Cerpen neh…

Sesuatu yang Biasa Itu Ada

Jika manusia boleh memilih menjadi apa yang menurutnya terbaik, maka manusia itu akan memilih menjadi cantik, kaya, dan pintar. Tapi manusia tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terbaik baginya. Mungkin terkesan menggurui, tapi memang begitulah kenyataannya.

Adalah seorang manusia, sebut saja namanya B. Dia dilahirkan dengan segala kesempurnaan yang sudah sepatutnya disyukuri. Dia pintar, tampan, dilimpahi harta yang cukup, dan yang paling penting dia baik hati. B terlihat mensyukuri apa yang dia miliki. Tak pernah dia ingin lebih pintar, lebih tampan, ataupun lebih kaya. Tapi dia selalu ingin menjadi lebih baik, karena parameter menjadi baik itu bukan hanya oleh orang-orang bermata yang melihat ketampanan, orang pintar yang menilai seseorang melalui sebuah kecerdasan, atau orang materialistis yang menilai segala sesuatu dari harta. Si B ingin terus lebih baik sampai suatu hari dia berjumpa seseorang yang agak berbeda darinya. Sebut saja namanya N. N tidak cantik, meskipun tak bisa dibilang jelek. Dia tak pula pintar, meskipun tak tergolong manusia ber-IQ jongkok. Dan dia tak pula kaya meskipun dia tak pernah kekurangan makan.

Bagi B, N jelas gadis biasa-biasa saja dan bagi N, B jelas sempurna. Keduanya tak berniat untuk memiliki satu sama lain. B tak ingin memiliki N karena menurutnya banyak yang lebih baik dari N, begitu pula N, tak ingin memiliki B karena bagi N, B pantas mendapat yang lebih baik.

Keduanya bertemu dan berkenalan secara biasa. Bicara dan bercerita secara biasa, bercanda secara biasa, berteman secara biasa, semuanya biasa hingga biasa itu pun jenuh akan ke-biasa-annya

“Aku jenuh dengan kita” ucap B suatu hari

“Maksudnya?” tanya N tak mengerti

“Ya, kita menjalani hidup seperti ini terus menerus. Bangun, mandi, makan, sekolah, bertemu, bercerita, seperti itu terus setiap hari” B mulai menjelaskan. N diam saja. Dahinya berkerut karena masih belum mengerti akan maksud orang cerdas seperti B.

“Kita pacaran saja.” Ujar B spontan.

“Bima!!” N terkejut. Ia yakin B atau Bima tak pernah memiliki perasaan lebih padanya dan begitu pula ia. Tapi ucapan Bima datar tanpa ekspresi seolah-olah dia berada di puncak kejenuhan.

“Nita, sejak awal kita tidak pernah punya perasaan satu sama lain, dan itu biasa. Aku sudah bosan dengan segala yang biasa. Kita pacaran dengan beda, bagaimana mau tidak?’

“Pacaran yang beda itu bagaimana?’ tanya Nita alias N.

”Kamu belum pernah pacaran?” Nita menggelengkan kepalanya. Dia masih belum mengerti apa yang diinginkan Bima sebenarnya.

“Jujur Bim, aku memang belum pernah dan tidak akan pernah pacaran. Tapi, aku ingin tahu apa maksud kamu dengan pacaran yang nggak bisa itu.”

“Setahuku, orang pacaran itu yang dilakukan ya…. mesra-mesraan, saling kasih sayang atau entah apalah namanya. Dan itu biasa banget. Aku ingin kita pacaran dengan gaya beda.”Bima mencoba menjelaskan tapi tetap tak jelas bagi Nita.

“Bim, tolong jangan berbelit-belit. Aku tahu, aku masuk ke sekolah terbaik di negara ini karena keberuntungan dan aku harap kamu jangan meremehkan aku hanya gara-gara itu.” Nita mulai bosan dengan teka-teki biasa dan tak biasa Bima.

“Ok..ok..! aku akan jelaskan sejelas-jelasnya. Aku harap kamu dengarkan baik-baik ya….” Nita diam saja.

“Aku ingin kita tidak saling bertegur sapa satu sama lain tapi kalau ada orang yang bertanya, kita katakan kalau kita pacaran. Lalu jika orang lain ada nge-date-nya kita juga nge-date tapi di sekolah saja dan tanpa berkata apa-apa.” Jelas Bima.

“Bim, kamu aneh.” Nita kemudian berlalu.

Keesokan harinya Bima dan Nita kembali bertemu. Bima tak mengungkit permintaan anehnya kemarin. Mereka berbincang-bincang tentang sekolah seperti biasa. Meskipun demikian, Nita tidak bisa melupakan permintaan Bima kemarin. Ia berpikir, mungkin memang begitu cara berpikir orang sesempurna Bima.

“Nit, kamu sudah memikirkan permintaanku kemarin?” Tanya Bima.

“Sudah” jawab Nita singkat.

“Lalu?” Bima menunggu jawaban Nita.

“Jujur, sebenarnya aku belum mengerti. Tapi, mungkin kalau aku menjalaninya aku bisa tahu apa sebenarnya maksud kamu.” Jawab Nita. Jawaban itu dengan jelas menyatakan bahwa Nita bersedia memenuhi permintaan Bima. Meskipun atas dasar ke-ingintahu-an.

Dan kemudian mereka berpacaran seperti keinginan Bima. Bima mengatakan kepada semua orang yang dikenalnya bahwa dia dan Nita kini sepasang kekasih. Tapi, sejak hari ketika Nita mengabulkan permintaannya, Bima tak pernah mau lagi bicara dengan Nita. Bahkan hanya sekedar menyapa pun ia enggan. Nita heran. Sebenarnya apa yang Bima inginkan. Begitu juga teman-teman Bima dan Nita.

“Nit, kamu benar jadian sama Bima?” tanya Adeline sahabat Nita sejak kecil.

“Kamu tahu dari mana?” Nita balik bertanya.

“Mungkin seluruh sekolah sudah mengetahuinya. Bima sibuk menggembar-gemborkannya.”

“Terserah kamu, deh! Anggap saja yang Bima katakan itu benar.” Jawab gadis itu dan kemudian ia ingin berlalu. Tapi Adeline menahannya.

“Tunggu, Nit!” Nita berbalik.

“Apalagi?”

“Kamu tahu, tidak? Anak-anak semua mengira kamu memberi guna-guna pada Bima. Bukan maksudku mengatakan hal itu. Tapi, maaf, menurut mereka kamu tidak cantik, tidak pintar, ataupun kaya. Jadi mereka heran mengapa Bima sampai memilihmu. Lagipula, sudah seminggu ini aku tidak pernah melihatmu bersamanya. Dulu, meskipun kalian tidak begitu dekat, tapi kalian selalul saling menyapa bila bertemu. Sekarang? Yang kulihat sepertinya Bima menghindar.”

“Del, kalau memang kamu percaya kata-kata mereka, itu terserah kamu. Tapi yang pasti, aku tidak seperti itu.” Nita kembali beranjak menjauhi Adel. Ia sudah mendengar gosip itu sejak dua hari yang lalu. Penggemar-penggemar Bima yang iri padanya, yang mulai menyebarkan gosip itu.

“Nita! Sejak kapan kamu begitu?” Adel berhenti sejenak. Bukan maksudnya membuat sahabatnya itu tersinggung. Mereka telah bersahabat sejak kelas empat SD dan tak ada yang disembunyikan di antara keduanya.

“Kita sudah bersahabat bukan satu-dua tahun, Nit. Biasanya kamu selalu mengatakan masalahmu. Tapi, kalau memang kamu tidak percaya lagi, ya.. sudahlah!!” keduanya terdiam beberapa saat.

“Nita, mungkin Bima memang idola cewek-cewek satu sekolah ini. Tapi, kalau dia memilih kamu cuma karena ingin menghindari penggemar-penggemarnya, sebagai sahabat aku tidak bisa terima itu.” Sambung Adeline lagi. Nita terdiam. Ia baru menyadari hal yang diucapkan Adel tadi. Mungkin saja itu benar. Mungkin saja Bima memintanya untuk jadi pacarnya karena ia ingin meghindari cewek-cewek yang secara terang-terangan menyatakan suka. ‘Tapi kenapa aku, ya?’ pikir Nita. ‘padahal aku tak terlalu dekat denganya. Lagipula, kalau memang seperti itu, kenapa tidak terus terang saja? Kenapa harus bicara aneh, tentang kejenuhan pada sebuah ke-biasa-an. Nita beranjak. Ia harus mencari Bima dan menanyakan yang sebenarnya. Tak didengarnya Adeline yang berteriak memanggilnya, menuntut penjelasan seorang sahabat dari Nita.

“Bima, aku ingin bicara.” Ucap Nita langsung ketika menemui Bima di kelasnya.

“Aku kan sudah bilang, kita hanya bicara di luar sekolah.” Jawab Bima pendek. Dari wajahnya terlihat bahwa ia enggan berbicara dengan Nita. Gadis itu heran. ‘Apa mau anak ini sebenarnya?’ pikir Nita lagi.

“Oke. Aku tunggu kamu di gerbang sekolah setelah pelajaran terakhir.” Dan ia meninggalkan Bima menuju kelasnya sendiri. Tapi sebelum ia keluar dari kelas tersebut tiba-tiba ia berbalik. “Kamu harus datang atau aku akan mengatakan yang sebenarnya pada yang lain.” Ancamnya. Bima tersinggung. Ia memang pernah diancam sebelumnya, oleh fans-nya yang takut ditolak, atau oleh cowok-cowok penggemarnya yang merasa terhina karena pacar-pacar mereka berpaling padanya. Tetapi ia tidak terima kalau orang yang mengancam itu adalah Nita. Karena menurutnya, harusnya Nita berterimakasih atas tawarannya tempo hari. Karena mengingat seperti apa Nita secara fisik, intelegensi, dan materi, tidak ada alasan baginya untuk menyukainya.

Beberapa orang yang berada di kelas itu memperhatikan Nita. Mereka sudah mengetahui keduanya telah jadian, meskipun kurang percaya karena mereka tidak pernah melihat keduanya jalan bersama. Dan lagi mendengar pembicaraan keduanya tadi, tidak terlihat seperti orang yang sedang pacaran. Mata Nita diliputi kemarahan, sedangkan Bima diliputi ke-enggan-an yang diikuti ke-tersinggung-an setelah mendengar ancaman Nita. Tapi semuanya enggan berkomentar. Kecuali beberapa yang cewek yang nge-fans dengan Bima dan Adeline yang kebetulan sekelas dengan Bima.

“Bim, sebagai sahabat Nita aku mau nanya. Sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian berdua?” tanya Adeline.

“Maaf, Del! Aku belum bisa menjelaskannya sekarang. Nanti kamu tanyakan saja pada Nita kalau semuanya sudah beres.” Jawab Bima. Adel tidak mengatakan apa-apa lagi. Mungkin dia memang tidak boleh terlalu ikut campur meskipun Nita adalah sahabatnya sendiri.

Sepulang sekolah Bima membereskan bukunya dengan malas-malasan. Ia masih tersinggung pada ancaman Nita tadi. Tapi mengingat ancaman itu sendiri, ia segera memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. ‘Apa yang ingin dibicarakan Nita, ya?’ tanyanya dalam hati.

Bima tiba di gerbang sekolah lebih dulu. Ia celingak-celinguk mencari Nita. Mungkin pelajarannya belum selesai. Atau barangkali ia dihukum lagi karena lupa mengerjakan PR. Bima tersenyum mengingatnya. Nita pernah mengatakan kalau ia punya penyakit lupa yang parah. Ia kerap lupa nama temannya sendiri ketika terlalu bersemangat bercerita. Ia juga sering lupa mengerjakan tugas dan lupa pada hal-hal lain. Bima ingat, mereka bertemu pertama kali di kantin pada hari senin. Saat itu Bima bolos upacara. Ia sedang menikmati baksonya ketika dilihatnya seorang gadis dengan sepatu berbeda mendekatinya.

“Kamu bolos upacara, ya?” tanya gadis itu setelah duduk di sebelahnya. Bima hanya mengangguk. Ia terlalu menikmati baksonya. “Kamu tahu tidak kenapa aku sampai di sini?” tanya gadis itu lagi. Bima tak menjawab. Dugaannya gadis itu dikeluarkan dari barisan karena memakai sepatu yang berbeda kiri dan kanannya. “Aku salah pakai sepatu. Sebenarnya, Bu Tami menyuruhku pulang, tapi kupikir lebih baik bolos sekalian daripada harus pulang cuma untuk mengambil sepatu. Lagipula semua orang juga sudah tahu, hari ini kita datang ke sekolah hanya untuk upacara karena sebentar lagi ada acara temu alumni. Memangnya alumni-alumni itu peduli pada sepatu apa yang aku pakai?” Nita menceracau sendiri. Bima heran. Kalau ia tak salah dengar dari pengumuman Kepala sekolah, temu alumni diadakan hari sabtu. Sedangkan ini jelas-jelas hari senin.

“Setahuku temu alumni itu hari sabtu besok. Kamu dapat informasi dari mana?” akhirnya Bima buka suara.

“Dari papan pengumuman. Disitu ditulis temu alumni diadakan tanggal dua tujuh.” Jawab Nita yang dilanjutkan dengan teriakannya pada Ibu kantin untuk memesan makanan. Dahi Bima berkerut sesaat. Kemudian ia tersenyum. “Kamu lupa atau pikun, ya? Hari ini baru tanggal 22. jauh banget melencengnya.” Jelas Bima. Nita yang sedang menyeruput teh hangatnya tersedak.

“Hah??! Jadi bukan hari ini, ya? Aduh…gawat dong!!! Gimana nih? Aku belum ngerjain tugas lagi.” Nita panik. Bima semakin tertawa.

“Ya sudah… kamu sekalian saja bolos sehari. Temani aku di sini.” Tukasnya pada gadis yang jelas-jelas sedang panik di sebelahnya.

“Kenapa aku harus menemani kamu? Memangnya kamu siapa? Kamu sendiri kenapa bolos? Tidak tahu ya biaya sekolah itu mahal? Lagi pula kamu mau tanggung jawab kalau aku dihukum?” Nita yang panik memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan tanpa jeda.

“ Oh iya, kita belum berkenalan, ya? Kenalkan namaku Bima. Kamu siapa?” Bima menyodorkan tanganya yang dibalas dengan dengan pandangan heran Nita. Tapi Nita tidak menggantungkan uluran tangan itu selamanya, karena akhirnya ia membalasnya. “Nita” jawabnya pendek.

“Jadi kamu tetap bersikeras mau pulang dan mengganti sepatu itu?” tanya Bima. Ia diam saja. “Percuma saja, lho! Ketika kamu kembali, satpam pasti sudah mengunci gerbang sekolah. Kalaupun kamu berhasil membujuknya, kamu toh belum mengerjakan PR. Bisa saja kamu malah dapat hukuman dua kali. Yang pertama karena terlambat dan yang ke dua karena tidak mengerjakan tugas. Kamu mau?” Tanya Bima menakut-nakuti dengan gaya yang sangat santai. Tapi, justru dengan gaya yang santai itu, Nita jadi berpikir dua kali untuk pulang. ‘Benar juga yang dibilang anak ini. Daripada nanggung, mending bolos aja sekalian.’ Nita akhirnya memutuskan tidak akan pulang. Beruntungnya lagi ternyata hari itu dewan guru rapat, jadi PR yang diberikan dikumpulkan minggu depan. Hal itu diketahui Nita dari Denis, teman sekelasnya, yang tiba-tiba saja muncul di kantin di tengah-tengah pelajaran diikuti penghuni sekolah lain yang berjejal memesan makanan di sana.

Khayalan Bima terhenti ketika dilihatnya sosok kurus berambut pendek dalam seragam putih abu-abu mendekatinya.

“Maaf, aku harus membersihkan kelas dulu karena besok aku piket dan aku bukan tipe orang yang bisa datang ke sekolah lebih awal.” Jelas Nita. Bima diam saja. Mereka berjalan beriringan menuju tempat parkir.

“Kita bicara di mobilku saja. Tak enak bicara di sini.” Ujar Bima. Nita mengikutinya menuju mobil Bima yang terparkir paling ujung.

“Jadi, apa yang ingin pacarku bicarakan?” Bima tersenyum jahil, mencoba untuk bercanda. Ia tak ingin terlihat bahwa tadinya ia tersinggung atas ancaman Nita.

“Kamu jangan bicara seperti itu. Aku jadi geli. Aku memang bilang bahwa aku mau terima kamu. Tapi, bukan karena aku suka sama kamu atau karena kamu nembak aku. Aku pernah bilang, kan kalau aku menerima kamu karena aku ingin tahu, bagaimana pacaran yang tidak biasa yang kamu bilang itu. Jadi, kamu tidak usah sok romantis-romantisan seperti itu.” Nita bicara dengan cepat. Bakat bawelnya keluar. Bima menjadi semakin tersenyum. ‘Nita, nita, kamu ini polos juga, ya?’ pikir Bima. Rasa tersinggungnya telah menguap entah kemana.

“Oke, jadi apa yang ingin kamu bicarakan?” tanyanya lagi, kini mengganti kata ‘pacarku’ dengan ‘kamu’.

“Aku hanya ingin tahu, apa benar yang dikatakan Adel, kalau kamu nembak aku supaya penggemar-penggemar kamu mundur karena tahu kamu sudah punya pacar. Benar begitu?”

“Adel bilang begitu?” Bima balik bertanya. Nita mengangguk. Ia mencari jawaban di wajah Bima.

“Tentu saja tidak, Nita…! aku kan sudah mengatakan sebelumnya. Aku jenuh dengan ke-biasa-an hidup ini. Aku ingin coba yang beda. Kupikir pacaran dengan orang yang tidak kusukai merupakan salah satu caraku mendobrak ke-biasa-an itu.” Jelas Bima. Ia heran, siapa yang menyebar gosip murahan itu.

“Kalau memang begitu, kenapa kamu tidak pacaran sejenis saja? Di negara ini pacaran sejenis itu beda.” Jawab Nita. Bima kaget mendengar jawabannya.

“Maksud kamu aku jadi gay, begitu?” Bima ingin memperjelas pertanyaannya. Nita mengangguk. Wajahnya seperti bersungguh-sungguh mengharapkan Bima menambah jumlah kaum homoseksual di Indonesia.

“Kamu gila, ya? Kamu pikir aku senekat itu? Dengar, ya!! Aku masih normal. Mungkin aku jenuh, tapi tidak pernah terlintas di pikiranku untuk menyukai sesama jenis untuk menghilangkan kejenuhanku. Kamu bicara seperti itu, sama aja dengan merendahkan aku, tahu??!!” Nita kaget. Belum pernah dilihatnya Bima semarah itu. Selama ini mereka memang tak terlalu dekat. Tetapi, reputasi Bima, setahu Nita, sangat bagus. Dia tak hanya pintar, tajir, dan cakep, tapi juga tidak pernah terlibat masalah. Nita tidak menyangka dibalik kepopulerannya, ternyata Bima cukup tempramental. Tiba-tiba saja Nita merasa bersalah akan pertanyaannya. “Maaf, Bim! Aku tidak bermaksud merendahkan kamu. Habis kamu aneh, sih… aku kan jadi bingung. Kamu marah, ya? Jangan marah dong…! aku jadi tidak enak, nih…!!!” pinta Nita penuh penyesalan.

“Mungkin ini tidak sepenuhnya salah kamu kok, Nit. Aku juga salah sudah membuatmu bingung. Aku juga minta maaf, deh!” Keduanya terdiam beberapa lama.

“Sebaiknya aku antar kamu pulang.” Bima memecah keheningan.

“Nita, kalau kamu keberatan dengan permintaanku tempo hari, kamu boleh kok mutusin aku sekarang.” Ucap Bima setelah menyalakan mesin mobilnya.

“Mmm…” Nita terlihat berpikir sesaat. “Begini saja, kamu ingin sesuatu yang beda, kan?” tanya Nita. Bima tak menjawab, ia kelihatan berkonsentrasi dengan mobilnya. Tapi Nita tahu ia mendengarkannya.

“Bagaimana kalau kita tetap jadian, kita jalani rutinitas pacaran seperti orang lain, tapi tetap tanpa perasaan apa-apa.” Nita mencoba menjelaskan maksudnya.

“Maksud kamu?” Bima balik bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.

“Ya, itu tadi.kita jalani rutinitas pacaran seperti orang lain. Malam minggu kamu ke rumahku, jangan lupa bawa coklat. Terus, setiap pagi kamu jemput aku dan pulang sekolah kamu anterin aku. Gimana?”

“Jadi maksud kamu aku berlaku sebagai pacar kamu, meskipun aku tidak punya perasaan apa-apa?” Bima kembali bertanya. Nita mengangguk.

“Kalau begitu enak di kamu dong? Aku jadi supir kamu dan kamu dapat coklat tiap malam minggu? Kamu ngasih apa dong ke aku?”

“Lho, tapi katanya kamu menginginkan sesuatu yang beda. Aku kan hanya memberi alternatif. Mau syukur, kalau tidak, tidak apa-apa kok! Kan beda tuh, kamu melakukan sesuatu yang seharusnya untuk orang yang kamu sayang, tapi ini untuk orang yang biasa-biasa saja buat kamu.” Bima berpikir sesaat.

“Iya juga, sih.” Bima mulai membenarkan perkataannya, meskipun terlihat bahwa ia masih mempertimbangkan.

“Bagaimana kalau suatu saat aku jadi beneran suka ke kamu? Itu kan balik lagi ke keadaan sekarang di dunia ini? Sangat ‘biasa’?” Bima masih berpikir.

“Bima, kalau kamu memang pengen bener-bener beda, ya.. kamu harus break the rule seperti tadi, jadi gay! Kamu mau? Kalau kamu mau, ya sudah itu hak kamu. Paling sebagai sesama makhluk Tuhan aku cuma bisa mengingatkan.”

“Oke, aku setuju dengan permintaan kamu. Berlaku sebagai pacar meskipun tidak memiliki perasaan sebagai pacar.” Akhirnya Bima menyetujui saran Nita. “Dan kalau suatu saat aku benar-benar suka sama kamu, mungkin aku telah sembuh dari penyakit ke-jenuh-anku. Deal?” Bima mengulurkan tangannya, meminta kerja samanya.

“Dengan satu syarat, meskipun berlaku sebagai pacar, tapi aku tidak mau ada kontak fisik, bahkan berpegangan sekalipun. Oke?” Ucap Nita mengajukan syarat.

“Ya, nggak bisa dong….! Enak saja! Aku kan mau berkorban buat kamu. mengantar-jemput, malam minggu ke rumah kamu, memberi coklat lagi. Jadi kalau aku minta sedikit service boleh-boleh saja dong…!” Bima berusaha mencari celah untuk mengerjai Nita.

“Eh, kamu tu gimana sih? Aku juga sudah berkorban kan? Aku rela-rela saja dikatai melet kamu, aku rela-rela saja pacaran sama kamu meskipun kamu tidak punya perasaan apa-apa. Itu kan salah satu bentuk pengorbanan. Apa itu belum cukup? Kamu mau lebih? Enak saja! Memangnya siapa kamu? Bahkan…”

“Iya…iya… aku cuma bercanda, sayang…. kamu cerewet juga, ya?” Bima memotong ucapan Nita yang belum selesai. Mendengar kata ‘sayang’, wajah Nita bersemu merah. Ia langsung terdiam. Tapi kemudian ia berhasil mengendalikan perasaannya.

“Tidak usah sok romantis-romantisan deh, pakai sayang-sayangan segala. Nanti aku jadi naksir kamu beneran.” Nita berusaha mengucapkan kalimat itu dengan santai. Bima tersenyum, fisik dan materinya menjadikannya tahu perilaku cewek saat sedang malu.

“Sepertinya penyakit jenuhku sebentar lagi sembuh, nih….!” ujarnya iseng. Semburat merah semakin menjadi di wajah Nita.

“Ha..ha..ha.. muka kamu lucu kalau sedang malu. Tenang aja kekasihku, aku akan bilang kalau suatu saat aku sudah benar-benar suka, sayang, cinta, pokoknya semuanya. Sabar, ya….!” Nita benar-benar sebel pada Bima. Ia tidak tahu lagi bagaimana menyembunyikan ‘udang rebus’ dari wajahnya.

“Iiihh… ke-PeDe-an amat sih kamu! Dengar, ya… sampai dunia kiamat pun aku nggak bakal naksir kamu.” Bima semakin tertawa mendengar kemunafikan Nita. ‘Biarlah waktu yang menjawab pernyataan kamu tadi, Nit.’ Ucap Bima dalam hati sambil tersenyum. Ia tak berminat menjadikan wajah Nita semakin merah. ‘Kalau aku sudah bosan dengan ke-jenuh-anku, aku akan kembali biasa, Nita… kamu tenang saja. Karena aku tahu, sesuatu yang biasa itu akan selalu ada.” Bima kembali berbicara pada dirinya sendiri di dalam hati.

=T H E E N D=

3 responses to this post.

  1. Posted by nesca87 on July 22, 2008 at 1:49 am

    Ni cerpen, gw bikin waktu masih TPB (Tingkat 1 di ITB disebut TPB atau Tahap Persiapan Bersama). Jadi wajar kalo ni cerpen masih berbau-bau SMA.

    Reply

  2. Posted by zurumi on July 22, 2008 at 4:12 am

    “…semuanya biasa hingga biasa itu pun jenuh akan ke-biasa-annya….”

    “…sesuatu yang biasa itu akan selalu ada…”

    bener2 kalimat yang tajem dan puitis sampe2 aq kaga ngerti tu maksudnya ape…heheh

    btw ceritanya lucu, aneh, dan ga biasa…
    dan perannya sama2 aneh…yang cewek suka pelupa dan gampang dibodohi yang satu lagi cowok yang udah jenuh pacaran yang biasa,pengennya yang beda…tapi gampang dibodohi juga…hahaha

    Reply

  3. Posted by zurumi on July 22, 2008 at 4:17 am

    btw cape juga baca cerpennya…panjang2 teuing…
    ^^

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: