First Day(s) in Kobe

Udah Lama ga ng-update blog.. and here I am! In country that I’ve written in my diary since long and promised that someday I would come. Japan a.k.a Nihon!

Tiba di Jepang

Ini hari ke.. (sekian) saya berada di Jepang, atau tepatnya Kobe-shi, ibukota prefektur Hyogo. Kurang lebih 1 jam dari Osaka.

Berangkat dari Cengkareng bersama teman-teman MEXT Scholar lainnya pada tanggal 1 April jam 21.55 dengan  JAL 726 dan tiba di Narita jam  6.45 JST. Dari Narita, saya dan beberapa teman lainnya yang masing-masing mendapatkan beasiswa di universitas sekitaran Osaka, naik Limousine Bus dari Narita ke Haneda untuk melanjutkan penerbangan ke bandara Itami di Osaka.

Image

Tiket Bus Narita-Haneda

Image

Haneda Airport

Dari Osaka, saya dijemput Professor saya dan langsung menuju Kobe University karena beliau ada rapat baru kemudian saya diantarkan ke Kobe University International Residence di Chuo-Ku, Saat pertama kali turun pesawat di Narita, udaranya dingin sekali. Mungkin karena kita berada di negara tropis yang hangat sepanjang tahun. Batang-batang sakura masih banyak yang gundul, kata sensei saya mungkin sekitar 1-2 minggu lagi bunga sakura akan bermekaran.

Kobe University International Residence

International Residence tepatnya berada di Port Island, sehingga tidak jauh dari dorm saya, kita bisa melihat pelabuhan beserta kapal-kapal besarnya. Di sini ada beberapa tipe kamar. Saya sendiri mendapatkan kamar bertipe D yang berukuran 18m2 dengan tempat tidur, AC, meja, lemari, rak buku, drawer, dan balkon. Dapur, kamar mandi, toilet, dan Laundry room di-share bersama 13 penghuni lantai tempat saya berada. Sayangnya, tidak ada AC di lorong, sehingga saya harus kedinginan terlebih dahulu sebelum ke dapur ataupun toilet, begitupula saat kembali ke kamar.

Image

View dari Kamar Dorm Saya

Di tiap kamar pun tidak disediakan bantal dan selimut. Jadi masing-masing penghuni harus membeli sendiri. Sehingga sore harinya, saya bersama beberapa penghuni baru lainnya berjalan bersama ke IKEA untuk membeli perlengkapan. Sayangnya, uang saya ketinggalan. Saya kembali ke dorm sendirian. Setelah nyasar dan bertanya dengan bahasa Jepang pas-pasan, seorang gadis 10tahun bernama Ami, membantu saya berputar-putar mengelilingi Minatojimanakamachi (nama jalan tempat asrama saya berada) dan akhirnya menemukan asrama saya saat hari sudah mulai gelap. Karena dingin, saya jadi malas keluar lagi dan akhirnya memilih tidur dengan sleeping bag saja.

Di Lantai 3 untuk kamar tipe D ini terdapat 13 kamar yang diisi mahasiswi-mahasiswi dari berbagai negara. Ada KC dari Filipina, Best dari Thailand, Linh dari Vietnam, Bay dan Yan Hee dari Malaysia, Kerly dari Brazil, Eda dari Albania, Oxana dari Ukraina, Lin dari Korsel, Yare dari Cuba, dan dua orang anak Amrik yang jarang kelihatan di dorm, serta saya sendiri dari Indonesia (bahkan hanya sendiri untuk satu asrama berkapasitas 100an kamar ini.. hikss..).

Kobe International Student Center

Keesokan harinya, berasama Linh dan Best, saya berangkat ke Kobe University International Student Center (KISC) dari stasiun Kita Futou dengan menggunakan Port Liner sampai Sannomiya Station dan lanjut dengan menggunakan kereta ke Rokkomichi station. Kampus Kobe Univ sendiri berada di kaki gunung Rokko. Sehingga dari station Rokkomichi kami harus hiking selama 20 menit. Sebenarnya bisa saja naik bus. Tapi ongkosnya lumayan juga. Dari gedung KISC kita bisa melihat pemandangan Kobe beserta Port-nya *kalo ga dingin, betah dah saya duduk disini berjam-jam :P*

Image

View Dari Portliner ke Arah Sannomiya

Image

View dari Gedung KISC, Kobe University, Rokkodai Campus

Di KISC kami diberi briefing singkat, kemudian placement test untuk intensive Japanese Course, dan dibantu mengisi form untuk meng-apply allien card di Chuo-ku hall di Sannomiya, semacam kantor kecamatan. Jangan ditanya bagaimana bedanya dengan di Indonesia, ya.. hehehe..

Saya dan Bay juga Yan Hee serta Best bersama beberapa mahasiswa Kobe asli Jepang yang jadi volunteer berangkat menuju Sannomiya. Setibanya di Sannomiya, ternyata sedang hujan badai. Para volunteers yang menemani kami mengatakan ini pertama kalinya ada badai di awal musim semi. Angin yang sangat kencang membuat kereta harus dihentikan sementara operasinya dan baru beroperasi kembali sekitar jam 6 sore.

Sejak datang dan berpisah dengan MEXT Scholar 2012 dari Indonesia lainnya, saya benar-benar harus menggunakan hanya bahasa Inggris yang seadanya plus bahasa Jepang yang lebih seadanya. Jadi benar-benar kangen bahasa Indonesia. Selama dua hari itu saya hanya berbicara bahasa Indonesia selama kurang lebih 5detik saat menghubungi ibu dengan telepon umum (dengan biaya sangat mahalll.. >,<)

Baru keesokan harinya, bertemu dengan mbak Imma (sesama MEXT Scholar 2012 di Kobe tapi berbeda dorm) dan mas Dian. Keduanya mahasiswa medicine yang berada di Kusunoki Campus.

Tomiyama-Hosokawa Laboratory

Setelah bertemu keduanya dan menemani mbak Imma membuat allien cards di Rokkomichi hall, saya ke kampus untuk bertemu dengan Professor saya dan diperkenalkan dengan lab yang akan saya masuki nanti. Saya harus banyak bersyukur mendapatkan Professor yang sangat baik. Sudahlah di bandara dijemput dan diantarkan ke dorm, untuk ke lab pun saya disuruh menunggu di International Student Center saja dan beliau menjemput saya disana.

Setibanya di lab, saya diperkenalkan dengan Prof. Tomiyama, kepala lab tersebut. Juga diperlihatkan isi lab plus student room beserta beberapa anggota lab yang sedang berada di ruang tersebut.

Saat pertama kali masuk student room lab tersebut, saya disambut poster 4 gadis berbikini seukuran A1 plus 1 lagi berukuran A2. *Ampun dah.. baru datang udah dapat pemandangan serem gitu.. >,<* dan ternyata disana memang tidak ada anggota lab perempuannya *Errr.. nasib..nasib..>,<* Untungnya mereka semua memberikan kesan pertama yang sangat baik. Malah terkesan malu-malu. Hahaha..

Di lab tersebut selain saya, ada dua orang lagi mahasiswa asing. Satu dari Malaysia dan satu lagi, Roberto Rojas dari Colombia. Tentu saja keduanya sudah resmi jadi mahasiswa Kobe Univ, bukan seperti saya yang statusnya masih Research Student *doakan saya agar bisa lulus ujian masuk ya teman-teman..*

Kalau dulu saya jadi salah satu dari beberapa perempuan di jurusan Teknik Penerbangan (sekarang Aeronotika dan Astronotika) sering tidak dianggap sebagai perempuan, sekarang menjadi satu-satunya perempuan diantara kurang lebih 30an laki-laki malah diperlakukan sangat baik. Mereka bahkan membantu saya ini-itu sebelum saya minta. Di satu sisi sih senang sekali, tapi di sisi lain kadang jadi nggak enak hati juga. Kebiasaan dari dulu ngerjain apa-apa sendiri kali ya…

Padahal, anggota Lab-nya kebanyakan tidak bisa berbahasa Inggris, dan saya juga tidak bisa berbahasa Jepang. Jadinya, sangat sering komunikasi kami menggunakan bahasa tarzan. hahaha..

Sampai saat ini, saya belum memiliki koneksi internet pribadi. Di lab disediakan WiFi sih (dan di setting-in pula sama dari A to Z sama beberapa orang anggota lab), tapi kan segan juga ngebuka website yang tidak berhubungan dengan akademis. Kalau di dorm pun, koneksi internet hanya bisa digunakan di lobby dan ruang bersama. Saya harus membuat kontrak sendiri dengan provider kalau ingin mempunyai koneksi internet di kamar. Sayangnya, untuk membuat kontrak tersebut, saya harus mempunyai kartu kredit di Bank sini dan untuk memiliki kartu kredit, butuh 1 minggu sejak membuka account Bank, dan untuk membuka account Bank saya harus memiliki allien card atau kartu keterangan bahwa allien card saya sedang dibuat oleh imigrasi *allien card yang sebenarnya baru jadi sebulan lagi euy..*.

Membuang Sampah

Selama hampir dua minggu disini, alhamdulillah masih senang-senang saja. Orang Jepang mah udah terkenal dengan sifat senang membantunya. Bahkan saat tidak bisa membantu pun tidak jarang mereka berusaha mencari cara untuk membantu. Meskipun saya sudah mendengarnya sebelum datang kesini, tapi saat merasakannya sendiri cukup membuat saya terkagum-kagum juga.

Satu hal yang agak ribet adalah masalah membuang sampah. Saya belum pernah menemukan tempat sampah disini kecuali tempat sampah untuk kaleng disebelah vendingmachine. Mungkin hal itu dilakukan pemerintahnya supaya warganya membawa pulang sampah mereka dan memilahnya sendiri.

Secara umum sampah dibagi menjadi 3, yaitu burnable, unburnable, dan PET Bottle & can. Yang burnable dibagi lagi menjadi 2, plastik dan organik. Keduanya benar-benar harus dipisahkan. Tempat makanan dari plastik pun harus dibersihkan terlebih dahulu dari sisa makanan sebelum dibuang. Begitu juga dengan botol. Botol, tutup botol, dan labelnya harus dipisahkan sebelum dibuang.

Selain itu untuk sampah-sampah ukuran besar, seperti barang elektronik maupun furniture, harus ditempeli tiket yang bisa didapatkan jika menelepon langsung ke petugas kebersihan. Harga tiket ini beragam tergantung jenis dan besarnya barang tersebut.

Image

Buklet Petunjuk Membuang Sampah

Aturan membuang sampah tersebut harus dituruti, jika tidak sampah bisa dikembalikan atau bahkan untuk sampah yang besar, pelaku yang tidak mengikuti aturan bisa dipenjara hingga lima tahun lamanya.

Makanan Halal

Selain itu, hal yang sulit lainnya adalah mencari makanan halal. Di kantin dekat KISC masih lumayan karena menjual Indian Chicken Curry yang ditulis halal. Selain itu ya mesti hati-hati. Saya sendiri tidak sengaja meminum milk tea, yang baru dikemudian hari setelah bertemu dengan mbak Imma dan mas Dian, saya ketahui haram. Saat membeli saya pikir itu susu sapi karena dilabelnya terdapat kanji sapi. Ternyata memang susu sapi hanya saja menggunakan emulsifier berbahan dasar babi. Hikss..

Image

Minuman Pertama dan Tidak Halal Pula T.T

Overall, semua masih asik-asik aja, dan semoga ke depannya tetap begitu. Yang jelas, saya harus banyak-banyak bersyukur karena diberi kesempatan untuk tinggal dan belajar disini. Plus berusaha keras biar bisa lulus ujian Master. Yosh!! Gambarimashouu!! p(^o^)q

4 responses to this post.

  1. huuuuaaa, akhirnya
    idih, merinding baca tulisan kak icha di jepang
    semangat ya kaaak

    btw, dari buku yg wak baca. mang syusah nyari makanan halal di sana
    oy, kak. gmn tanggapan org jepang trhdp muslimah berjilbab?

    Reply

    • Posted by Hicha Aquino on April 19, 2012 at 6:00 pm

      makasih sulung..🙂
      sejauh ini sih, mereka cuma bilang “taihen desu ne..” artinya kayak “wah.. susah ya…”
      ntar deh kapan2 kakak cerita tentang itu disini.😀

      Reply

  2. keren banget cha.. bikin sirik.. tia pengen kesana.. nggak sia-sia suka nonton dorama dulu dan icha duluan kesana. doa’in tia menyusul kesana.. pengennn, sumpah pengennn…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: