Hangul vs Nihongo

Bukan, ini bukan ingin membandingkan mana yang lebih asik dipelajari dari keduanya, hanya sedikit menganalisis kemiripan keduanya.🙂

Saya berkenalan dengan serial Jepang sejak masih batita. Saat itu  di daerah saya hanya TVRI saja yang dapat ditangkap oleh antena UHF. Serial berjudul Oshin itu ditayangkan setiap hari. Sebagai balita tentu saja saya tidak mengerti jalan ceritanya. Dan sekarang ditanya bagaimana ceritanya pun saya sama sekali tidak ingat. Saat itu menonton karena kakak sepupu saya yang sudah SMA sering menonton setelah beberes rumah. Sementara Ibu mengajar dan gantian mengasuh saya dengan kakak sepupu saya yang sekolah siang.

Saat usia saya menginjak empat tahun, antena UHF di daerah saya mulai menerima siaran televisi swasta yang baru, yaitu TPI. Untuk saudaranya yang telah lahir terlebih dahulu, yaitu RCTI dan SCTV kami hanya bisa menikmatinya jika memiliki parabola. Oleh karena itu, saya dan adik saya sering menonton Kamen Rider RX di tempat tetangga saya.

Beruntungnya di TPI saat itu juga menayangkan serial Jepang yang ditayangkan tepat sepulang saya sekolah. Serial itu berjudul ‘Ienakiko’ atau di Indonesia dikenal sebagai ‘Rindu-rindu Aizawa’ berkisah tentang perjuangan hidup seorang anak perempuan yang hanya ditemani seekor anjing. Saat itu tentu saja saya tidak mengerti bahasa Jepang, dan syukurnya serial tersebut di-dubbing.

Selain serial tersebut, ada satu serial lagi yang berkesan, yaitu Tokyo Love Story. Sebenarnya bukan serialnya yang berkesan bagi saya. Justru iklan sponsor tunggal untuk serial tersebut yang menarik perhatian saya. Jadi saya hanya menonton iklannya saja. Jalan ceritanya sih saya tidak memperhatikan sama sekali. Hehehe…

Tahun 1995, akhirnya RCTI berbaik hati memperluas jangkauan siarannya. Sehingga saya pun mulai menyaksikan serial hollywood (yeah… you might say I was a TV-holic back day :P). Serial-serial ini tidak di-dubbingsehingga saya sekalian belajar bahasa Inggris. Hmm.. nggak bisa dibilang belajar juga sih, karena memang belum punya dasar yang cukup untuk belajar sendiri melalui tontonan.

Untuk serial Korea sendiri, pertama kali berkenalan saat anak ibu kos saya saat SMA membawa DVD ‘Full House’ dan ‘Endless Love’. Sayangnya keduanya tidak saya tonton sampai habis. Karena sejujurnya saya kurang begitu suka dengan cerita romance yang terlalu serius. Untuk Full House sempat saya tonton sih, sayang ada bagian yang di-dubbing dengan bahasa mandarin yang menurut saya sangat mengganggu. Selain itu,  impresi pertama saya tentang serial Korea hampir mirip dengan sinetron Indonesia. Bedanya episode-nya tidak sampai beratus-ratus saja.

Hmm.. sepertinya untuk sebuah intro, ini sudah kepanjangan. Lalu apa hubungannya paragraf-paragraf di atas dengan Hangul vs Nihongo? Yah, sebenarnya sih hanya sebagai pembuka bagaimana saya tertarik dengan bahasa Jepang dan Korea tersebut.😀

Saya kenal bahasa korea terlebih dahulu dari Full House. Hanya beberapa kata tentunya dan menjadi hal yang menarik karena saat saya belajar bahasa Jepang, saya menemukan satu kata yang mirip antara duanya. Kata tersebut adalah かばん(‘tas’ dalam bahasa Jepang) dan 가방(‘tas’ dalam bahasa Korea). Keduanya dilafalkan sebagai ‘kabang’. Sejak itu, setiap menonton serial atau variety show Korea, saya jadi memperhatikan kata-kata yang digunakan dan ternyata banyak yang mirip. Selain kata-kata, ternyata pola kalimat yang digunakan keduanya juga mirip. Karena itu saya tak lagi heran kenapa artis-artis Korea banyak yang bisa berbahasa Jepang. Mungkin analog dengan bahasa Jerman dan Belanda atau Indonesia dan Malaysia kali ya..

Berikut tabel beberapa kata yang mirip. Ada yang pelafalannya sama persis, ada yang hanya mirip saja:

Nihongo

Hangul

Arti

かばん

(kaban/kabang)

가방

(gabang/kabang)

Tas

歌手

(kasu)

가수

(gasu/kasu)

Penyanyi

人気

(ninki)

잉기

(inki)

Terkenal

やくそく

(yakusoku/yaksok)

약속

(yaksok)

Janji

しゃしん

(Shashin)

사진

(sajin)

Foto

医者

(isha)

의사

(eisa)

Dokter

家族

(kazoku/kazok)

가족

(kajok)

Keluarga

まんが

(man-ga)

망화

(man-hwa)

Komik

Dari tata bahasa, keduanya pun mirip. Dua-duanya menggunakan pola umum S-O-P dengan tingkatan bahasa informal-formal-dan hormat.

Keduanya pun memiliki tata bahasa saat ini, lampau, dan yang akan datang. Sepertinya jika sudah mempelajari salah satu dari keduanya, akan lebih mudah untuk mempelajari yang satunya lagi.

Sayangnya, terutama bagi saya, masalah utama dari mempelajari bahasa adalah menghafalkan kosakata-kosakata yang jumlahnya tak terhingga. Heuheuheu…

2 responses to this post.

  1. Posted by komazaku~yumirinko on April 6, 2012 at 12:08 pm

    nama sung yong ki hangul in donkk chinggu🙂

    Reply

  2. Well, that’s right. I’ve learn Korean for a couple months and just fyi Hangul and nihongo are came from Hanzi (Mandarin).
    I think Hanzi more difficult than Hangul and nihongo. :p

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: