[Resensi Buku] Eliana: Serial Anak-anak Mamak

Damn! It’s cool!! Itu yang terlintas dibenak saya, seusai membaca buku keempat Serial anak-anak Mamak: Eliana. Bagaimana tidak, lewat buku ini, kita diajak menyusuri dunia anak-anak yang penuh keceriaan, kenakalan, disertai proses pembelajaran kehidupan dan pemahaman kearifan alam yang terjalin dalam alur yang indah, penuh semangat, dan juga mengharukan.

Di novel yang menjadi buku keempat dari serial ini (tetapi anehnya terbit yang ketiga), tere-liye, penulisnya, tetap sukses menyuguhkan dunia anak-anak dan tingkah polah-nya, beserta dunia orang tua yang disiplin namun penuh kasih sayang, menjadi satu bacaan yang sarat makna dan pembelajaran.

Setelah Burlian si anak spesial yang bercita-cita melihat dunia dengan kapal-kapal besar, dilanjutkan dengan Pukat si anak pintar, yang ingin menjadi peneliti dan menemukan harta karun terbesar kampungnya, kini dilanjutkan dengan Eliana, si anak sulung yang pemberani dan tidak bisa tinggal duduk diam melihat ketidak-adilan dan kesewenang-wenangan yang terjadi di depan matanya.

Di buku keempat ini, tidak hanya menceritakan tentang aksi Eliana bersama teman-temannya yang tidak bisa tinggal diam melihat kampung mereka diporak-porandakan penambang pasir rakus dari kota, mengeruk pasir di delta sungai kampung mereka tanpa mempedulikan dampak yang ditimbulkannya, tapi juga menceritakan Eliana sebagai anak sulung mamak dengan segala tanggung jawab terhadap ketiga adiknya serta konflik-konflik dengan teman-teman di sekolahnya.

Cover Eliana dan Pukat

Di novel ini, selain Eliana dan ketiga adiknya serta teman-temannya, ada Mamak yang gesit, disiplin, dan penuh kasih sayang. Ada Bapak yang ceria, arif dan bijaksana. Ada Paman Unus, adik Mamak, yang hidupnya bebas dan kembali ke alam. Ada pula Pak Bin, guru honorer yang sudah mengabdi, bolak-balik mengajar di enam kelas sekaligus, sudah hampir seperempat abad belum juga diangkat menjadi PNS, tetapi tetap semangat mengajar, bahkan membujuk orang tua dari anak-anak yang putus sekolah agar mengizinkan anak-anak mereka kembali bersekolah. Ada Wak Yati, kakak Bapak, yang berwawasan luas; Nek Kiba guru mengaji, tempat mereka mengaji setiap malamnya dan sering bercerita tentang Nabi dan Rasul serta cerita-cerita kearifan lainnya; juga tokoh-tokoh lain dengan alur dan dialog yang bermakna dan terkadang kocak oleh tingkah polah anak-anak.

“Jangan pernah takut atas hal yang kasat mata, jangan pernah takut pada sesuatu yang tidak sejati. Melainkan takutlah berbuat jahat, mengambil hak orang lain. Takutlah menganiaya, berbohong, mencuri, dan merendahkan harga diri..”

“Jangan pernah bersedih ketika orang-orang menilai hidup kita rendah. Jangan pernah bersedih karena sejatinya kemuliaan tidak pernah tertukar. Boleh jadi orang-orang yang menghina itulah yang lebih hina. Sebaliknya, orang-orang yang dihinalah yang lebih mulia. Kalian tidak harus selalu membalas penghinaan dengan penghinaan, bukan? Bahkan, cara terbaik menanggapi olok-olok adalah dengan biasa-biasa saja. Tidak perlu marah. Tidak perlu membalas.”

“Jangan pernah membenci Mamak kau, Eliana. Karena kalau kau tahu sedikit saja apa yang telah seorang ibu lakukan untukmu, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian,”

“Ada suatu masa-masa, ada suatu musim di antara musim-musim, saat ketika alam memberikan perlawanan sendiri. Saat ketika hutan, sungai, lembah, membalas sendiri para perusaknya..”

Demikian beberapa kutipan dialog ‘bermakna’ dari isi novel tersebut.

Di novel ini pembaca diajak untuk menikmati keindahan dan kearifan lembah bukit barisan, ikut menjadi geram melihat kelakuan para penambang pasir yang hanya mementingkan kepentingan pribadi, ikut tertawa melihat Eliana yang tidak rela diremehkan sebagai perempuan sehingga menerima tantangan temannya untuk adzan di mesjid kampung, dan ikut terharu melihat kasih sayang mamak yang dibalut dengan kedisiplinan

Ya, novel ini bacaan yang highly recommended! Cocok buat orang tua, sebagai salah satu bekal mendidik anak; dan sangat sesuai bagi anak-anak dan remaja untuk menumbuhkan pemahaman tentang kasih sayang, disiplin, setia kawan, dan kearifan alam.

8 responses to this post.

  1. pinjeeeeeeeem…..

    Reply

    • Posted by Hicha Aquino on July 5, 2011 at 3:05 pm

      sok aja kk..
      cuma punya pukat sama eliana
      burlian-nya udah dibawa pulang mudik..😀

      Reply

  2. berapaan cha satu??
    disini blm ada… ;p

    Reply

  3. waa..jadi pengen baca. thanks ya ca resensinya🙂

    Reply

  4. Eh, yang Amelia emang udah ada ya??

    Iya, waktu jalan2 k TB Gunung Agung,, entah kenapa saya tiba2 menggila memborong 3 serinya (Burlian, Pukat, dan Eliana) + Ayahku bukan pembohong
    Buku pertama yang saya beli dari gaji saya sendiri..
    Sayang di sini ga ada Gramedia dan sebangsanya.
    harus nunggu mudik dulu buat belanja buku

    Reply

    • Belum, kabarnya Agustus ini keluarnya.
      Wah, selamat ya yg dapet gaji pertama..🙂
      kalau mau pesan, bisa langsung pesan ke penerbit republika. Tapi saya lupa web-nya.
      Googling aja..😀

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: