Random Happenings

必要じゃないかもしれないけど、ただ書きたいなあーって思って。

Tulisan random dan tidak jelas. Hehehe.

– Beberapa minggu yang lalu, di kelas 会話 (percakapan) terakhir sebelum ujian akhir, sensei mengundang beberapa mahasiswa Jepang untuk bercakap-cakap dengan kami. Saat itu, tema percakapannya tentang film, masakan, dan hal-hal menarik di Jepang. Setelah satu jam berdiskusi bergiliran, beberapa menit sebelum jam kelas tersebut berakhir, sensei meminta masing-masing orang Jepang di tiap kelompok menceritakan diskusi mereka. Ada yang berkomentar tentang fashion, kebiasaan sehari-hari, hingga satu hal yang menarik perhatian saya saat seorang cewe modis (cewe sini emang ada yang ga modis gitu?) yang menjelaskan tentang pendapat seorang cowo Australia di grup-nya. Menurut cowo tersebut ‘Nihonjin wa teinei sou desu kedo, jitsu wa shinsetsu dewa nai’ (Orang Jepang itu kelihatannya aja yang sopan santun, tetapi sebenarnya tidak baik). Gadis itu kemudian menjelaskan pengalaman si cowo yang di stasiun kereta melihat baby cart jatuh di tangga, tetapi tidak ada yang peduli. Semua yang berada di sekitar situ tidak peduli dan pura-pura tidak melihat.

Hmm.. Mungkin juga sih. Toh, Sebenarnya itu wajar. Di Jepang kah, Indonesia kah, Australia kah, tetap saja pada dasarnya manusia itu tidak ada yang 100% baik atau 100% jahat. Tinggal bagaimana kita melihat sisi positifnya saja. Meskipun begitu, saya berusaha memaklumi pendapat cowo tadi. Karena dasarnya manusia juga, terkadang ber-ekspektasi lebih terhadap sesuatu. Mungkin sebelum kesini, dalam bayangan cowo tadi orang Jepang akan selalu baik. Padahal kenyataannya, orang sini manusia biasa juga. Dan bukan tidak mungkin di negaranya sendiri lebih baik dari sini, bukan?

Namun selain itu, yang saya rasakan, orang sini memang punya kecenderungan tertutup. Mereka ramah dan baik hati, tapi untuk menjadi dekat bukan hal yang mudah. Hal ini kemudian diperjelas dengan pernyataan seorang sensei yang mengatakan hal tersebut memang benar, mungkin karena secara geografis Jepang memang tidak berbatasan darat dengan negara manapun. Selain itu, sejarah Jepang yang menutup diri dari bangsa lain sampai akhir abad 19 juga menjadi salah satu faktor penyebabnya. Belakangan saya melihat usaha mereka untuk lebih terbuka, misalnya dengan semakin mempermudah urusan administrasi bagi orang asing dan semakin digalakkannya bahasa Inggris terutama bagi anak-anak. Mungkin efek menjaga jarak dengan orang asing tersebut masih terlihat, tetapi setidaknya usaha mereka patut dihargai.

– Sempat terlibat percakapan tingkat tinggi (karena saya tidak mengerti sebagian besar kata-kata yang dipergunakan) dengan beberapa anggota lab tentang agama dan membuat saya berkesimpulan, sebaik-baiknya seseorang, akan lebih baik kalau dia beragama, demi hati yang tidak kosong.

– Mahasiswa sini, kalau sudah mulai masuk kuliah, cenderung gengsi untuk tinggal bersama orang tua. Kalau pun masih tinggal biasanya mereka akan merasa sangat berterimakasih dan tidak minta uang lagi dari orang tua mereka. Begitu juga orang tua, saat sudah tua, mereka juga gengsi ditanggung anak-anaknya. Karena itu tak jarang sampai sudah sangat sepuh pun terkadang masih bekerja paruh waktu sebagai cleaning staff, pegawai swalayan, atau pegawai museum. Ajaran mandiri yang sangat baik, tapi sisi negatif-nya tak jarang hubungan orang tua dan anak sangat renggang. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya. Sebagai contoh, seorang anggota lab saya tidak tahu keberadaan abang dimana dan tidak ada perasaan khawatir tercermin dari wajahnya.

– Kalau sedih atau perasaan-perasaan tidak enak lainnya tidak diutarakan ke siapa-siapa, itu sepertinya biasa saja. Seperlu-perlunya mencurahkan isi hati terkadang bagi perempuan lebih sering hanya untuk melegakan hati saja, bukan untuk mencari solusi dan lebih seringnya menyesal telah membuka aib sendiri. Sehingga wajar jika pada akhirnya banyak yang memilih untuk menyimpannya sendiri. Tapi untuk hal bersenang-senang, rasanya lebih menyedihkan saat hanya bisa bersenang-senang sendiri. Tidak ada yang bisa diajak tertawa bersama itu lebih miris dari pada tidak ada yang bisa diajak menangis *lebay*

– Kemarin sepupu nge-twit, katanya ibu jadi sering nonton NHK dengan alasan siapa tahu melihat saya tidak sengaja terekam di sana. Mendengar hal itu hati saya berasa campur-aduk. Dipikir-pikir ini memang masuk tahun kesebelas jauh dari orang tua. Terkadang ingin pulang saja dan menjaga keduanya. Sayangnya ide tersebut selalu ditentang dengan alasan orang tua saya lebih ingin melihat saya berkembang daripada harus di rumah saja. Tentang jaga-menjaga, selama keduanya masih berdua, saya tidak perlu khawatir.

– Sampai saat ini belum pernah ikut nomikai (acara minum-minumnya orang Jepang), pernah sih ikut BBQan-nya lab, but why I feel doubt that it could be called as nomikai. sesekali jadi pengen melihat juga. Apakah seperti yang dikatakan banyak orang?

– Saya heran kenapa libur paling panjang itu libur musim panas? Padahal panas gini kan bikin malas kemana-mana. Eh, itu saya doang kali ya?? hahaha…

Yah.. tulisan ini benar-benar random dan tidak penting.

3 responses to this post.

  1. Wuah. Udah 11 tahun di Jepang? Etapi kok. *kepo* hehehe..

    Sedikit mengerti tentang budaya Jepang yang tertutup itu. Sensei saya dulu juga cerita gitu dan orang di kantor juga gitu. Dari salah satu blog bilang salah satu upaya deket dengan orang jepang itu pergi ke pemandian umum dan minum bareng.

    Reply

    • Posted by Hicha Aquino on August 26, 2012 at 1:35 am

      Saya bilangnya udah masuk tahun ke sebelas jauh dari orang tua, bukan udah sebelas tahun di jepang kok.. :p

      Wih.. Ngebayanginnya aja udah serem kalau harus ke pemandian umum. Udah terbuka, mahal pula.. Haha.. Sepenglihatan saya, sekarang udah agak jarang pemandian umum, paling onsen atau pemandian air panas (untuk umum jg sih tapi. Hehe..). Tapi kalau tentang minum2 emang bener tuh, mungkin karena cuma dengan minuman mereka bisa ngeliatin aslinya kayak gimana kali ya..

      Reply

  2. […] ada hubungannya dengan postingan yang ini sih. Hanya sedang ingin menulis […]

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: