Kesabaran Akan Berbuah Manis (Begitulah kata ibu.. :D)

Lagi pengen nulis serius, mudah-mudahan hasilnya beneran serius… hihi..

Gw dilahirkan di Lhokseumawe, ibukota kabupaten Aceh Utara. Ketika dilahirkan sampai gw kelas 3 SD, gw tinggal dirumah kontrakan di gang bidan. Lingkungan rumah gw itu, kebanyakan tinggal para karyawan Exxon Mobile dan keluarganya. Jadi bisa dibayangkan bagaimana gw dan keluarga gw dulunya tinggal layaknya gubuk di tengah-tengah istana *lebay tentunya :P*

Sejak kecil meskipun mungkin orang luar mandangnya kehidupan gw menyedihkan, *kalau dipandang dari segi rumah ya… :D* Alhamdulillah gw ga pernah kekurangan makan, pakaian, pendidikan dan segala kebutuhan pokok lainnya. Dari kecil memang jarang jajan sih, tapi itu lebih karena memang didikan ortu buat ga jajan sembarangan, kalau pun ada uang lebih, biasanya gw lebih milih buat beli bobo atau donal bebek dari pada jajanan. Sejak kecil juga, gw tinggal tau beres, ga pernah ngurusin tentang bayar listrik, air, telepon, beli beras, masak, nyuci, nyetrika, bla..bla..bla… kedua bonyok gw sangat kompak mengurusi itu semua berdua saja. Bahkan untuk urusan pindah rumah pun, gw baru tau akan pindah, ketika datang mobil pick-up untuk mengangkut beberapa barang ke rumah baru gw itu.

Saat kelas tiga SD itu, gw dan keluarga gw pindah ke sebuah perumahan di kecamatan blang mangat, setelah sebelumnya ngontrak di kecamatan banda sakti, pusat kota-nya lhokseumawe. Kata ibu waktu itu, ayah-ibu memutuskan untuk tinggal dan menghabiskan masa tua di lhokseumawe saja, menjadi warga Lhokseumawe sepenuhnya. Gw yang ga ngerti apa-apa ya cuek-cuek aja. Namanya aja anak kecil… hehehe…

Sejak pindah di tahun 1996 sampai gw kelas 6 SD, tahun 1998, Aceh aman damai sentosa sejahtera, paling ngga begitu lah yang gw rasa. Sampai akhirnya Soeharto lengser, dan GAM mulai menampakkan taji-nya. Mereka menuntut kemerdekaan bagi rakyat Aceh. Saat itu lah, kondisi mulai ga kondusif. Sering terjadi tembak-menembak, pengeboman, penculikan, pembunuhan, gw sampai mikir nyawa manusia ga lebih berharga daripada nyamuk. Setelah dibunuh dibuang begitu saja. Bahkan ayam saja lebih berharga! MasyaAllah!

Bokap gw seorang aparat Polri, mungkin banyak anggota polri yang begini-begitu dalam konteks negatif, tapi terserah orang mau bilang apa, yang penting gw tau ayah seperti apa. Dan kondisi keamanan yang tidak kondusif itu, bikin bokap harus tinggal di markas, dan hanya bisa pulang 1-3 bulan sekali. Kondisi itu berlangsung hingga gw kelas 3 SMP, dan layaknya ABG yang masih labil, keadaan ayah yang jarang pulang, bikin gw ngerasa ga dekat dengan beliau. Meskipun gw ngerti juga kenapa ayah jarang pulang. Dan lebih mengerti lagi ketika hampir dua kali ayah hampir terbunuh.

Yang pertama, saat ada mogok massal, semua orang dilarang keluar rumah oleh GAM. Walaupun begitu, Kapolres memerintahkan para kapolsek untuk rapat di markas. Karena kebetulan kapolsek-nya akan ke markas, ayah menemani, tapi hanya sampai suatu persimpangan *gw lupa namanya :D*, di persimpangan itu, polsek-nya lurus menuju markas, sedangkan bokap gw belok menuju rumah. Ya, udah sebulan ga pulang gitu lho… Ternyata ga sampai 2 Km, kapolsek-nya itu dihadang GAM. Motornya dibakar dan ditenggelamkan di tambak dekat sana, sedangkan beliau-nya sendiri dibunuh setelah sebelumnya disiksa.

Yang herannya, bokap gw nyampe rumah siang, pas maghrib nenek gw nelpon dari kampung sambil nangis, karena di berita kapolsek dan bokap gw hilang, dicurigai diculik GAM, dan saat itu kalau ada orang yang diculik, biasanya dapat dipastikan kembali dalam keadaan meninggal. Mendengar berita itu, bokap gw stress abis. Ya iyalah, bayangin aja gimana rasanya kalau kita bareng seseorang yang tadinya berangkat dari kantor bareng, terus diculik dan dibunuh hanya beberapa saat setelah kita misah jalan.Wow, ga kebayang kalau gw yang mengalami.

Itu kejadian pertama. Kejadian berikutnya, lagi-lagi saat itu kapolres memanggil anggotanya untuk rapat di markas. Kali ini bokap gw ikut rapat, tadinya mau balik bareng teman-temannya dengan mobil, tapi karena bokap sedang flu, jadi beliau memutuskan untuk berobat dulu, dan dalam perjalanan, mobil itu diserang. Terjadi baku tembak dan tetangga gw, yang sama-sama anggota polri kayak bokap meninggal dunia.

Sejak kejadian pertama, ortu gw memutuskan untuk pindah dari aceh, karena ga cuma keselamatan bokap yang jadi taruhan, tapi juga perkembangan psikis gw dan adek gw yang masih kecil yang dipertaruhkan. Gimana ngga, sejak kecil gw jadi biasa ngeliat baku tembak, apalagi kalau agak jauh, brasa kayak ngeliat kembang api aja. Gitu juga kalau ada bom meledak, kaget sih, tapi abis itu ketawa-ketawa aja, dan biasa aja kalau ngeliat ada yang bawa AK47 kemana-mana, bahkan tetap ngerasa biasa aja saat diperbolehkan menggendongnya *dalam keadaan tanpa peluru tentunya… :D*

Setelah gw ingat-ingat lagi, yang paling kasihan saat itu adalah nyokap gw. Suaminya ga bisa sering-sering pulang, mesti mendidik anak-anaknya yang masih kecil dalam kondisi keamanan seperti itu pula. Oleh karena itu, keduanya memutuskan untuk pindah. Dilupakanlah, cita-cita untuk menghabiskan masa tua di rumah itu.

Walaupun begitu, ternyata ga segampang itu pindah, bokap menghabiskan waktu lebih dari setahun untuk mendapatkan izin pindah. Dan setelah pindah pun, keluarga gw benar-benar meninggalkan semuanya. Ga cuma tetangga dan teman-teman, tapi juga rumah dan tanah. Semua mulai dari nol lagi. Keluarga gw pindah ke Lubuk Basung dengan mengontrak rumah lagi.

Saat itu gw tamat SMP. Saat pindah ke sana, yang ada di otak gw, gw ga pengen SMA di lubuk basung. Tentu saja ortu, terutama bokap, menentang habis-habisan. Ya iyalah, udah selama hampir lima tahun hanya ketemu sekali sebulan, ini udah bisa ngumpul lagi, gw-nya malah pengen sekolah ke padang which is three hours by car from Lubuk Basung. Kasihan ortu gw, punya anak perempuan keras kepala-nya subhanallah… akhirnya setelah memaksa, memohon, dan nangis bombay ala bollywood *halahh… lebay… :P* gw diizinkan juga sekolah di Padang.

Kembali ke kondisi keluarga gw, saat tinggal di kontrakan itu, bonyok bingung menyusun rencana ke depannya bagaimana. Tabungan tinggal ga seberapa, belum lagi ditambah anaknya yang jadi anak kos dan uang sekolah di padang relatif lebih mahal daripada di Lubuk Basung. Jadilah pengeluaran ortu bertambah. Tapi Allah memang Pemilik Rencana. Tiba-tiba datang seseorang yang ingin menjual tanah dengan rumah tipe 36 yang belum diplester. Orang itu dalam keadaan kepepet dan menawarkan 20juta rupiah saja. Apa daya, ortu gw belum mampu, dengan sangat terpaksa nyokap gw bilang, ”kalau 10 bu, saya usahakan bagaimana pun caranya, tapi kalau 20, kayaknya kami ga mampu”. Dan lagi-lagi Allah Memiliki rencana lain, keesokan harinya orang itu datang lagi dan menyetujui harga tersebut. Wow, hari gini nyari kemana rumah tipe 36 seharga hanya 10juta rupiah saja. Dan tanpa rencana ortu gw jadi punya rumah lagi. Meskipun demikian, perjalanan rumah itu untuk bisa ditempati gw semudah yang dibayangkan, tapi Allah tidak pernah meninggalkan hambaNya, ada aja rejeki dari-Nya hingga tepat kontrak rumah habis setahun, keluarga gw bisa pindah ke rumah yang baru. Kalau pendapat gw pribadi, rumah di lubuk basung ini, lebih baik daripada di lhokseumawe, padahal kalau dipikir-pikir, perencanaannya lebih matang untuk rumah yang di lhokseumawe. Tapi seperti judul di atas, kesabaran dan usaha InsyaAllah akan selalu berbuah manis. Tidak hanya Allah menggantikan dengan yang lebih baik, tapi juga memberikan kabar gembira, rumah yang di lhokseumawe dibeli oleh seorang tetangga, dan ayah memutuskan uangnya untuk membeli mobil.

Dan sepandai-pandainya manusia berencana, yang berjalan tentu saja rencanaNya. Gw ingat kata-kata nyokap gw ”semua kejadian ada hikmahnya, kalau kita ga pindah, kita ga terlalu bisa bantu saudara-saudara kita saat lagi musibah gini” kata-kata itu, nyokap gw bilang saat gempa tahun 2009 lalu, Saat itu, kampung bonyok gw porak-poranda, saudara2 gw kehilangan tempat tinggal, bahkan paman gw tewas tertimpa rumahnya yang rubuh. Dan nyokap gw juga bilang, kalau semakin kita memberi, maka Allah akan semakin menambahkan rejeki tersebut dari arah yang terkadang tidak kita sangka-sangka.

Saat pindah itu, nyokap gw bilang kalau nyokap bingung harus gimana, dan bokap gw menjawab, ”sabar aja, semua ada hikmahnya”, dan ternyata benar adanya, kesabaran InsyaAllah akan selalu berbuah manis. Yang penting tetap berusaha dan berpikir positif, tentang hasilnya, Dia selalu punya rencana.

Satu lagi, *kata nyokap gw juga :D*, jangan lupa bersyukur saat menikmati buah kesabaran tersebut yaa..

*Waduhhh… jadinya meni panjang kiye… lage na ureung nyang baca mantong… ndak ba a-ba a lah, namonyo se usao ->ternyata tetap ga bisa serius2 amat, terbukti dengan ke-GeJe-an bahasa kalimat ini..😛 *

2 responses to this post.

  1. Posted by febrian on March 12, 2011 at 2:11 pm

    hicha : pas lg blog walking, sy mampir ke blogmu juga, ceritamu inspiratif, cha, tetap semangat, untuk terus bisa bermanfaat bagi orang lain, Insya Allah…ksempatan itu pasti akan datang, Insya Allah…kesabaran akan berbuah manis, he..he…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: