Pulang dari Maninjau Berbekalkan Ketan Duren Khas Aceh

Yuhuuu, sudah di Bandung lagi!! Udah agak basi karena udah di Bandungnya sejak beberapa hari yang lalu..๐Ÿ˜‰

Seperti yang sudah saya duga, lebaran ini jadinya nggak kemana-mana. Hanya ke rumah keluarga besar di Pariaman. Selebihnya di rumah saja. Untungnya tamu-tamu terus mengalir *Air kallee..* jadi ga berasa sepi deh.

Dua hari sebelum balik ke Bandung, ibu ngajakin ke tempat Mak Uwo di Maninjau. Beliau ini dulunya tetangga saya di Aceh. Sejak suaminya sakit, mereka sekeluarga kembali ke kampung halamannya di Maninjau. Sejak suaminya meninggal, Mak Uwo tinggal berdua saja dengan anak bungsunya. Oh iya, si anak bungsunya ini dulu cinta monyet saya lho.. hahaha.. cinta monyet yang berjalan enam tahun.. *halah* #curcol #abaikan

Sawah dan Danau Maninjau Mendekati Maghrib

Beberapa hari sebelumnya, oknum DA *si anak bungsu itu* sempat mampir ke rumah. Dan perasaan saya setelah bertahun-tahun tidak bertemu adalah… nothing special! Beneran dah.. haha.. Bahkan waktu dia cerita kalau tahun depan dia bakal lamaran pun saya (dan hati saya) tidak merasakan hal aneh apa-apa. Hmm.. so, the feeling DOES fade away yaah.. #GayaSyahrini *Udah ah, curcol-nya ;)*

Sewaktu saya dan ortu kesana, dia sedang tidak ada di rumah. Jadi saya hanya bertemu dengan Mak Uwo dan Paman-Bibinya yang juga calon mertuanya (istilah minang-nya dia pulang ke bako gitu). Oh iya, ada anak kecil juga di sini. Kalau ngga salah masih saudaranya gitu. Namanya Kiki. Anak ini lucu bangettt.. gemes deh liatnya.. ;)) Saat saya temui, dia sedang menyiapkan pakan untuk seekor ayam dengan porsi untuk satu kandang. hahaha.

Ade Kiki Sedang Menyiapkan Pakan Seekor Ayam

Rumah oknum DA itu asik banget lho.. di tengah sawah dengan pemandangan danau maninjau di kejauhan. Feels relaxing sekaliii.. Sayangnya, saya kesananya udah hampir malam, jadi fotonya kurang pencahayaan gitu. Maklum, kameranya juga seadanya..๐Ÿ˜€

Dan yang bikin nostalgic adalah.. ada ketan duren!! :)) Makanan ini hanya saya temui di Aceh dan tiap lebaran, biasanya Mak Uwo bikin makanan itu.

Sebenarnya saya bukan penggemar duren sih. Bukan karena bau-nya, tapi karena bentuknya yang lembek-lembek mengingatkan saya pada *sesuatu* yang jijay untuk dimakan. Tapi kalau dalam bentuk lain, saya lumayan suka.

Berhubung ortu lagi shaum syawal, jadi hanya saya yang menikmatinya. Untungnya Mak Uwo berbaik hati membekali kami, dan tentu saja rasanya.. enaak!๐Ÿ˜€

Si Ketan dan Si Duren

2 responses to this post.

  1. Walah, pakai inisial ya kak? Hihi.
    btw, apa bedanya sama ketan duren yang di Pariaman kak?

    Reply

    • Posted by Hicha Aquino on September 26, 2011 at 10:09 am

      kalau ketan duren yg di pariaman, durennya langsung dimakan pake ketan+kelapa parut.

      kalau ini durennya dijadiin semacam kolak gitu.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: