May and Me

Bulan Mei Baru aja berlalu, bulan Juni baru aja datang. Si Bulan yang sebenar-benarnya bulan (atau di-bahasa ilmiah-kan sebagai Lunar (?)) sering muncul tengah siang bolong (nggak bolong-bolong banget sih, tapi karena maghrib dan jam lima itu bedanya dua jam, jadi berasa lama. Hehe..) masih bulan yang sama dengan yang saya lihat di Lhokseumawe, Padang, Lubuk Basung, dan Bandung.

Bulan Mei baru berlalu (terus kenapa, cha? ~,~), dan sepertinya hidup saya yang sebenarnya di sini justru baru dimulai. Bagaimana pun kedepannya, saya percaya Allah adalah sebaik-baiknya Dzat.😀 Sebelum mulai bercerita tentang bulan ini, saya ingin menuliskan banyak hal tentang bulan lalu. Yang terjadi dan yang saya pikirkan. Yeah, this post will be sooo random! Hahaha…

Golden Week dan Kobe Matsuri (Kobe Festival)

Bulan Mei di Jepang bisa dibilang bulan yang ditunggu oleh masyarakat Jepang. Bagaimana tidak, di awal bulan ini beberapa libur numpuk di satu minggu. Libur tersebut adalah Showa no Hi (hari kelahiran kaisar sebelumnya, kalau nggak salah), constitution day, green day (bukan hari yang khusus untuk group band Greenday lho ya.. :p), dan children’s day. “Lima hari libur, lu kemana aja cha?”  ga ke mana-mana. Di Kobe saja saya. Hehe.. Bukannya tidak ingin pergi kemana-mana, hanya saja rasanya kok nggak adil ya, udah nyampe Kyoto tapi sekitaran Kobe malah belum ditelusuri. Satu hal lagi, saya khawatir juga dengan ujian masuk saya, rasanya tidak punya waktu untuk belajar. Jadi inginnya sih saya mulai mengulang-ngulang Kalkulus, Mekanika Fluida, dan kawan-kawannya di hari libur itu (yaa kalleee bisa belajar ~,~). Jadi saya putuskan untuk tidak keluar kota. Cukup di Kobe saja. Akhirnya selama liburan golden week, saya cuma ke Meriken Park dan Kobe Port Tower saja.

Image

Seputaran Meriken Park (Sore Hari)

Image

Seputaran Meriken Park (Malam Hari)

Tanggal 15nya, Kelas bahasa Jepang saya diliburkan karena memperingati hari ulang tahunnya Kobe University yang tahun ini usianya 110 tahun. Berhubung saya belum melakukan pelaporan kedatangan ke KJRI maka hari itu dimanfaatkan untuk ke KJRI di Osaka. Pengennya sih sekalian main ke Universal Studio Japan, tapi berhubung waktunya kurang dan nggak mau rugi (iyalah, tiket masuk ¥8000 cuma buat 2jam itu sangat rugi sekali) jadi cuma mampir sampai pintu masuk dan nebeng makan di Museum Takoyaki doang.

Tanggal 20nya libur lagi (tentu saja, hari minggu gitu lho.. :P) dan bertepatan dengan Kobe Matsuri, semacam festival yang kalau di Indonesia mirip pawai 17an. Bedanya di sini kebanyakannya pawai penari samba, mungkin karena Kobe itu sister city dengan Rio de Janeiro kali ya.

Kobe Matsuri 2012 – Opening Dance

Kobe Matsuri 2012 – Samba

Kobe Matsuri 2012 – Taiko

Random Happened

Yak, yang diatas tadi yang terjadi dengan kota ini (dan saya), lalu yang terjadi dengan saya sebulan ini apa saja, ya?? Penasaran? Nggak? Hahaha… terserah anda itu mah.. hihihi..

  • Saya ikut program home visit, minggu kemarin baru pembukaannya, jadi baru perkenalan dengan calon keluarga yang bakal di-visit-in ntar. Dan calon keluarga saya ini ternyata pasangan muda dengan tiga orang anak, si sulung berusia delapan tahun, dan adik kembarnya yang berusia enam tahun. Ketiganya kawaii sekali😄 plus imut-imut juga, awalnya saya pikir masih lima-empat tahun gitu. Lucunya, saat saya tanya namanya dengan bahasa Jepang, anak-anak ini menjawab dengan bahasa Inggris! Untuk ukuran Jepang, itu adalah sesuatu yang wow sekali. Ternyata, sang ibu adalah guru bahasa Inggris.😄
  • Selain home visit, mahasiswa asing di kampus saya juga ditawari supporter dari pensiunan Mitsui Group. Berhubung senang dengan hal baru, ya saya daftar saja. Dan ternyata, berhubung supporternya pensiunan karyawan, maka bahasa yang digunakan pun bahasa karyawan alias bahasa resmi a.k.a sonkeigo! Bingung lah saya. Jadi banyakan melongo-nya pas perjumpaan pertama. Tapi seru juga sih.. haha..
  • Belakangan saya suka merhatiin twitter anak-anak lab. Tidak, saya tidak berniat ngestalk (walaupun keliatannya kayak nge-stalk juga sih.. ~,~). Saya hanya ingin tahu bahasa sehari-harinya mereka. Yah, bahasa Jepang yang saya pelajari kan lebih ke bahasa formal. Tidak sampai mem-follow sih, kalau itu nanti dulu deh. Saya tanya dulu boleh di-follow atau nggak. Kesannya serem aja kalau tiba-tiba nge-follow. Hihihi…
  • Seorang sensei saya minta diajarkan menggunakan jilbab. Sudah saya tulis di sini sebelumnya.
  • Sensei tersebut kemudian mengajarkan saya merangkai bunga(生け花). Sensei di kelas kanji, mengajarkan kami kaligrafi Jepang (書道)

Ngetes Kaligrafi Kanji (Shodou)

  • Saya salah memasukkan PIN ATM sampai tiga kali! Jadilah kartunya di-blocked. Awalnya sempat panik. Bagaimana tidak, ngurus-ngurus begituan kan berarti berurusan dengan orang-orang Jepang yang berbahasa resmi. Heuheu.. Tapi setelah dibantu mencari peta Kantor Pos terdekat (nabungnya di kantor pos) oleh anak-anak lab (ada yang mau nemenin sih, tapi nggak bisa saat itu karena sedang eksperimen dan saya juga nggak mau nyusahin orang ah, jadi saya bilang aja saya coba sendiri dulu aja) plus makan siang (serius, yang satu ini mood booster banget lho.. XD) saya jadi excited sendiri, “kayaknya bakal seru nih..” pikir saya saat itu. Alhamdulillah ada google map, akhirnya bisa ketemu juga kantor posnya. Dan ternyata tidak sesulit yang saya pikir di awal, alhamdulillah lima belas menit kemudian kartu saya bisa dipergunakan kembali.😀

Random Thought

  • Setelah merhatiin twit-nya anak-anak lab, saya jadi beranggapan bahasanya cowo-cowo (apalagi cewe-cewenya) Jepang itu (terutama anak-anak lab saya sih :P) comical sekali ya.. bahkan saat ingin mengeluh pun emoticon yang digunakan kawaii sekali.
  • Sampai sekarang saya masih berpikir, kira-kira orang sini kerja keras banting tulang tiap hari tujuannya buat apa ya??
  • Selama ini, saat berada di negeri sendiri, saya suka berpikir orang asing itu berbeda. Bedanya apa, saat itu nggak terlalu mikirin, cuma ngerasa sepertinya tidak akan pernah bisa berhubungan lebih dari hubungan basa-basi. Saat kemudian saya berada di posisi mereka, entah kenapa saya tidak merasa menjadi orang asing. Saya berperilaku sebagaimana saya berperilaku di negara sendiri saja dan saya merasa mereka sama-sama manusia seperti saya. Tapi sepertinya tidak dari sisi merekanya, mungkin sama seperti saya terhadap orang asing dulunya, bagi mereka saya tetaplah orang asing, yang tidak mungkin dijadikan teman lebih dari rekan kerja (kalau tidak mau dibilang hubungan basa-basi.. :p). Dan sepertinya pikiran saya yang tidak merasa menjadi orang asing pada akhirnya tidak tepat. Saat kemudian saya berkesempatan berdiskusi dengan sesama muslim dari Malaysia di lab saya, akhirnya saya menyadari bahwa mau bagaimanapun saya dan mereka berbeda. Sangat sulit untuk mendiskusikan tentang kehidupan (lebih tepatnya tentang cara hidup :P), yang mana sebagai muslim kehidupan sehari-hari itu tidak bisa dilepaskan dari agama, dengan orang yang tidak beragama. Mau bagaimana mereka menyediakan support tetap saja pola pikirnya berbeda. Anak Malaysia yang sudah masuk tahun keenam di sini itu bilang “Tiga tahun di awal di sini itu tanoshii (menyenangkan), tapi masuk tahun keempat mulai menjemukan, biar bagaimana pun berdiskusi dengan mereka sangat sulit. Kalau mereka stress larinya ya ke minum-minuman keras, jadi ya biar bagaimana pola pikirnya beda. ” Saat dia bilang (kurang-lebih) begitu, saya jadi sadar . Iya juga ya, mau bagaimana pun tetap saja pola pikirnya berbeda. Awalnya sempat kepikiran, tapi kemudian saya pikir, “Kenapa juga harus terlalu dipikirkan, toh dia (anak Malaysia tadi) juga tiga tahun di awal cukup menikmati, jadi kenapa saya sendiri juga tidak nikmati dulu saja. Tentang kesulitan di masa depan, percaya deh Cha, Allah nggak akan ngasih cobaan di luar kemampuan hambanya kan ya?” pikir saya kemudian. Yeap, saya harus manfaatkan sebaik-baiknya kesempatan yang telah diberikan. Tidak hanya untuk belajar akademis, tapi juga untuk bersenang-senang dan memaknai kehidupan.
foto-foto Kobe Matsuri dapat minta dari Mas Junaedy, 
karena foto-foto saya tidak layak published >,<

4 responses to this post.

  1. Aiih.. Seneng deh baca blog ini. Kebetulan saya kerja sama orang jepang di indonesia. Dan duluuu banget sempat tertarik belajar budaya jepang. Jadinya bisa sedikit ada gambaran kehidupan di jepang sono kayak gimana.

    Yup bener Cha (sok akrab :P), dinikmatin aja dulu 3 tahun pertama. Selanjutnya kan udah ada yang ngatur..😀

    Reply

  2. Posted by dwiryaniarizona on June 4, 2012 at 10:23 pm

    yeah, you must be happy, anata no yume dakara ne;)
    Someday I want to feel what u feel now, and see with my own eyes, 日本。。 ;)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: