That’s What Friends are For

Kurang lebih dua tahun yang lalu, saya pernah menulis tentang salah seorang sahabat saya di blog ini. Kali ini saya juga ingin menulis tentang sahabat saya yang lain. Intinya, saya sedang ingin ngegosip lagi😛.

Sahabat saya kali ini, kita sebut saja A *postingan yang dulu saya sebut X dan saya pikir sepertinya akan ada gosip-gosip tentang orang yang lain lagi, jadi kita urut saja dari abjad pertama :-p*. A ini seangkatan dengan saya, tetapi beda jurusan. Kami pertama kali bertemu dan berkenalan di acara pertemuan perdana sebuah unit yang sama-sama kami ikuti.

Pendiam. Demikian kesan saya saat itu, dan mungkin begitu pun juga saya terkesan olehnya. Semua biasa saja, tidak ada yang mempesona *halah, bahasanya kayak lagu-nya Vidi aja*. Sampai kemudian saya pindah ke asrama, tempat dia juga tinggal sejak awal kuliah.

Saat itu, asrama itu hanya berisi 5 orang dengan saya. Masing-masing cukup dekat satu sama lain, meskipun dari jurusan bahkan angkatan yang berbeda-beda. Kalau saya pribadi, mulai merasa nyaman dengan mereka, sejak mereka mengajak saya ke kamar salah satu penghuni yang lain, untuk beraksi aneh-aneh dengan musik yang kemudian direkam dengan kamera digital.

Saat itu, tentu saja saya masih malu-malu, sehingga tidak berekspresi dengan bebas. Begitu juga dengan dia, yang meskipun masih satu sekolah dengan dua penghuni yang lain, tapi tetap saja dari angkatan termuda. Tetapi setidaknya kejadian itu menjadi kunci untuk membuka pintu kedekatan antar-penghuni.

Setelah itu, kedekatan kami berjalan secara natural. Terjadi begitu saja secara alamiah. Karena hal-hal kecil dan mungkin sebenarnya remeh-temeh tetapi semakin membuat saya dan dia saling mengerti satu sama lain.

Tentu saja saya pernah kesal dengan satu-dua sikapnya, dan saya yakin demikian juga dengan dia. Masing-masing kita memang bukan manusia sempurna, bukan? Tapi itu bukan alasan untuk pada akhirnya tidak bersahabat lagi bukan?

Satu kejadian yang sangat berkesan bagi saya adalah, ketika pada suatu waktu, kami sama-sama menjadi panitia sebuah acara yang diadakan oleh unit yang sama-sama kami ikuti. Saat itu, saya menjabat jadi sekretaris, jadi sudah sewajarnya, segala pekerjaan administratif dan surat menyurat menjadi tanggung jawab saya.

Suatu hari, saya merasa sangat-sangat terbebani. Saya merasa tidak mampu dengan semua hal yang harus saya kerjakan. Saya mengeluhkan tentang tugas kesekretariatan yang cukup banyak dan berulang-ulang, belum lagi ketika itu saya harus mengerjakan beberapa tugas kuliah sekaligus yang salah satunya adalah menuliskan 100 jenis algoritma berbeda di kertas yang berbeda dan harus tulis tangan. Ya, tulis tangan! *tugasnya sih ga seberapa, tapi harus tulis tangannya itu lho…*, dan puncaknya adalah ketika pas saat itu saya *lagi-lagi* bermasalah dengan… orang spesial dari 2-3 tahun masa hidup saya sebelumnya *halah.. mau sebut mantan pacar aja susah benerrrr… :P*.

Disitulah saya meledak. Saya menangis, dan sejujurnya itu adalah memalukan. Yah, arogansi saya melarang saya untuk menangis. Bagi saya tangis adalah suatu bentuk pengakuan kelemahan *padahal ga segitunya kalleee yaa??  :P*. Tapi kenyataannya saya menangis juga.

Saat itu dia menolong saya dengan cara berbeda. Tidak, dia tidak menghibur saya dengan mengatakan “Sabar ya cha… dst”, tapi dia justru mengatakan “Cha, semua juga sibuk, semua juga capek, semua juga punya masalah. Jadi nggak usah sebegitunya. Beresin aja satu-satu. Toh, yang lain juga begitu.”

Saya tersentak, dan tiba-tiba merasa bahwa saya ini benar-benar lemah. Lemah karena mengeluh ini-itu *bahkan sampai nangis gethooh… :P*. Padahal sebenarnya tidak sebegitunya. Lemah karena sudah mengeluarkan air mata untuk suatu hal yang sebenarnya tidak seberapa, atau malah mungkin belum apa-apa dibandingkan yang lain. Lemah karena sudah menangis…

Saat itu saya sadar dan jadi malu sendiri. Iya, memalukan rasanya mengeluhkan ini-itu padahal sebenarnya *ya itu tadi…* tidak sebegitunya.

Saat ini saya dan A masih bersahabat. Kami masih suka bercerita tentang apa saja satu sama lain. Satu hal yang juga berkesan buat saya, kami sangat sering menertawakan kesedihan kami. Jika salah satu dari kami merasa tidak tenang *bahasa gampangnya: lagi bete atau ga jelas :P*. Maka kami akan menelepon yang lain dan menertawakan ke-bete-an kami itu. Pada akhirnya, toh, ke-bete-an dan ke-ga jelas-an itu akan hilang dan memang patut ditertawakan, bukan? hahaha… *tiba-tiba pengen ketawa :P*

Semoga saat ini dan seterusnya saya dan dia masih terus bersahabat, karena satu sahabat terasa terlalu sedikit sedangkan satu musuh itu akan terasa sangat banyak. *kok kayaknya peribahasanya ga nyambung ya? Ga pa-pa lah ya… biar cepet beres ni tulisannya… :P*

5 responses to this post.

  1. wah, ini sih cerita pas awal asrama bgt
    tia ada liat rekaman video kalian di kak ros..

    so, kpn icha tulis ttg tia?

    Reply

  2. Posted by aldi on August 9, 2010 at 10:55 am

    mantap abis…
    btw, kyknya gw tau ini unit apa dan acara apa?
    hahahahha

    Reply

  3. Posted by Vee on August 29, 2010 at 5:32 am

    hehehehe… ichaaa, lg bicarain npy bukan?? jagi geer

    huwaaaaa, btw npy kangeeeeeen banget ngumpul2 n crita2 ma icha lagi..

    i never thought that work can be stressing like this.

    kangeeeeeeeen………..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: