Orang Aceh? Orang Minang? Orang Sunda? Well, I prefer Indonesian!

 

Aceh’s Map

Saya dilahirkan di Lhokseumawe. Sebuah kota kecil di Kabupaten Aceh Utara. Saat itu masih Provinsi DI Aceh dan sekarang diganti menjadi NAD (Nanggroe Aceh Darussalam). 15 tahun di sana, cukup membuat karakter orang aceh melekat di saya, tapi tak cukup membuat saya fasih berbahasa aceh. Susah euy, tulisan dan cara bacanya berbeda. Kata om saya  mirip bahasa prancis.

Saya berdarah minang. Orang tua saya dua-duanya asli dari Pariaman. Saat di Aceh, di rumah pun keduanya berbahasa minang. Sayangnya tidak dengan anak-anak mereka. Dari kecil orang tua saya membiasakan saya berbahasa Indonesia di rumah. Jadilah saya tidak bisa berbahasa minang selama saya di Lhokseumawe.

 

Sumbar’s Map

Tamat SMP, saya pindah ke Lubuk Basung. Kurang lebih 50km dari kampung orang tua saya. Dan saya memutuskan untuk sekolah di kota Padang saja. Sekitar 120km dari Lubuk Basung. Tinggal di Padang, membuat saya mau tak mau harus berbahasa minang, karena tua muda, laki-laki perempuan, cupu atau gaul, semuanya berbahasa minang. Tidak sampai sebulan akhirnya saya cukup lancar berbahasa minang, tapi sejujurnya kadang-kadang masih patah-patah. Apalagi kalau berbicara dengan orang yang lebih tua. Sepupu-sepupu saya bilang, sampai sekarang pun bahasa minang saya masih aneh. Hadeuu.. padahal kan gw tiga tahun tinggal di ranah minang.. -_-“

Tamat SMA, takdir melempar saya ke bumi parahyangan. Sudah masuk tahun ke enam saya di sini. Tapi parahnya sampai sekarang saya tidak mengerti bahasa sunda. parah bener ya??

Fly Over Pasupati

 

Kalau ditanya saya ini orang mana, sejujurnya saya lebih suka menjawab saya orang Indonesia. Tidak peduli saya lahir dimana dan orang tua saya bersuku apa. Saya lebih suka menjadi orang Indonesia.

Saya bangga lahir di Aceh, Saya bangga berdarah Minang, Saya bangga tinggal di Bandung, tapi saya lebih bangga lagi menjadi orang Indonesia.

Iya, dimana lagi bisa menemukan negara dengan budaya yang begitu beragam, bahasa yang begitu banyak, sumber daya yang begitu berlimpah, dan kebebasan yang ‘sayangnya’ begitu bebas.

Dimana lagi menemukan negara dengan kuliner beragam, seni musik, tari, adat-budaya yang bahkan membuat negara lain menge-klaim-nya?

Dimana lagi bisa menemukan negara dengan Pulau Sumatra, Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan hampir 17.000 pulau lainnya?

Dimana lagi bisa menemukan negara dengan iklim tropis yang hangat sepanjang tahun, hujan sepanjang tahun, burung-burung dan bunga-bunga eksotis, air terjun, gunung, danau, pantai, dan hutan yang tak kalah eksotis?

Dimana lagi bisa menemukan negara dengan Pulau Bali, Pulau Komodo, Wakatobi, Bunaken, dan tempat-tempat lain yang luar biasa yang untuk saya pribadi tidak tahu apakah bisa saya datangi semua?

dan…

Dimana lagi bisa menemukan negara yang sangat demokratis, (mungkin terlalu demokratis), dengan tingkat edukasi penduduknya yang belum bisa mengimbangi demokrasi yang terjadi, sehingga (in my humble opinion) sering kebablasan?

Dimana lagi bisa menemukan negara dengan pendapatan perkapita-nya rendah tapi memiliki konsumen kendaraan bermotor yang tinggi, pengimpor alat-alat elektronik canggih yang harganya selangit, dan bahkan mengimpor bahan pokok yang sejujurnya bisa tumbuh dengan mudah di negeri ini?

Dimana lagi bisa menemukan negara yang orang-orang kayanya berdebat ngalor-ngidul di tempat nyaman yang ‘kata mereka’ sudah bobrok dan ingin mereka ganti dengan bangunan baru yang memiliki fasilitas spa didalamnya, dan itu semua dengan mengatasnamakan rakyat? padahal mungkin mereka bertemu rakyatnya pun hanya pada saat kampanye saja.

Dimana lagi bisa menemukan negara dengan rakyat yang kompak ingin menggulingkan ketua PSSI dan pengurus-nya yang secara kasat mata sudah terlihat bagaimana tipikal orangnya?

Dimana lagi bisa menemukan negara yang masalah lumpur yang diakibatkan perusahaan swasta diputuskan sebagai bencana nasional dan pertanggungjawabannya dilimpahkan kepada negara? Baik sekali ya negara ini..

Dimana lagi bisa menemukan negara dengan banyak pengemis, pengamen, dan gelandangan di jalan, yang uang hasil-nya digunakan untuk bermain di game master?

Dimana lagi bisa menemukan negara yang saat harga bahan pangan naik, petaninya tetap miskin?

Dimana lagi bisa menemukan negara yang orang kaya-nya semakin kaya, yang miskin semakin sulit?

Ya, dimana lagi bisa menemukan negara yang seperti itu kalau bukan di Indonesia?

Ya, saya bangga lahir di Aceh, saya bangga berdarah Minang, saya bangga tinggal di Bandung, tapi saya lebih bangga lagi menjadi orang Indonesia! *sekaligus miris sebenarnya.. Dan lebih miris lagi karena saya hanya bisa berbicara dan berpendapat begini-begitu, tanpa bisa berbuat apa-apa. Semoga belum, bukan tidak! Bismillah..*

Indonesia

 

Ya Allah, Lindungi, Berkahi, dan Bimbinglah negara kami. Jadikanlah bangsa ini bangsa yang Engkau berkahi dan mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan. Amiin Yaa Rabbal’alamiin.

NB: Tulisan ini tidak bermaksud SARA atau menyinggung pihak mana pun.

10 responses to this post.

  1. Tambah lagi.., Bangga menjadi Indonesia walau nama kamu sedikit philipin (Aquino) hehee..

    Reply

  2. iya, icha kan orang filipin.. hahaha..
    kalo tia sih, aceh, sunda, betawi. tauk deh jadinya gmn. hehe

    Reply

  3. But,

    Name is “Pray”.. ‘Aquino’ hehee

    😛

    Reply

  4. Maybe… Klau mu doanya terkabul, first step harus ganti kewarganegaraan dulu. hahaaa.. masih prefer indonesia?😀

    Reply

  5. Posted by ibumirarki on June 12, 2013 at 7:06 am

    Salam kenal. Saya senang baca tulisan anda. Nasionalis. Saya sering membaca blog2 yg ditulis oleh (maaf) mereka yg berdarah Minang. Tapi mereka lebih sering membanggakan dan mengunggulkan ke-minang-annya sembari sedikit (kadang juga banyak) mencerca suku lain, utamanya suku Jawa. Itu membuat saya sedih, apa salah kami yg terlahir sbg suku Jawa? Kebetulan saja para petinggi negara banyak berasal Jawa, sehingga kami kena getahnya? Seakan bobroknya bangsa ini disebabkab oleh pemerintahan yg jawasentris? Dan bukankah sejak reformasi sdh ada otonomi daerah? Kenapa msh saja orang jawa yg dianggap merusak?

    Saya tidak sekedar bluffing ttg hal ini. Bbrp teman pun (yg rata2 orang minang) dengan teganya mengatakan bahwa mereka tidak suka dgn org Jawa . Maksudnya apa ya? Btw, saya orang Jawa pernah lama tinggal di Sumbar. Saya justru senang membaca hal2 yang berkaitan dgn Sumatra Barat dan Minang, apalagi suami saya berdarah Minang (lahir dan besar di Jakarta). Hanya saja, saya kadang merasa risih jika ada yang menulis dengan menonjolkan kesukuan sembari merendahkan suku lainnya.

    Reply

  6. Hidup Indonesia raya, orang melayu yang dialeknya beda. Contohnya, ape,opo,apo dan peu…dst.wass

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: