Jakarta oh Jakarta

Sejak menginjakkan kaki di Jakarta tahun 2005 silam, saya sudah berpikir untuk tidak tinggal menetap di sana. Iba rasanya jika daerah sekitar 600an km2 ini harus ditambah lagi beban penduduknya dengan kehadiran saya. Walaupun begitu, untuk beberapa hal memang mau tidak mau harus diselesaikan disana.

Seperti kemarin, saya harus mengurus sesuatu di daerah Thamrin. Sejak berangkat dari Bandung, saya berencana setelah urusan saya selesai, saya ingin jalan-jalan ke Plaza Indonesia. Penasaran, sepertinya tempat itu prestisius sekali.

Setibanya di Sarinah, perut sudah berontak. Saya pikir sebaiknya saya segera menyelesaikan urusan saya dan mencari makanan di PI. Sayangnya, tempat yang saya tuju masih tutup dan baru buka jam setengah dua. Sehingga saya putuskan untuk makan siang terlebih dahulu.

Saya masuki gedung yang terlihat seperti mall tapi tidak ada keterangan itu mall apa. Ya sudahlah masuk saja, yang penting makan, pikir saya. Dan ternyata itu adalah PI Extension. Pantas saja ada tanda โ€˜exโ€™ di depannya. Sayangnya, saya tidak ngeh. Masuk ke dalamnya, mulailah saya mencari-cari tempat makan. Ada banyak tempat makan. Banyak sekali malah. Tetapi tidak satupun menarik perhatian saya. Mungkin selera kampung saya sedang keluar, sehingga tidak tertarik mencicipi makanan disana. Saya berputar-putar berharap ada KFC atau Mc.D atau setidaknya Rumah Makan Padang *ngarep tingkat tinggi* atau apapun lah yang biasa di mata saya serta terjamin ke-halal-annya. Sayangnya saya hanya menemukan JCo dan Breadtalk dan itu tidak cukup mengenyangkan bagi saya. Semakin lama berada di sana, semakin saya merasa bahwa PI itu bukan tempat saya. Beda dunia cuy.. hahaha…

Waktu telah menunjukkan pukul setengah dua. Dan saya sedang dipusingkan mencari jalan keluar. “Biarlah saya makan di HokBen Sarinah saja, sekarang lebih baik saya menyelesaikan urusan saya,” pikir saya saat itu

Setelah berputar-putar, akhirnya saya berhasil keluar dari Thamrin Gate, dan di sanalah saya baru yakin kalau awalnya saya masuk dari PI Extension.

Saya pun buru-buru ke kantor tujuan saya. Setelah menyelesaikan urusan saya, saya segera berjalan ke Sarinah dan akhirnya makan di HokBen Sarinah saja, sebelum pulang kembali ke Bandung.

Jakarta oh Jakarta.. mungkin nggak ya saya bisa terbiasa di sana??๐Ÿ˜€

3 responses to this post.

  1. Posted by hersanto on January 21, 2012 at 5:02 pm

    Jakarta,kalo kata teman saya disebut crowded city, the dead city…kota yang baik untuk belajar, stlh cukup ilmu langsung moving he..he..

    Reply

  2. Posted by hersanto on January 23, 2012 at 9:26 am

    ha..ha..benar2 cha, tp lebih enak di desa…suasana embun pagi dan kicauan burung, jangkrik, air mengalir jernih..tapi apapun itu, merantau akan senantiasa memberi pelajaran terbaik ,asal jangan lupa pulang kampung he..he..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: