What an Exam!

Huahh… akhirnya ujian masuk berakhir sudah. Ujian yang membuat saya baru kali ini belajar sampai jungkir-balik *lebay*. Ujian ini juga yang membuat saya memutuskan untuk menjauhi dunia maya untuk sementara dengan meng-uninstall aplikasi-aplikasinya di hape (kecuali instagram :P). Dan karena itu juga, kayaknya saya sudah lamaaaa banget nggak nge-update blog. Tulisan terakhir sebelum tulisan ini mah nggak dihitung. Cuma curcol ini. Haha. Hmm.. jadi pengin cerita tentang ujian ini. Sepertinya lumayan buat melepaskan penat di bahu *semoga*.

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Jepang, saya sudah tahu kalau saya belum resmi menjadi mahasiswa Kobe University. Untuk itu saya harus mengikuti ujian masuk yang untuk Fakultas Teknik diadakan tanggal 20-21 Agustus. Niatnya sih saya bisa mengulang-ngulang pelajaran yang akan diujiankan sambil ikut kelas bahasa Jepang. Tapi kenyataannya? eng ing eng *speechless ngga bisa jawab*. Baru setelah kelas bahasa Jepang berakhir tepat sebulan sebelum ujian, saya baru bisa fokus ke ujian masuk saja.

Setelah mencari-cari textbook sampai ke kampus Maritime Engineering di Fukae, akhirnya tanggal tanggal 23 Juli, tepat hari anak di Indonesia, saya mulai membuka-buka buku di meja saya di computer/student room lab yang akan saya masuki. Seperti biasa, menjelang siang begitu, student room masih sepi. Kayaknya yang namanya mahasiswa engineering itu dimana-mana sama saja. Mulai ‘on’-nya baru menjelang sore sampai menjelang pagi. Haha. Dan saat saya sedang mencoba fokus dengan Fundamentals of Engineering Thermodynamics di depan saya, seorang mahasiswa tingkat empat (sebut saja oknum MK) yang juga akan mengikuti ujian masuk menghampiri saya dan mengajak belajar bersama di ruang eksperimen di gedung lain yang kebetulan sedang tidak digunakan. Yah, daripada belajar sendiri, kalau bingung kan bingung sendiri ntar, jadi saya ikuti saja mereka.

Setelah menge-set ruangan agar bisa dipakai belajar, kami pun mulai belajar. Sejujurnya, bagi saya meja di lab itu sepertinya ketinggian, malah bagi yang lain yang memiliki tinggi di atas 170 cm pun agak terlalu tinggi. Karena itu dua hari kemudian saya memutuskan untuk belajar di perpustakaan saja. Dan seperti yang sudah saya duga, belajar sendiri itu berarti belajar lima menit, nge-geje lebih dari tiga puluh menit. Sungguh berbahaya demi masa depan sebenarnya. Untungnya, beberapa hari kemudian (hampir seminggu kalau tidak salah), lab yang biasa dijadikan tempat belajar akan dipakai. Berhubung saya juga lebih memilih belajar di perpus jadi kayaknya nggak ngaruh-ngaruh amat.

Tapi agaknya Allah ingin saya serius belajar. Pagi itu, saat saya akan ke perpus, saya melihat mahasiswa tingkat empat lain yang juga berada di lab yang sama dengan yang akan saya masuki (sebut saja oknum AJ) sedang merokok sambil ber-hape-ria di bangku luar perpus. Berhubung dia tidak melihat saya dan tempatnya juga agak jauh, jadi ya saya melenggang saja ke perpus. Masuk perpus pun saya langsung memperpanjang buku Mechanics of Material-nya bapak Hibbeler yang sudah dua minggu saya pinjam tapi sayangnya belum saya baca-baca juga ~,~. Dan seperti yang saya katakan sebelumnya, Allah memang benar-benar ingin saya belajar! Oknum AJ yang baru masuk sepertinya memperhatikan cewe berkerudung yang lagi di depan counter pengembalian buku sambil naik tangga, karena saat saya berbalik dan akan naik ke lantai dua, mata saya berpapasan dengan dia yang sudah berada di separuh anak tangga. Singkat cerita akhirnya dia mengajak belajar bareng lagi dan kali ini di discussion room-nya perpus yang ber-meja manusiawi. Haha.

Emang yah, berasa banget bedanya belajar sendiri sama belajar bareng. Malu rasanya kalau kejadian lima menit belajar, tiga puluh menit nge-geje terjadi. Berasa jadi pengganggu saja. Jadi mau tidak mau saya jadi ikutan serius juga. Hasilnya hampir seluruh bab di buku om Hibbeler tadi habis saya lahap (lahap doang tapi, pas ujian teteup we nge-blank. Hiks ).

Sampai seminggu berikutnya mereka masih belajar di perpus, dan saya masih ikutan. Lebih seringnya sih mengganggu mereka dengan bertanya ini-itu. Hiks. Untungnya pada masih mau menjawab.

Kalau tadi saya bilang saya menyiapkan ujian ini sampai jungkir balik, masih belum ada apa-apanya deh sama oknum MK, AJ dan mahasiswa tingkat empat lainnya. Mereka datang lebih duluan dari saya, dan pulang sekitar jam 10 malam. Udah gitu di rumah juga pada lanjut belajar lagi. Orang Jepang ini dalam hal kerja keras, saya angkat topi dah pokoknya.

Padahal menurut saya mereka ini sudah sangat pintar dan menguasai bahan-bahan yang akan diujiankan. Hal-hal yang saya tidak mengerti, mereka mencoba menjelaskannya sebisa mungkin. Dengan menggunakan lisan, persamaan, gambar, hingga bahasa isyarat. Sayang, bukan dengan bahasa Inggris, apalagi bahasa Indonesia. Hehe.

Saya jadi teringat, ada teman saya saat kuliah dulu, yang juga pinter banget dan dengan sukarela menjadikan rumahnya tempat belajar bagi anak-anak yang lain. Dia-nya yang jadi pengajar, kita-kita sih jadi yang diajari. Hehe. Mahasiswa-mahasiswa tingkat empat tadi pun kurang lebih sama dengan dia, hanya dalam versi lebih banyak, lebih muda (eh, tapi saat itu umurnya sama ding sama mereka :P), dan berbahasa Jepang. Hmm.. untuk yang terakhir ini, teman saya itu juga sekarang berbahasa Jepang ding. Kerja di Yokohama soalnya. Hehe.

Back to the story, Tanggal 11 sampai 15, perpustakaan tutup demi penghematan listrik. Ya, sejak masalah reaktor Fukushima, Jepang memang sedang dalam krisis energi. Sehingga berbagai pihak berusaha melakukan penghematan listrik, termasuk di antaranya Kobe University. Dan jadilah saya belajar sendiri di dorm lagi. Sebenarnya oknum AJ mengajak belajar bersama di rumahnya. Sayangnya rumahnya jauh benerrr.. mahal diongkos. Hahaha.

Tanggal 17 saya ke kampus lagi untuk melihat pengumuman ruang ujian. Anak-anak pada belajar di lab lagi. Dan saya pun ikut kembali. Dan lagi-lagi hanya bisa mengganggu tanpa membantu mereka belajar sama sekali. Dan.. *oke, plis cha cukup dah dengan dan-dannya kali ini m(_ _)m*

Tanggal 18, hari sabtu, perpus tutup. Pilihan tempat belajar ya hanya di lab. Dan saya tidak datang karena… kecapean. Haha.. umur berpengaruh, Jendral!😛

Tanggal 19, hari minggu (kok jadi kayak resume kegiatan perhari gini ya? Hehe..), lebaran tuan! Heuheu. Habis shalat ied dan makan bersama di Sanbo Hall bareng muslim Indonesia se-Kansai, langsung cabut ke lab lagi. Sebelumnya mampir ke papan pengumuman buat memastikan lagi tempat ujiannya. Saat masih sibuk mengartikan tulisan yang isinya kanji semua di papan pengumuman, ada yang memanggil saya dari arah vending machine di dekat situ. Ternyata oknum AJ, sekalian saja saya pastikan di mana tempatnya sama ahlinya (ya iyalah, secara asli Jepun gitu.. :P). Dan untung saja saya ketemu AJ saat itu, karena ternyata pintu gedung menuju lab dikunci saudara-saudara. Dan saya tidak tahu passcode-nya. Heuheu.

Anak-anak pada tahu kalau hari itu lebaran, dan mereka nanya nggak ada ‘matsuri’ alias festival gitukah? Saya jawab saja kalau baru saja ada ‘matsuri’ di Sanbo Hall. Memang sih, sebenarnya bukan festival, tapi bingung euy jelasin detilnya gimana. Hahaha.

Hari lebaran itu hari terakhir untuk mempersiapkan ujian karena besoknya adalah D-Day of the exam!

Besoknya jam setengah delapan saya sudah cabut menuju kampus Rokkodai tercinta. Sekitar setengah sembilan saya tiba di depan pintu ruangan ujian, beberapa peserta sudah menunggu di depan pintu sambil membaca-baca apa yang bisa dibaca. Awalnya saya kira harus pakai baju resmi, ternyata ada juga yang menggunakan kaos dan celana pendek. Boleh-boleh saja toh ternyata.

Saat kertas soal mulai diletakkan terbalik dihadapan saya, saya bisa melihat bayangan huruf-huruf kanji bertebaran dari kertas terbalik tersebut. Saya pun tertawa getir dalam hati. Huah, hari ini super sepertinya, pikir saya saat itu. Dan angan saya pun melayang jauh *halah* saking jauhnya, saya mendengarkan petunjuk ujian yang dibacakan petugas dengan setengah melamun. Sayup-sayup saya mendengar nihongo a.k.a bahasa Jepang dan mengangkat tangan, ampun lah ya ini si saya, efek julukan Miss Bingung-nya dulu kayaknya masih menempel, dengan separuh bingung saya bertanya dalam hati, ini maksudnya ada hubungan dengan masalah bahasa untuk soal, kah? Mata saya menyapu ke sekitar jangkauan pandangan untuk mencari bantuan pada yang saya kenal. Hanya ada oknum FS yang terjangkau pandangan saya, dan dia juga melihat ke arah saya dengan pandangan “jadi mau soal dalam bahasa Inggris atau bahasa Jepang nih, mbak?” haha, tentu saja itu hanya asumsi saya saja. Mana mungkin dia bertanya begitu, setidaknya tidak dalam bahasa Indonesia😛 dan baru sepersekian detik kemudian, saat petugas mulai buka suara untuk peraturan ujian lainnya, tiba-tiba ada yang teriak dengan nada setengah berbisik setengah khawatir dari arah belakang memanggil nama saya, dan saya pun reflek mengangkat tangan. Huah, untung saja saat itu oknum KK yang juga berada di lab yang sama dengan saya memecahkan keheningan ruangan itu dengan teriakannya karena ternyata memang benar kalau yang dimaksud petugas adalah bagi yang tidak mengerti jika soal diberikan dalam bahasa Jepang harap mengangkat tangan. Huah.. Kitahata-kun hontouni arigatou! tasukata!

Jam 9.30 ujian 数学a.k.a Matematika dimulai. Empat soal beranak-pinak *lebay* harus diselesaikan dalam waktu 80 menit. Lalu dilanjutkan dengan bahasa Inggris. Setelah istirahat 1 jam, dilanjutkan lagi dengan 材料力学a.k.a Strength of Material, 流体力学a.k.a Fluid Dynamics, dan 熱力学a.k.a Thermodynamics. Masing-masing diberi waktu satu jam. Dengan soal yang lagi-lagi beranak pinak, hampir dua kali lipat banyaknya dari yang saya alami saat kuliah S1 dulu. Saya sudah pasrah. Dahsyat lah kata saya mah *lebay*. Habis bagaimana tidak, dengan waktu hanya 2/3 dari yang biasa saya hadapi, menyelesaikan soal dua kali lipat banyaknya itu butuh skill ekstra, Jendral! Tidak hanya kemampuan analisis, tapi juga kemampuan menulis.

Saat istirahat, berhubung saya ingin shalat dzuhur di lab tapi tidak tahu dimana kunci lab diletakkan, saya ditemani oknum FS turun ke pos satpam untuk mengambil kunci tersebut. Sudah pasti yang dibahas adalah kejadian teriakan oknum KK tadi. “Tadi untung banget ya, Kitahata-kun teriakin saya,” kata saya. “Iya, saya juga kaget ngedengernya. Untung banget ya!” yeah, every body knows I’m still bad at Japanese, apalagi baca kanji. Sejujurnya sih saya sebenarnya pengen ngomentarin baju oknum FS yang bak model hari itu, tidak nyantai seperti biasanya, atau sewajarnya orang mau ujian. Tapi berhubung saya tidak tahu bagaimana menanyakannya dalam bahasa Jepang, tidak jadi saya tanyakan. Hehehe.

Pukul 17.00 ujian hari itu selesai. Keesokan harinya masih ada ujian Control Mechanics, Manufacturing Process, bahasa Jepang, dan interview. Khusus untuk mahasiswa asing, diperbolehkan tidak mengambil dua ujian. Kebetulan saya tidak mengambil dua ujian pertama di hari kedua, jadi hanya bahasa Jepang dan interview saja. Karena itu saat yang lain mulai beranjak keluar, saya masih di dalam ruangan demi menanyakan besok itu saya harus bagaimana. Ruangannya masih sama soalnya. Dan ujiannya disambung terus dari ujian pertama hingga ketiga.

Saat saya keluar, di luar sudah menunggu oknum FS dan AJ yang langsung menanyakan besok saya bagaimana. Ckckck.. adik-adik ini baik-baik bener ya.. eh, tapi bisa saja karena pengen nanyain kunci lab ding.. ke-GR-an nih saya kayaknya. Hihihi.. Iya, mereka lanjut lagi belajar di lab buat ujian besok. Dahsyat! Saya sih memilih pulang buat istirahat. Keliyengan buoy! Haha.

Keesokan harinya tibalah saatnya untuk ujian bahasa Jepang. Ujian ini harus diikuti mahasiswa asing yang hanya dua orang untuk tahun ini. Wew. Saya sudah berharap, untuk bagian mengarangnya, semoga tema-nya gampang. Bagaimana tidak, tahun lalu temanya “Gerhana Matahari Total”. Huah, dalam bahasa sendiri saja tidak bisa dibilang mudah apalagi dalam bahasa yang tulisannya pun berbeda. Dan alhamdulillah temanya kali ini “最近、あなたの印象に残った事項”atau kalau diterjemahkan bebas, kurang lebih artinya “Hal-hal yang menarik perhatian anda akhir-akhir ini”. Sayangnya saya lupa kalau 印象artinya impression dan saya pikir事項artinya kecelakaan. Jadi tetap saja karangan saya ngaco. Hahaha *ketawamiris*.

Setelah ujian tulis, satu jam kemudian lanjut interview. Dari sekitar lima belas peserta, saya kebagian terakhir! Heu, jadi menunggu hampir 1.5jam deh. Pas masuk ruangan, lho ada Professor saya ternyata. Entah sugesti, entah apa, yang jelas saya jadi merasa lebih tenang. Berhubung Professor saya sudah memberi tahu kalau saya boleh meminta ditanyakan dalam bahasa Inggris, tak lama setelah diminta menyebutkan nomor ujian dan nama dalam bahasa Jepang, dan masuk ke pertanyaan inti pertama, “eigo de itadakenai deshou ka?” tanya saya meminta ditanyakan dalam bahasa Inggris.

Pertanyaan yang ditanyakan standar sih. Motivasi saya memilih Kobe University, apa yang akan saya lakukan dengan kuliah-kuliah yang semuanya berbahasa Jepang, dll. Dan Professor saya pun bertanya, apakah saya kesulitan berkomunikasi dengan mahasiswa Jepang di lab. Beliau kasihan kali ya, karena bahkan saat tidak wawancara pun, saya selalu ditanyakan apakah saya baik-baik saja. Sejujurnya saya ingin menjawab “Alhamdulillah, saya baik-baik saja, Prof!” tapi sampai sekarang saya bingung menemukan padanan kata ‘alhamdulillah’ dalam bahasa Jepang, jadi ya saya jawab saja “Until right now, everything is fine.” Hehehe.

Entahlah bagaimana dengan hasilnya. Kalau ditanya, sejujurnya dari lubuk hati yang terdalam pengen lulus. Ya iya lah, emang ada gitu yang nggak mau lulus. Hehehe. Dan lagi tak terbayangkan bagaimana jadinya ini badan kalau tidak lulus. Sebulan persiapan saja sudah membuat rok saya tidak bisa dipakai saking longgarnya, apalagi kalau sampai harus menunggu tahun depan. Heuheu… Na’udzubillahi mindzalik!

Oh iya, last but not least, Taqabbalallahu minna wa min kum, shiyamana wa shiyamakum. Maafkan saya lahir batin ya! Mohon doanya agar saya lulus ya.. Aamiin..🙂

11 responses to this post.

  1. update blog lagi kak ^^v

    Reply

  2. Mohon maap lahir batin ya Cha. Semoga lulus ujiannya. Kebayang gimana jungkir baliknya tuh. Wish you all the best yak..🙂

    Reply

  3. Hallo, Icha, sy baru tahu kalau Icha di Jepang. tuing saat melihat komen icha di page, namamu ini kan khasss sekali. Semoga semua urusannya dilancarkan Allah. Ayo, update blog-nya, banyak orang yg bisa belajar dr catatan Icha.

    Reply

    • Posted by Hicha Aquino on August 26, 2012 at 1:43 am

      Wih… Ada bang Darwis!😀
      Amiin yaa Allah.. Makasih bang! Sedang menanti titipan “negeri para bedebah” dari teman yang mudik nih. :))

      Reply

  4. wow… kayaknya susah juga ya.. eh salam kenal, mba icha.. saya mau tanya kalo ujian doctoral degreenya seperti itu juga ya gambarannya?

    Reply

    • Posted by Hicha Aquino on November 1, 2013 at 10:39 pm

      maaf, saya baru tau ada komen.
      yg doktoral relatif lebih mudah, hanya interview proposal.
      tapi itu tergantung universitasnya juga sih. hehe.

      Reply

  5. […] Jepang sudah selesai, jadi bisa diisi dengan belajar untuk ujian masuk. Seperti sudah diceritakan sebelumnya, saya belajar bareng anak-anak undergrad yang juga akan ikut entrance exam buat tahun spring […]

    Reply

  6. Posted by ira syarif on November 18, 2013 at 6:41 am

    Owh.. Makasih ya infonya.. Saya rencananya mau ngambil di Kobe jg.. Doain ya.. Masih deg2an nunggu hasil secondary screeningOwh.. Makasih ya infonya.. Saya rencananya mau ngambil di Kobe jg.. Doain ya.. Masih deg2an nunggu hasil secondary screeningOwh.. Makasih ya infonya.. Saya rencananya mau ngambil di Kobe jg.. Doain ya.. Masih deg2an nunggu hasil secondary screeningOwh.. Makasih ya infonya.. Saya rencananya mau ngambil di Kobe jg.. Doain ya.. Masih deg2an nunggu hasil secondary screeningnya..😀

    Reply

  7. […] lebaran. Saya pulang ding, bukan saat Ramadhan tapi. Hehe. Terus, terus, gimana Ramadhannya? Kalau Ramadhan pertama saya “bergulat” dengan ujian masuk, Ramadhan kedua masih “bergulat” dengan […]

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: