Setengah Juli

Iya, tau. Sekarang udah tanggal 20. Udah lima hari lebih dari tengah bulan. Besok pun insyaAllah udah mulai puasa. Terlepas dari permasalahan hisab dan rukyat hilal, yang penting shaum adalah kewajiban. Nggak cuma menahan lapar dan haus, tapi juga segala hal yang membatalkannya dan semoga dapat dilanjutkan meski Ramadhan berakhir nanti. Aamiin.

Welcome Summer!! Sebagai orang yang berasal dari negara tropis, saya hanya mengenal musim hujan dan musim kemarau. Setiba di sini, sesaat setelah merasa kedinginan, kemudian mulai menghangat, dan kini tibalah saatnya musim panas. Kalau dilihat dari temperatur, masih belum terlalu berbeda dengan negara sendiri. Masih berkisar antara 26-30°C. Dan sejujurnya saya lebih sering melihat matahari tertutup awan di siang hari belakangan ini. Tapi meski begitu, kelembabannya lumayan bikin gerah dan lengket juga.

Yukata Event by Kokoronet

Kokoronet merupakan organisasi yang kegiatannya men-support mahasiswa asing dan keluarganya. Salah satu kegiatannya adalah Yukata Event yang diadakan tanggal 7 July lalu. Bertepatan dengan Perayaan Tanabata. Saya sih tidak merayakan tanabata. Tapi pengen juga nyobain Yukata. Hehe..

Tahapan pertama dari memakai yukata, tentu saja menggunakan yukatanya *yaiyalah…. :p*. Dan ternyata, yukata ini gedeee.. Jadi harus ditambah ikatan sana-sini. Setelah itu, saatnya menggunakan obi. Saya sih pakai yang instant saja. Tinggal sret sret kelar deh. Sebelumnya diberi tambahan lempengan plastik (ga tau namanya apa… hehe..) di balik obinya. Mungkin biar kelihatan rapih kali ya..

Karena saya menggunakan yukatanya dengan baju biasa di baliknya, jadi yukata ini berasa bikin gerah… Padahal, bahannya enak lho.. mungkin karena obinya nge-pas banget juga kali ya.. Sangat lumayan lho bagi yang ingin mengurangi makan.. hihihi..

Tsurukabuto Shogakko

Tiap semester, bagi yang mengambil kelas Japanese Culture, akan ada kegiatan kunjungan ke Shogakko a.k.a Sekolah Dasar yang ada di dekat kampus. Dan untuk semester ini, jadwalnya tanggal 9 July kemarin. Saya sudah diberitahu sejak awal semester dan tiga minggu sebelumnya juga sudah diberitahu kalau akan ada makan siang bersama, karena itu bagi yang tidak bisa makan di sana diharapkan membawa bento sendiri.

Sekitar jam 11.30 bersama tiga sensei, rombangan mahasiswa asing ini berangkat. Saya dan dua teman dari China kebagian kelas 4.2. Saat kami tiba, anak-anak yang baru selesai kelas PE baru pulang berenang.

“konnichiwa!” masing-masing mereka yang lewat menyapa kami. Beberapa di antaranya bertanya “Ho-san?” ternyata mereka sudah diberitahu jika akan ada mahasiswa asing yang datang. Dan sepertinya yang menjadi guide teman se-dorm saya YanNee a.k.a Ho-san seorang yang populer di kelasnya. Terbukti hampir sekelas mengetahui kalau yang akan berada di kelas itu adalah Ho-san.

Tak berapa lama kemudian, saya juga dijemput seorang gadis sepuluh tahun bernama Ai. Saya dan dua teman lainnya diajak ke kelasnya dan bertemu dengan wali kelas mereka. Dan kesan pertama saya tentang kelas mereka adalah sama seperti yang ada di komik-komik, lengkap dengan wali kelas berwajah galaknya. Haha.

Rak tempat tas berada di belakang. Karya-karya mereka di tempel di dinding di sebelah atas rak dan karton besar bertempelkan foto-foto seluruh anak-anak berada di tengah-tengah. Saat kami datang, mereka akan makan siang, jadi meja dan kursi kelas di atur sedemikian sehingga mereka duduk per grup masing-masing berisi empat orang. Murid yang bertugas mengambil makanan dari kantin dan membaginya juga sudah datang lengkap dengan pakaian ala koki beserta masker di wajah mereka. Dipikir-pikir kasihan juga ya, kecil-kecil harus membawa panci besar-besar begitu. Setelah makan siang, waktunya bermain. Panas-panas begitu, mereka bersemangat bermain dodge ball, lompat tali, atau bermain dengan palang-palang bertiang, dll.

Image

Masa Kecil Terlalu Bahagia😛

Waktu bermain hanya 15 menit, lalu dilanjutkan dengan souji atau bersih-bersih. Mulai dari kelas, lorong, hingga kamar mandi semuanya anak-anak yang bertugas. Dan mereka harus membersihkan semuanya dalam waktu 15 menit. Sebelum kemudian kembali ke kelas untuk pelajaran berikutnya.

Karena saat itu kami datang, maka kelas berikutnya adalah perkenalan tentang negara masing-masing yang dilanjutkan dengan tanya-jawab. Seperti saya duga, lagi-lagi saya ditanyakan tentang kerudung yang saya gunakan.

Setelah perkenalan dan tanya jawab, kelas dilanjutkan dengan bermain di dalam ruangan. Kelas kembali di atur, meja-meja di susun ke belakang dan kursi-kursi di buat melingkar di tengah ruangan. Kelas saya memainkan permainan bakudan atau literally diartikan sebagai bom. Seorang anak bertugas memutar dan menghentikan CD tanpa melihat teman-temannya yang duduk di dalam lingkaran sambil men­-operkan bola. Saat CD berhenti, murid yang masih memegang bola harus maju dan jongkok di tengah lingkaran. Sebenarnya kalau ada hukuman lain selain jongkok, mungkin akan lebih seru. Tapi saya juga kurang mengerti kenapa hanya jongkok di tengah lingkaran yang dijadikan hukuman.

Image

Tsurukabuto Elementary School-Class 4.2

Orix Buffaloes vs Saitama Seibu

Seminggu kemudian, di hari Sabtunya, setelah kajian menyambut Ramadhan di Mesjid Kobe, saya dan beberapa anggota PPI-Kobe yang sedang tidak ada urusan atau halangan, memenuhi ajakan Kato-san dari KIS (Kobe Indonesia Society) yang dikasih temannya 20 tiket pertandingan baseball Orix Buffaloes vs Saitama Seibu. Sayangnya, Orix yang jadi tuan rumah justru harus tunduk 1-4 di tangan Seibu.

Image

Orix Buffaloes vs Saitama Seibu

Jelajah Museum-museum

Dengan kartu “Happy Memory Pass” dan “Hyogo Culture Pass” yang dimiliki setiap mahasiswa Kobe Univ, harusnya bisa dengan mudah menyusuri tempat-tempat wisata di Kobe bahkan di seluruh prefektur Hyogo ini.

Sayangnya baru beberapa tempat saja yang saya telusuri. Di antaranya Museum “The Great Hanshin-Awaji Earthquake Memorial”, “Kobe Science Museum”, dan “Hyogo Prefectural Museum of Art”.

Image

The Great Hanshin-Awaji Earthquake Memorial

Untuk museum yang pertama, “The Great Hanshin-Awaji Earthquake Memorial”, merupakan museum untuk mengenang gempa yang terjadi di Kobe dan sekitarnya, pada tanggal 17 Januari 1995. Di museum ini tidak hanya terdapat diorama dan film singkat tentang musibah tersebut, tetapi juga penjelasan, baik langsung maupun dalam bentuk games, tentang usaha preventive yang dapat dilakukan dalam menghadapi bencana.

Museum kedua, “Kobe Science Museum”, dari namanya saja sudah dapat ditebak bagaimana isinya. Tidak hanya tentang science dan teknologi, di sini juga terdapat planetarium. Sayangnya, saat itu saya sedang terburu-buru sehingga tidak sempat masuk ke planetariumnya. Mudah-mudahan lain kali bisa ke sini lagi. Mumpung jaraknya hanya sekitar 800m dari asrama saya. Jalan kaki, 15menit juga sampai.

Sayang, di dalam museum tidak boleh mengambil foto. Bagus juga sih peraturan seperti itu. Apalagi untuk museum ketiga, “Hyogo Prefectural Museum of Art”. Jujur, saya memang tidak mengerti seni, dan sampai sekarang pun tidak mengerti kenapa lukisan manusia tanpa pakaian dikatakan bernilai seni tinggi. Sungguhlah, diri ini tidak mengerti. Dan memang sebaiknya tidak usah mengerti saja sepertinya. Haha.

Kalau dipikir-pikir ini sudah jumat lagi. Sudah lima hari setelah hari minggu. Ya..ya..ya.. tulisan ini memang tulisan tengah juli yang terlambat lima hari, dan lagi-lagi bingung bagaimana mengakhiri *halah**apasihcha* *sorryGeJe*

2 responses to this post.

  1. Dipikir-pikir kasihan juga ya, kecil-kecil harus membawa panci besar-besar begitu. -> dari kecil diajar mandiri, biar ga manja :p

    Reply

  2. Seruuu Cha.
    Baca soal SD di Jepang dari postingannya Mba Imelda Twilight Express juga. Hehehe
    Museumnya sayang banget ya ga ada potonya😦😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: