Uwahh..

Udah lama nggak nge-blog. Sekalinya kepikiran isi blog, langsung hal yang ga gitu penting. Haha.. Dan postingan kurang penting ini pun tidak akan sesuai dengan kaidah bahasa indonesia yang baik dan benar. Tapi tak apa lah, anggap saja cerita pengantar makan siang (?), enjoy!🙂

Life: a cycle. A series of events, meetings, and departures. Old friends leave, new one comes. Tears might shed for yesterday, but then smiles come for tomorrow

-Daniella Gallo, with modification-

Beberapa minggu yang lalu saat masih puyeng2nya sama ujian, entah darimana datangnya, saya mimpi di “tembak” sama anak lab yang kebetulan barengan belajar juga. Wih, bangun2 langsung istighfar. Plus bingung sendiri, gimana ceritanya itu mimpi datang. Asli dari setan kayaknya.

Setelah itu ya biasa aja. Karena emang ga ada perasaan apa2, plus orangnya juga biasa-biasa aja dan udah punya pacar juga, plus umurnya sebayaan sama adik saya juga, plus mirip pula mukanya. Jadi ya itu tadi, nothing happened.

Balik ke student room (pas nyiapin ujian, belajarnya di perpus atau lab di gedung lain) saya jadi balik manggil nama keluarganya lagi, abis berasa aneh aja kalau manggil nama belakang.

Terus, tadi entah gimana ceritanya lagi, pas turun dari kereta, tetiba saya kepikiran tentang nama lagi. Mungkin karena hasil ngobrol2 beberapa hari terakhir, jadi menyimpulkan bahwa orang sini kalau di tempat kerja (termasuk di lab) mau sedekat apa juga tetap saja manggilnya nama keluarga. Lalu, jadi kepikiran ya udah deh ntar kalau ketemu orang yang pernah nyebut nama belakangnya, panggil langsung aja. Dan sambil mikir mau jalan atau naik bus, lagi-lagi kepikiran. “Wah, lucu juga kali ya kalau ketemu di sini”. Tentu saja yang kepikiran ketemu itu jadinya cuma satu orang. Siapa lagi coba anak lab yang keretanya bukan JR (sama seperti saya, tapi beda arah) dan pernah nyebut nama belakangnya. Tapi saya tepis juga sih. Habis emang sampai sekarang belum pernah papasan. Walaupun stasiun akhirnya sama, tapi dia tinggal di timur dan saya di barat. Lagipula saya lebih milih jalan lewat jalan yang lebih pendek (tapi lebih mendaki) daripada jalan yang biasa di lewatin anak2 lab yang lain. Alasan mereka lewat jalan yang lebih jauh ya apalagi kalau bukan demi cuci mata. Hahaha. Jam datang saya dengan oknum tersebut juga kayaknya beda. Ngga terlalu merhatiin juga sih.. Hehehe.. \p>

Kemudian, setelah akhirnya berbalik arah dan memilih naik bus, dilanjutkan dengan jalan menuju antrian bus, mengecek jadwal bus, dan berjalan menuju antrian paling belakang. Pikiran saya udah nggak ke situ lagi. Dan sambil menunggu akhirnya jadi merhatiin pasangan pekerja di depan saya yang kayaknya lagi ngurusin kerjaan via telepon. Sambil merhatiin tiba-tiba kepikiran lagi “Apa jadinya ya kalau tadi kepikiran anak itu dan sekarang jadinya ketemu?? hahaha… jodoh itu namanya. Jodoh.” Tentu saja itu pikiran iseng tanpa makna. Dan (lagi-lagi) entah bagaimana, saya jadi merhatiin orang-orang di depan saya dan terlihat penampakan belakang yang kok kayak saya kenal “wih, anak di depan itu mirip!” dan saya teringat pikiran iseng saya tadi. “wew, serem amat kalau beneran jodoh”, dan setelah merhatiin sebentar langsung ditepis “ah, bukan ah! sejak kapan tu anak make tas yang dikepit”, dan saya pun berkesimpulan kalau itu bukan dia. Lalu, saat bus datang dan antrian mulai naik, anak di depan saya tadi jadi tampak samping. Terlihat lah muka mulus tampak sampingnya karena sudah berkesimpulan itu bukan oknum tersebut, saya jadi berkomentar (dalam hati) “beuhlah orang sini, cowo2nya pun mulus2 bener. Berasa kebanting gw sebagai cewe.” kata saya sambil berjalan mengikuti antrian naik bus.

Setelah di dalam bus, oknum tadi jadi hanya terselang satu orang di depan saya, dan karena berdirinya nyamping, jadi terlihat lebih jelas wajahnya. dan.. wew.. ternyata beneran si oknum tersebut. “Waduh.. ternyata beneran. Hahaha..” Saya jadi tertawa sendiri di dalam hati. Kenapa tadi bisa ngga terlihat? Padahal kan tadi pas jalan ke belakang antrian jatoh-jatohnya papasan. Berhubung ribet negor saat di bus plus orangnya juga lagi make earphone, akhirnya saya memutuskan buat ga negor aja.

Pas mau turun, ternyata yang turun di situ hanya kami berdua. Berhubung dia pake teki (kartu langganan, bisa buat bus atau kereta) dan saya pake recehan yang mana bisa dilakukan berbarengan, jadi deh papasan beneran dan baru saling menyapa dan jalan bareng menuju tempat yang sama.

Dipikir-pikir kadang Tuhan itu lucu ya. Dia senang bermain-main dengan hamba-Nya. Tentu saja bermain ini bukan bermaksud negatif. Apa coba ciptaanNya yang hanya bermaksud negatif saja?? dan kejadian tadi jadi bikin saya ketawa sendiri dalam hati. Yah, untungnya yang dimaksud dengan jodoh kan bukan hanya jodoh hingga ke pernikahan saja (wih.. kok serem ya nulis kata-kata itu?? hahaha..), pertemuan juga bagian dari jodoh, bukan?🙂

6 responses to this post.

  1. astaga hicha, aya” wae

    Reply

  2. bagus..bagus….sayang bukan berarti harus memiliki bukan…mba icha

    Reply

  3. Have a good day yah …

    Reply

  4. Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: