Ga tau ni judulnya apa

Back to Bandung, being separated with people I love the most. Saya jadi ingat, pembicaraan dengan seorang teman waktu SMA dulu. Kami setuju bahwa mati muda adalah jalan terbaik, karena merasa tidak akan sanggup menghadapi kenyataan ditinggal orang yang kita sayangi. Akhir-akhir ini, saya berpikir bahwa itu adalah alasan yang sangat egois. Bagaimana tidak, kita tidak siap merasa sedih karena ditinggalkan dan kita berharap kita saja yang meninggalkan. Jika memang demikian apakah kita tidak memikirkan bagaimana perasaan mereka yang kita tinggalkan? Bagaimana kedua orang tua akan merasa sangat kehilangan anaknya yang sudah dilahirkan dan dibesarkan? Bagaimana perasaan orang-orang yang kita sayangi dan menyayangi kita, ketika kita tinggalkan?
Tidak, bukan saya berharap agar orang-orang yang saya sayangi itu supaya meninggalkan saya, atau saya sudah siap ditinggalkan. Tapi, hanya ingin mencoba untuk berpikir lebih bijaksana, bahwa apapun yang terjadi, begitulah menurut yang terbaik menurutNya. Kelahiran-kematian, pertemuan-perpisahan, mendapatkan-kehilangan, semua dijadikanNya berpasang-pasangan. Hanya ingin mencoba untuk bisa qanaah dalam menerima semuanya.
Saya jadi teringat kedua orang tua saya. Keduanya sudah hampir setengah abad usianya, menikah sejak 23 tahun yang lalu dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa masalah yang berarti. Entah mengapa saya merasa, hal yang paling berat bagi keduanya adalah hidup terpisah dengan kedua anaknya, saya dan adik saya. Saya merasa mereka masih ingin hidup berdekatan dengan saya, tidak hanya secara mental tapi juga fisik. Melihat saya dan adik saya tumbuh dewasa, belajar memaknai kehidupan, dan sebagainya. Mungkin inilah ego seorang anak, bukan karena saya tidak menyayangi keduanya, tapi saya juga ingin mewujudkan cita-cita saya. Membahagiakan keduanya dengan cara saya. Mungkin mereka tidak mengharapkannya, tapi saya merasa beginilah cara saya.
Mengingat keduanya berarti mengingat keduanya. Ya, benar-benar keduanya. Tidak hanya ayah saja, atau ibu saja. Tapi ayah-ibu. Saya merasa keduanya saling menguatkan, saling mengeratkan. Jika memang harus kehilangan salah satu, saya tidak akan sanggup melihat salah satunya lagi ditinggalkan, bukan berarti saya sudah siap kehilangan keduanya, tapi entahlah… mungkin ini juga ego seorang manusia biasa seperti saya. Yah… semoga kita bisa memaknai segalanya dengan bijaksana.

One response to this post.

  1. Posted by geundret on October 18, 2008 at 9:32 am

    ho0ho0ho0
    semangat ya jeng
    meninggalkan atau ditinggalkan

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: