Trilogi Negeri 5 Menara

Trilogi Negeri 5 Menara. Dikarang oleh seorang wartawan yang lulusan Hubungan Internasional UNPAD dan berasal dari negeri Matur yang berada di tepi Danau Maninjau. *15 menit naik mobil dari rumah saya lho.. (trus kenapa cha? -_-“)

Buku pertama berjudul Negeri 5 Menara. Berkisah tentang kehidupan Alif Fikri belajar di Pondok Pesantren Madani. Awalnya dia enggan bersekolah di sana karena cita-citanya ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Tapi sebagai anak yang berbakti, akhirnya dituruti juga perintah orang tua-nya untuk bersekolah di sekolah agama.

Cover novel Negeri 5 Menara

Tidak mudah menjalani kehidupan di pondok, apalagi jika berawal dengan rasa enggan. Tetapi sesuai dengan sebuah pepatah arab Man jadda wa jadda, siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses, dan Alif akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikannya di pesantren.

Buku kedua berjudul Ranah 3 Warna. Kali ini bercerita tentang perjuangan Alif untuk kuliah. Dimulai dari ujian persamaan SMA, UMPTN, hingga perjuangannya untuk bertahan hidup dan kuliah sejak ayahnya meninggal, serta perjuangannya mewujudkan cita-cita untuk bisa menginjakkan kaki di benua Amerika.

Saya membaca buku pertama karena promosi sepupu saya, yang mengatakan kalau buku ini bagus. Salah satu kriteria buku yang bagus menurut saya adalah saya akan membacanya dari awal hingga selesai tanpa jeda. Benar-benar tanpa jeda kecuali untuk shalat dan ke kamar kecil. Dan untuk buku pertama saya tidak berhasil melakukannya (membaca tanpa jeda), mungkin karena buku tersebut adalah novel pertama dari seorang wartawan. Jadi ada kalanya bahasanya bukan seperti novel dan terutama untuk penokohan, deskripsi karakter tokohnya terkadang membuat saya bingung dan harus membuka kembali halaman-halaman sebelumnya. Yah, mungkin saja daya ke’mengerti’an saya yang kurang, tapi itu cukup membuat saya membaca buku ini lebih dari satu hari.

Untuk buku kedua, saya tidak bisa berhenti membacanya hingga selesai. Dan akhirnya dalam enam jam buku tersebut selesai saya baca. Dari segi alur, penokohan, dan setting-nya terjadi perubahan yang signifikan dan membuat saya tidak bisa berhenti membacanya hingga selesai.

Cover Ranah 3 Warna

Terlepas dari gaya kepenulisan, saya mengapresiasi kedua novel tersebut sebagai novel yang memotivasi. Di satu sisi saya teringat akan diri sendiri. Bukan, bukan teringat karena saya juga berjuang keras meraih cita-cita seperti tokoh utama novel tersebut, tapi teringat betapa seringnya saya mengeluh disaat saya tidak puas akan hidup yang saya jalani, sama seperti Alif saat awal-awal dia menempuh kehidupan baru sebagai mahasiswa. Padahal kenyataannya, tak ada hal baik akan terjadi jika dibarengi dengan mengeluh.

Ya, tidak pernah ada orang yang sukses dari mengeluh. Bersabarlah, karena Allah tidak pernah memberikan cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya. Dan bertahanlah, karena orang sukses adalah hanya seseorang yang bertahan sedikit lebih lama dari orang kebanyakan. Man jadda wa jadda, man shabara zhafira, Innallaha ma’ashabiriin.

*Gambar nyomot di:

– http://progressifoye.blog.uns.ac.id/files/2011/06/negeri_5_menara.jpg

– http://ads2.kompas.com/layer/Ranah/ranah_layer.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: