[Movie] Hafalan Shalat Delisa

Huahh.. sudah lama sekali tidak nonton. Karena sesuatu dan lain hal, banyak film yang terlewatkan. Dan hari ini, saya memutuskan untuk memasuki kembali dunia perfilman *sebagai penonton pastinya.. :P* dengan mencoba nonton sendiri *iya, sendirian*. Film yang saya pilih “Hafalan Shalat Delisa”. Karena film ini sudah keluar sejak 22 Desember 2011, jadi saya yakin bisa dapat tempat duduk di belakang walaupun membeli tiket dekat dengan jam tayangnya.

Dan demikianlah, saya memang mendapatkan tempat duduk di belakang. Sayangnya, yang bikin awkward, di sebelah kiri-kanan saya kosong, sedangkan di sebelah bangku kosong itu dua-duanya berpasangan. heu..

Film yang diangkat dari novel berjudul sama karangan Tere-Liye ini bercerita tentang Delisa dan prosesnya dalam menghafalkan bacaan shalat, dilatarbelakangi bencana tsunami. Untuk lebih jelasnya silakan lihat review-nya disini, atau baca langsung novelnya.

Teman saya yang sudah menonton duluan agak kecewa dengan film ini. Karena menurutnya, sebagai salah satu orang yang mengalami langsung peristiwa tsunami, efek tsunami disini kurang berasa. Waktu itu komentar saya, mungkin karena fokusnya memang bukan pada peristiwa tsunaminya (seperti halnya film 2012).

Setelah menonton, komentar saya lebih kepada dialog-nya. Iya, selama film berlangsung, tidak sedikitpun terasa saya berada di Aceh saat mendengar pemeran-pemerannya berbicara. Alangkah lebih baik jika dilakukan sedikit riset tentang bahasa keseharian di Lhok Nga, sehingga bisa mendekati yang sebenarnya. Kalaupun tidak berbahasa Aceh, setidaknya berbahasa Indonesia dengan logat Aceh, seperti halnya Laskar Pelangi dengan logat melayu-nya yang kental.

Selain itu, dalam film tersebut diceritakan tentang pasukan UN, beserta dokter dan susternya yang didatangkan sebagai relawan. Diantara mereka, tersebutlah Adam Smith, seorang tentara dari US dan Sophie yang tidak diceritakan berasal darimana, yang kemudian menjadi dekat dengan Delisa. Catatan tentang Sophie, menurut saya, english-nya agak berantakan. Baik pronounciation maupun grammarnya. Kalau pun bukan berasal dari Inggris atau Amerika sebaiknya diceritakan darimana dia berasal.

Yah, itu memang komentar saya sebagai penonton yang hanya bisa berkomentar *hiks*. Tapi, terlepas dari semua itu, film ini harus diapresiasi. Setidaknya cukup bermakna daripada film-film humor slapstick maupun hantu-hantuan yang semakin tidak jelas.

Image source:

http://indonesianmoviereviw.blogspot.com
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,161 other followers

%d bloggers like this: