Bengkulu Itu…

*Tulisan ini mungkin sudah agak basi, tapi semoga tetap bermanfaat🙂 *

Life is a journey, so enjoy the trip!. Sebuah pepatah lama yang cukup melekat diingatan saya. Karena itulah, saya memutuskan suatu hari nanti akan pergi ke tempat yang jauh melalui jalan darat. Meski mungkin lebih banyak waktu yang dipergunakan untuk tidur. Hehe.. Setelah ke Bali, kesempatan kedua adalah ke Bengkulu, dilanjutkan dengan pulang ke rumah saya di Lubuk Basung, Sumatera Barat

Bengkulu adalah sebuah provinsi yang terletak di bagian barat daya pulau Sumatera adalah sebuah provinsi yang terletak di Pulau Sumatera. Di sebelah utara berbatasan dengan Sumatera Barat, di sebelah timur dengan Jambi dan Sumatera Selatan, sedangkan di sebelah selatan dengan Lampung. Dari Bandung sendiri, menuju Bengkulu dapat ditempuh dengan jalan darat maupun udara. Jika melalui jalan udara, tentu saja harus menuju Jakarta terlebih dahulu karena tidak ada pesawat langsung yang menuju kesana.

Perjalanan di mulai dari Bandung pada hari Sabtu tanggal 23 Desember dengan Bus PO.SAN (Siliwangi Antar Nusa) menuju Curup, sebuah kabupaten di Provinsi Bengkulu.

Rute yang akan dilewati: Bandung-Merak-Bakauheni-Lahat-Curup dengan lama perjalanan kurang lebih 24jam.

Pelabuhan Merak

Selat Sunda

Satu hal yang berkesan, saat bus yang saya tumpangin tiba di daerah Lampung Tengah, tiba-tiba saja terdengar bunyi kaca pecah yang cukup keras. Saya sudah mulai terlelap (saat itu pukul setengah sepuluh malam) langsung terbangun. Awalnya saya kira batang pepohonan yang memecahkan kaca, ternyata ada yang melempar batu ke bus  yang kami tumpangi. Satu penumpang yang paling dekat dengan jendela tersebut kepalanya dijahit. Perjalanan jadi tertunda hampir lima jam. Sehingga kami baru tiba di Curup pukul tiga sore keesokan harinya.

Curup adalah ibukota Kabupaten Rejang Lebong dan merupakan kota terbesar ke-2 di Bengkulu.

Karena saat itu sudah sore maka diputuskan untuk jalan-jalan di kota Curup saja, dengan makan pempek, duren, dan menikmati sore di Curup.

Durian di Kota Curup

Curup Menjelang Malam

Keesokan harinya baru lah kami memulai perjalanan ke Gunung Kaba, atau yang juga dikenal dengan nama Bukit Kaba. Gunung Kaba adalah gunung berapi yang terletak di perbatasan Kabupaten Rejang Lebong dan Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu. Dari Kota Curup, gunung ini berada di sebelah tenggara dengan jarak sekitar 15 km.

Menuju Gunung Kaba

Setiba di Pos pendakian Bukit Kaba, waktu sudah menunjukkan pukul 9 tepat. Cuaca masih mendung. Hutan dan perkebunan di sekitar gunung tersebut masih ditutupi kabut. Teman sepupu teman saya (nah lho, bingung ga tuh..) yang bertugas sebagai guide memutuskan agar kami menunggu terlebih dahulu. Kabut masih terlalu tebal. Setelah menunggu hampir satu jam, kabut tak juga mau beranjak dari situ. Karena tidak ingin pulang kesorean, akhirnya diputuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan meski dengan kondisi jarak pandang kurang dari 10meter.

Bukit Kaba memiliki dua track hiking. Yang pertama jalan setapak dan yang kedua jalan yang sudah di cor dengan aspal atau bebatuan. Jarak tempuh jalan pertama lebih pendek dari jalan kedua. Karena itu, sang guide mengajak kami melalui jalan setapak yang dikelilingi hutan bambu dan sungai tersebut.

Kabut masih menyelimuti dan sudah hampir satu jam perjalanan dilakukan. Sang guide mulai merasakan keanehan. “Kok kita lewat disini lagi ya?” ternyata selama satu jam itu kami hanya berputar-putar disekitar hutan bambu. Sang guide akhirnya memutuskan untuk kembali ke pos dan melalui jalan normal saja.

Jika melalui jalan setapak akan menghabiskan waktu 1.5jam ke puncak, maka dengan jalan normal waktu tempuh menjadi 2.5jam. Meskipun dinamakan jalan normal, tetap saja jangan membayangkan jalan yang mudah dilewati. Becek dan bebatuan menanti hingga puncak, mewarnai perjalanan yang disertai kabut dan hutan. Asli, suasananya spooky bener.. apalagi dengan kejadian berputar-putar tadi. Tapi kepalang tanggung, akhirnya perjalanan tetap dilanjutkan.

Pukul setengah dua siang kami baru tiba dipuncak. Puncak masih berkabut, bahkan jarak pandang hanya sekitar 5meter saja. Seharusnya kami dapat melihat tangga-tangga disekitar kawah. Tapi karena kabut dan berbahaya, akhirnya diputuskan untuk duduk dibagian bawahnya saja.

Kabut Puncak Bukit Kaba

Setelah mendaki, tibalah waktunya turun. Ternyata berdasarkan pengakuan orang-orang yang kami temui selama perjalanan, kami bisa menyewa ojek dan diputuskanlah untuk menelepon ke pos dan meminta dikirimkan ojek sampai tempat yang agak datar. Baru kali ini saya hiking turunnya dengan ojek..😛

Tiba di bawah, waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Untuk meredakan pegal-pegal setelah hiking, kami menuju pemandian air panas di Suban. Lumayan, untuk menghangatkan tubuh dan melemaskan otot.

Setelah membersihkan diri dan shalat, adik sepupu teman saya beserta temannya memutuskan untuk pulang, sedangkan si kakak sepupu, teman saya, dan saya memutuskan mengisi perut dengan baso hangat terlebih dahulu. Saat itu sudah menjelang maghrib, sehingga kami tidak jadi ke Kota Bengkulu hari itu.

Keesokan paginya, setelah perjalanan kurang lebih 3jam, saya dan teman saya tiba di kota Bengkulu. Dengan menggunakan motor, kita sudah bisa berjalan-jalan di tempat wisata kota tersebut. Yang di antaranya ada Danau Dendam Tak Sudah, Benteng Marlborogh, Museum dan Rumah Soekarno, Pantai Zakat, atau bermain sepeda di Pantai Panjang.

Museum Soekarno

Rumah Bung Karno

Pintu Masuk Benteng Marlborough

Benteng Marlborough

Benteng Marlborough

View dari Benteng Marlborough

View dari Benteng Marlborough

View dari Benteng Marlborough

View dari Benteng Marlborough

Sunset di Pantai Panjang

Sunset di Pantai Panjang

Danau Dendam Tak Sudah

Danau Dendam Tak Sudah

Keesokan harinya, dari Bengkulu saya langsung bertolak menuju Padang dengan menggunakan travel, yang katanya akan mengantarkan saya langsung ke Lubuk Basung. Tapi karena penumpang terakhir sebelum saya turun di Padang, saya jadi ditawarkan untuk naik kendaraan umum saja dari Pariaman. Yah, dipikir-pikir kasihan juga supirnya kalau harus jauh-jauh ke Lubuk Basung hanya untuk mengantarkan saya.

Saran saya, jika ingin nyaman, lebih baik naik bus eksekutif saja. Karena travel yang saya tumpangi jauh dari kata ‘nyaman’. Bagaimana tidak, mobil yang digunakan Daihatsu Luxio berkapasitas ‘normal’ 6 orang itu, diisi hingga 9orang plus dua orang anak kecil. Saya saja yang memilih duduk di depan akhirnya berdesak-desakan dengan supir cadangan.

Sebenarnya, view selama perjalanan Bengkulu-Padang itu sangat indah. Kita bisa melihat matahari terbenam di Samudra Hindia disepanjang perjalanan. Sayangnya, jalanan longsor dan pasang di daerah pesisir selatan, sehingga harus memutar ke jalan alternatif yang masih berbatu-batu. Karena jalan alternatif itu relatif kecil, banyak bus dan truk-truk yang mengantri dan membuat kemacetan. Hmm.. macet di jalan menanjak yang dikelilingi hutan bukit barisan itu lumayan juga lho.. hehehe..

Akhirnya setelah 20jam perjalanan, saya tiba kamis jam 10 pagi di rumah. Dan kembali lagi ke Bandung minggu dini hari, tepat di pertama tahun 2012.

 Yeah.. what a journey..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: