata’ yang artinya ‘kamu’, orang sini kebanyakan memanggil nama (plus –san) tentunya. Bahkan super sensei (professor di lab saya) pun kalau ngobrol pakai bahasa Jepang dengan saya, manggilnya langsung Hicha aja. Kalau sama academic advisor mah, berhubung pakainya bahasa Inggris jadi ber I-you lah beliau.

Sedangkan lab-mates yang asli sini, makenya boku/ore-nama orang tersebut. Benernya berasa aneh juga di panggil dengan nama dalam obrolan dengan cowok. Biasanya kan cowok itu main langsung lo atau kamu. Nggak kebayang teman-teman saya jaman kuliah bilang begini “Hicha kan sebelumnya udah kerja, kok Hicha mau ngelanjutin kuliah lagi?” Yeap, ‘Hicha’-nya tetap disebut, instead diganti lo/kamu dan yang menanyakannya cowok.

Dan ternyata emang budaya di sini, sebisa mungkin tidak menggunakan kata ganti orang, dengan alasan kesopanan.

Jadi kalau ditanya, saya mending menggunakan yang mana? Hmm.. menyesuaikan kali ya.. tapi kalau untuk sehari-hari, pakai Hicha aja deh. Biar berasa muda teruss.. *apasih*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: