Pengolahan Sampah atau Taman Bermain?

Lagi-lagi selang waktu tulisan dan kejadian berselisih banyak, merasa bersalah euy kalau menghabiskan waktu buat hal lain selain belajar, meskipun begitu, kayaknya saya lebih banyak bengong juga daripada belajar. Heuheu..

Baiklah, kali ini saya ingin menuliskan study tour-nya PPI Kobe ke Maishima Koujo atau dalam bahasa Inggris dituliskan sebagai Maishima Incineration Plant. Terletak di Konohana-ku, Osaka, kurang lebih 5-10 menit dengan kereta (nggak gitu ingat juga berapa lamanya. Hehe).

Seperti kita ketahui, Jepang memberlakukan pemisahan sampah bagi penduduknya. Sampah plastik, botol PET, kaleng, sampah rumah tangga, hingga overweight garbage yang harus membayar untuk membuangnya. Semua ini harus dipatuhi, jika tidak, pemerintah tidak akan mengangkut sampah-sampah tersebut dan orang yang tidak mematuhi bisa dikenai denda. Selain itu, sampah-sampah tersebut harus dimasukkan ke dalam plastik-plastik khusus sesuai dengan pembagian jenisnya. Untuk pengolahannya, diserahkan ke masing-masing pemerintah kota yang bersangkutan.

Masing-masing kota belum tentu memiliki pabrik pengolahan sampah sendiri, biasanya satu pusat pengolahan sampah akan mengolah sampah dari kota-kota yang berada di sekitarnya. Contohnya Maishima Incineration Plant yang menjadi mengolah sampah kota-kota di sekitar Osaka.

Perjalanan dimulai dari Sannomiya, berbekal 290 yen untuk kereta Hanshin menuju Umeda, Osaka, sampai di Stasiun Nishikujo. Kemudian di lanjutkan dengan bus no.81 selama 20 menit langsung menuju Maishima. Incineration plant tersebut berada di pulau yang dibuat dari debu hasil pembakaran sampah juga. Hasil pembakaran sampah dari tempat pengolahan sampah yang lain tentunya.

Maishima Incineration Plant From Outside

Karena terletak di pulau buatan, kita harus menyeberangi jembatan yang dari situ sudah terlihat seperti istana bermain anak-anak (dengan paduan warna pada dinding yang menurut saya ‘agak’ terlalu anak-anak. Hehe..v^^). Masuk ke dalam areanya, tidak akan kita temui banyak petugas yang mengangkut maupun mengolah sampah. Hanya ada beberapa orang di site dan supir-supir yang mengendarai mobil-mobil pengangkut sampah. Di dalam gedung pun, tampak sepi jika dibandingkan dengan luasnya tempat tersebut.

Kemudian, kami di sambut oleh seorang petugas yang memberikan gambaran umum tentang sejarah dan bagaimana sampah di olah di tempat tersebut, sebelum kemudian dilanjutkan  dengan melihat langsung pengolahan sampah dari balik kaca-kaca tebal. Tidak hanya tampak luarnya saja yang seperti istana bermain anak-anak, di dalamnya pun beberapa bagian di desain seperti tempat bermain dengan permainan edukasi yang berhubungan dengan pengolahan sampah. Wah, bagus nih buat pengenalan bagi anak-anak.

Maket Site Maishima Incineration Plant

Pengolahan tersebut dibagi menjadi beberapa tahap, dimulai dari pengumpulan sampah di Waste Pit. Di sini, sampah-sampah tersebut di remukkan sehingga menjadi lebih padat dan kandungan airnya berkurang. Kemudian sampah diangkut olah crane  berdiameter 5 meter untuk kemudian dimasukkan ke tempat pembakaran. Debu hasil pembakaran dikumpulkan di ash pit. Sedangkan gas hasil pembakaran dinetralkan sehingga gas yang di buang melalui stack (cerobong) bukan lagi gas beracun. Limbah berupa air beracun juga dinetralkan di waste water treatment equipment. Sedangkan panas yang dihasilkan saat pembakaran, diguakan untuk menggerakkan generator sehingga dapat menghasilkan listrik.

Crane Pengangkut

Listrik yang dihasilkan, selain digunakan untuk menggerakkan sistem dan seluruh peralatan listrik di pabrik tersebut, juga dijual ke perusahaan penyedia listrik. Dalam sehari Maishima Incineration Plant dapat menghasilkan 36MW listrik dengan hasil penjualan listrik mencapai 500juta Yen/tahun.

Itu baru sampah yang terbakar. Bagaimana dengan sampah plastik, botol-botol, kaleng dan sampah-sampah besar? Sayangnya, tempat pengolahan sampah Maishima ini tidak menerima sampah plastik, botol-botol, dan  kaleng. Hanya sampah burnable dan sampah besar sejenis sepeda. Khusus untuk sampah besar, mereka juga menjual kembali besi-besi yang sudah dipisahkan dari sampah-sampah besar tersebut.

Yang lebih keren lagi, semua proses tersebut dilakukan otomatis. Jadi petugas hanya mengontrol di balik ruang kendali. Bahkan saat kami datang, crane pengangkut sampah tersebut digerakkan autopilot alias tidak ada petugas yang mengendalikan. Pantas saja pabrik sebesar itu karyawan yang kami temui sedikit sekali.

Ruang Pengendali Crane

Ruang Pengendali Utama

Mengingat penduduk Indonesia yang hampir seperempat milyar, dan hubungan sampah serta jumlah penduduk itu sebanding, jadi sepertinya cocok juga jika diterapkan di negara kita. Kecuali untuk bagian semua otomatisnya, sepertinya tidak apa-apa jika belum diterapkan sepenuhnya. Lumayankan, untuk mengurangi jumlah pengangguran. Selain itu, insiden TPA seperti yang terjadi di Leuwigajah tujuh tahun lalu juga dapat dihindari.

3 responses to this post.

  1. Mari kita gerakan Indonesia bebas sampah… Bagus sekali tulisan nya

    Reply

  2. nice posting cha… semoga bisa liat pabrik sejenis ada di Indonesia😀

    Reply

  3. Posted by HENRI PANGGABEAN on November 14, 2013 at 2:24 pm

    postingan yang sangat menginspirasi…….

    kapan dan bagaimana menerapkannya??

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: