“Maaf Ibu, Saya Bukan Dokter..”

Berawal dari tujuh tahun yang lalu. Gadis itu tujuh belas tahun, masih kelas tiga SMA. Tak sengaja dia mendengar sang ibu bergumam “Wah, sepertinya bagus juga ya, kalau salah satu anak ibu ada yang jadi dokter”. Si gadis yang menyukai bintang, sebenarnya belum memutuskan tujuan hidupnya. Dia hanya tahu, bahwa hatinya menjadi tenteram saat melihat gemintang menghias kelam.

Mendengar gumaman sang bunda, si gadis pun memutuskan bahwa dia akan belajar dengan sungguh-sungguh agar dapat mewujudkannya. Menjadi dokter akhirnya juga menjadi cita-citanya. Dia tetap menyukai langit dan gemerlapnya tapi menyukainya sebatas kesukaan yang menenangkan hatinya saja. Hingga pada suatu hari, kesempatan membawanya ke laboratorium kedokteran sebuah universitas di kotanya.

Dia dan beberapa orang lainnya diajak berkeliling, mulai dari laboratorium patologi hingga laboratorium dengan beberapa kadaver di dalamnya. Dan setibanya di laboratorium ber-kadaver itu..

Awalnya dia tidak merasakan apa-apa. Hanya mata yang terasa perih karena formaldehida yang baunya pun menusuk hidung. Ditutupnya hidungnya sambil mengikuti kakak pembimbing berkeliling laboratorium tersebut. Dan hatinya mulai berontak, ketika dia melihat kadaver-kadaver itu dari dekat. Bukan, bukan karena mengerikan. Manusia hidup jauh lebih berbahaya. Perasaannya ikut tersayat saat melihat bekas sayatan dari tubuh tanpa kulit dengan alur-alur serat otot yang kering memerah. Pembuluh darahnya seperti ikut ditarik keluar, saat sang kakak mengeluarkan arteri dari tubuh itu untuk dijelaskan kepadanya. Dan tulangnya serasa terlepas saat tanpa sengaja si kakak menjatuhkan sepotong tulang kering manusia dan terbanting di lantai.

”Oh tidak! Aku tidak bisa menjadi dokter, aku tidak ingin kehilangan nurani.” Geliatnya dalam hati. Saat itu dia merasa sisi kejamnya masih dominan dan akan menjadi semakin dominan jika dia menjadi dokter. Tidak, dia tidak mengatakan bahwa dokter itu kejam. Dia hanya berpikir bahwa nuraninya belum cukup kuat untuk membersihkan diri dan menjadi dokter yang baik hati.

Yang dia takutkan dia akan lebih memilih tidur dan beristirahat karena kelelahan setelah menghadapi kasus-kasus yang prestisius daripada memeriksa tetangganya yang tertatih-tatih ke rumahnya, berharap diperiksa kesehatannya. “Ah, paling demam biasa. Aku sudah terlalu lelah di ruang OK, biarkan aku istirahat” pikirnya dan tak dipedulikannya tetangganya itu. Dia takutkan, bagaimana jika nanti dia lebih mengejar prestasi dengan hanya mau menangani kasus-kasus sulit dan menganggap remeh penyakit dan pesakitan yang dianggapnya tidak elit? Tidak meningkatkan prestasinya? Dan dia takutkan, bagaimana jika nanti, dia terbiasa menyayat kulit untuk dioperasi dan kemudian menjadi tidak merasa bersalah pula saat menyayat orang yang dia benci? Tidak, hatinya belum mampu mengeliminasi dominasi sisi kejamnya. Dan kemudian tanpa sadar dia berkata di dalam hati “ibu, maafkan Gadis. Gadis tidak bisa mewujudkan keinginan ibu”.

Tujuh tahun berlalu. Dia bukan seorang dokter, dan bukan pula seorang astronom. Dia masih menyukai bintang dan berharap dapat membuat sebuah wahana. Wahana yang pada akhirnya bisa membawa banyak orang menikmati gemintang.

One response to this post.

  1. Wah, udah lama g baca cerpennya Kak Icha.
    Jadi inget tulisan kak icha di buku tulis (yang dimaksudkan jadi novel)
    Tentang tokoh utama yang suka astronomi juga.🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: