My Humble Opinion ’bout Success and Failure

Manusia hidup, tidak boleh statis, prinsipnya sih memang gitu. Tapi, kenyataannya kebanyakan orang segera puas jika telah mendapatkan apa yang diinginkan. Lalu orang yang kebanyakan itu berleha-leha dan menganggap perjuangan telah berakhir. Padahal yang namanya hidup tidak akan pernah lepas dari cobaan, kan? Bisa jadi dengan diberikan apa yang diinginkan justru merupakan ujian yang sebenarnya karena membuat manusia lengah.

Sebagai contoh, sebuah sekolah menengah di suatu kota di pulau Sumatera. Dulunya sekolah itu bisa dikatakan sekolah nomor satu di kota itu. Tapi kemudian penerusnya merasa sudah cukup dengan apa yang telah didapat sehingga mereka tidak berusaha meningkatkan mutunya, dan akhirnya sekolah ini masih populer, tapi populer dengan segala kekalahan akademis dan populer karena tetap merasa sebagai yang terbaik. Menyedihkan.

Kemudian jika seseorang telah mendapatkan apa yang diinginkan, tidaklah pula seharusnya orang-orang itu menjadi sombong, karena sesungguhnya yang pantas sombong itu hanyalah Sang Khalik pemilik alam semesta yang konkrit, dan kebenaran dan keadilan absolut yang abstrak.

Dan tidak pula seharusnya orang itu menjadi tamak dan terus menginginkan lebih, lebih, dan lebih. Karena sesungguhnya Allah SWT membenci segala sesuatu yang berlebih-lebihan.

Lalu bagaimana seharusnya? Idealnya sih kita tetap merasa qana’ah tapi tidak berhenti berusaha. Karena memang perkembangan zaman tidak akan pernah berhenti sebelum datangnya hari akhir. Sebenarnya, dengan mendapatkan sebuah keinginan, kita justru mendapat tambahan beban menjadi tiga kali sebelumnya. Beban untuk mempertahankan apa yang telah kita dapatkan, beban untuk mendapatkan yang lebih baik lagi, dan beban untuk menjaga hati agar tidak sombong, kikir, dan tamak.

Kemudian bagaimana jika kita tidak mendapatkan yang kita inginkan? Ada orang yang mengatakan bahwa kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Tapi sebenarnya itu tergantung bagaimana setiap pribadi menyikapi kegagalan, kalau sudah gagal kemudian berhenti, tentu saja kesuksesan tersebut tidak akan pernah datang. Atau kalau sudah gagal kemudian menjadi begitu ambisius, maka kegagalan berikutnya akan lebih menyakitkan lagi, atau jika setelah gagal datang sebuah kesuksesan, maka yang terjadi balik lagi seperti cerita kesuksesan yang perlu disikapi dengan hati-hati tadi.

Jadi intinya, sebenarnya apa sih arti kegagalan dan kesuksesan itu sebenarnya? Dari penjelasan di atas, dapat dianalisis bahwa keduanya merupakan cobaan. Jika gagal, berarti kita diuji untuk mengetahui kadar mental tahan banting, sabar, dan sifat ulet; sedangkan ketika kita sukses mendapatkan apa yang kita inginkan, sebenarnya kita tengah diuji tentang kadar sifat sombong, tamak, kikir, dan cepat puas yang ada dalam diri kita.

Memang hidup ini tidak statis dan juga tidak akan pernah terlepas dari ujian dan cobaan. Jadikan syukur, sabar, dan shalat sebagai alat untuk menyikapi kemungkinan apapun yang terjadi.

And don’t forget, SEMANGAT!!!!!

3 responses to this post.

  1. ciee… abg kita sudah beranjak dewasa… tulisannya mak nyoss…

    Reply

  2. Posted by nesca87 on July 1, 2008 at 6:37 am

    iya gitu? haduh… jadi GR dipuji ma tereliye… ^_^

    Reply

  3. nice! i’m gonna make my own journal

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: